Seberapa Pentingkah Peran Generasi Milenial Dalam Struktur Pemerintahan Desa?

0
728

Cie ada yang sudah move on nih dari masa lampau, dan masuk ke masa sekarang ini. Tentunya dunia ini sudah mengalami berbagai variasi perubahan. Perkembangan ilmu komunikasi dan teknologi serta pola pikir manusia.

Oleh karena itu munculah persaingan sengit di era sekarang. Era yang dimanjakan dengan “keajaiban” teknologi.

Semua itu meciptakan lifestyle baru di dalam masyarakat. Dari cara berperilaku, cara belajar, dan cara menata sesuatu. Termasuk penataan dalam struktur pemerintahan dari negara hingga struktur pemerintahan desa.

Hal tersebut dijadikan alasan, kenapa para pemuda harus dilibatkan sebagai agent of change (agen perubahan). Sehingga Indonesia bisa beradaptasi dengan baik dalam kemajuan teknologi.

Bukankah itu merupakan new challange bagi bangsa kita?

Tidak perlu matang-matang untuk menentang perubahan ini. Itulah yang harusnya berlangsung di bangsa ini kan?

“Dengarlah wahai pemuda! Munculah ke permukaan dan mulailah mengudara. Kalian harus mencari akal untuk perubahan nasib ibu pertiwi. ”

“Teruslah bangun bangsa ini. Beranikan diri untuk berperan  dalam ruang pemerintahan.”

Kenapa Indonesia Butuh Banget Anak Muda Dalam Sektor Pemerintahan?

“Yang muda itu punya banyak selera. Mereka punya cadangan energi & selalu ingin belajar. Anak muda tidak sungkan lagi untuk mencoba, take a risk, failed. Walaupum seperti itu, mereka masih berani untuk mencoba kembali,”

Kurang lebih deperti itu tutur mba Najwa Shihab dalam sebuah wawancara yang diunggah di website Female Daily.

Anda sudah tau belum?

Sekarang, Ibu Pertiwi memiliki banyak anak-anak muda loh, yaitu 63,82 juta pemuda. Kalau masih belum yakin coba cek di Badan Pusat Statistik pada tahun 2019 yah.

Di tahun 2030, Bappenas meramalkan  bahwa jumlah penduduk Indonesia akan menyentuh angka 296,4 juta. Di antara mereka ada 65 juta manusia dengan usia produktif (rentang usia 25-39 tahun) dan ada 105 juta manusia dengan usia 25-49 tahun.

Baca Juga  Pemerintahan Desa Terdiri Dari Dua Komponen Penting. Apa Saja Itu?

Lalu, apa saja sih keistimewaan dan alasan kenapa anak muda harus berperan untuk negara. Baik itu memainkan peran di struktur pemerintahan negara hingga struktur pemerintahan desa.

Alasan ini terinspirasi oleh Jurnalis Ternama, yaitu mba Najwa Shihab. Yuk, scroll down ke bawah kenapa Indonesai Butuh Generasi Muda;

    1. Karena sejarah Indonesia adalah sejarah anak muda. Banyak peristiwa penting yang merupakan hasil pemikiran anak muda. Seperti; Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok dan Reformasi 1998.
    2. Karena anak muda masih mau belajar, berani beraksi di luar zona nyaman dan berani berjalan melawan arus. Mereka menyetok banyak energi dan waktu. Untuk mencoba dan gagal. Hingga berulang-ulang.
    3. Karena cuma “orang tua” yang meng-emas-kan slogan usang, “Masih enak zamanku kan?”, “Jik penak jamanku thooo?” Dulu akses anak muda untuk berpendapat ditutup. Mereka diatur-atur untuk diam. Yang akhirnya ibu pertiwi hanya bisa menggantungkan nasib bangsa pada segelintir elite saja.
    4. Karena yang tua-tua sudah sibuk dan pusing mengurus macam-macam cicilan. Merubah bangsa jangan menunggu nanti. Semakin tua maka semakin banyak urusan yang menghampiri. Semakin tua akan semakin sibuk.
    5. Karena yang “muda”, yang “punya selera.” Ngefek banget kalau anak muda tidak ikut terlibat dalam perubahan bangsa. Seperti obat batuk, habis diminum malah bikin ngantuk. Yang seharusnya buat semangat, malah akhirnya tidak bergerak.
    6. Karena cuma anak muda yang bisa buka gembok pintu VPN. Ngaku aja deh, hehe. Beda banget ya. Anak muda bisa buka pintu VPN, sedangkan hanya orang tua yang bisanya cuma blokar blokir dan main sensor ajah.
    7. Karena anak muda memiliki kemampuan self safety, ketika group whatsapp keluarga isinya sharing tentang hoax-hoax. Anak muda tidak gegabah untuk forward info yang masih abstrak.
  • Karena anak muda banyak yang sadar kalau BEDA ITU SUDAH BIASA. Ciri-ciri orang yang sudah kadaluarsa itu mereka selalu menghakimi ras, suku dan agama. Anak muda sudah berkomitmen untuk menghargai perbedaan.
  1. Anak muda seneng banget kalau kerja “rame-rame.” Mereka ingin berkolaborkasi dengan teman sebanyak-banyaknya. Anak muda zaman now tau cara bergaul tanpa menghabiskan waktu dengan sia-sia. Mereka udah melek kalau ilmu di dunia tuh banyak. Dan tidak bisa diperoleh kalau bekerja dan belajar sendirian. Oleh karena itu mereka butuh KOLABORASI.
  2. Karena zaman akan terus bergerak. Dan anak-anak muda adalah rodanya. Seperti yang dikatakan Bappenas, kalau di tahun 2020-2030 Indonesia akan ketiban bonus demografi. Banyak usia produktif yang muncul di era tersebut.
Baca Juga  Membangun Desa Swadaya Menjadi Desa Swasembada

So, welcome anak muda.

Yuk, beranikan diri mengambil peran aktif di negara ini. Dimulai penataan yang sederhana dulu aja  yaitu mulai melibatkan diri dalam struktur pemerintahan desa.

  • Desa-desa Berikut Melibatkan Generasi Muda di Ruang Pemerintahan, Desa Anda Harus Menyusul!

Sudahkah desa Anda melibatkan pemuda?

Sudahkan Anda siap menjadi tokoh di dalam Struktur Pemerintahan Desa?

Apakah Anda tau bahwa desa-desa berikut ini memilki Kepala Desa termuda, yuk simak ulasannya!

  1. Di Desa Baringin, di Kota Udang, Cirebon, Jawa Barat. Menetapkan Kepala Desa under 30k, beliau berusia 26 tahun. Agung Gunawan berhasil terpilih dari hasil pemungutan suara di hari Selasa, 3 November 2019.
  2. Di Desa Bombanon, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara (Sulut). Tanggal 14-11-2020, Gita Ratnasari Tuuk terpilih jadi Kades Bombanon. Oh iya, umur mba Gita Ratnasari Tuuk hanya selisih lebih tua 1 tahun dibanding mas Agung Gunawan.

Ya, di usia 27 tahun mba Gita sukses mencuri perhatian warga karena pemikiran dan kecantikannya.

  • Di Desa Kenjo, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Arek-arek muda Jatim sudah mulai aktif loh. Saat pemilihan Kepala Desa di bulan Oktober, warga Kenjo terhipnotis oleh kegagahan, pemikiran dan perilaku dari  Ahmad Sofyan. Pemuda usia 27 tahun bahkan sampai ditemui oleh DIPLOMASINEWS.NET. Hm, lagi-lagi yang muda deh.
  • Kepala Desa dan Perangkat Desa Difasilitasi Apa Saja Sih?
Baca Juga  Runutan Penyusunan Rancangan APBDesa 2018

Ada berita menarik nih. Ada info kalau bapak Abdul Halim Iskandar mengusulkan agar Kepala Desa bisa dapat gelar sarjana. Seru banget kan?

Eits, tapi yang berprestasi yah. Sebagai seorang Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes), beliau mengatakan kalau usulan tersebut sudah sampai dan disambut baik oleh Kemendikbud. Wah, udara segar banget nih buat ibu pertiwi.

Mau tau kan usulan yang disambut baik Kemendikbud tersebut? Yaitu, selain mengerjakan proyek skripsi. Bapak Ahmad Halim Iskandar mengusulkan proyek tambahan untuk mahasiswa yaitu mengabdi pada desa.

Mahasiswa tidak hanya buat skripsi untuk dapat predikat sarjana. Sebagai gantinya. Mereka bisa mengabdi di desa. Sehingga ilmu mereka bisa teraplikasi dengan tepat sasaran.

Menteri Mendes menjelaskan bahwa Kades punya masa jabatan 6 tahun per periode. Nah, Kades bisa menjabat tiga periode.

Jadi,  masuk akal aja sih kalau pengabdian kepala desa bisa jadi wasilah untuk mencapai gelar sarjana. Tentunya kalau desa yang mereka pimpin jadi desa yang maju dan berwawasan.

Bagaimana? Dengan niat ikhlas membangun Indonesia. Pemuda akan lebih enjoy memerankan diri di dalam struktur pemerintahan desa walau tidak se-perlente pekerjaan di kota-kota besar.

Sepertinya sudah jelas sekali. Kalau Indonesia butuh peran tambahan dalam pemerintahan. Anak muda tidak boleh pasif dan hanya diam. Anak muda harus maju dan mulai membuat Indonesia berdigdaya.

Tentunya, dimulai dari pengabdian di dalam desa-desa Anda. Jangan takut untuk memulai hal baru. Karena bisa jadi Anda adalah manusia yang dinantikan bangsa selama ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here