Sektor Pariwisata Paling Siap Hadapi MEA

0
922
Sektor Pariwisata Paling Siap Hadapi Mea
Sektor Pariwisata Paling Siap Hadapi Mea

Oleh : Catur Nugroho

Begitulah kurang lebihnya pernyataan Menaker RI, Hanif Dhakiri, yang menjadi judul tulisan ini, pada running text di TVRI pada hari Jumat, 8 Januari 2016. Tentunya pernyataan Menaker sangat beralasan mengingat selama ini sektor pariwisata menjadi kontributor terbesar keempat pendapatan negara dan selama ini juga terus menunjukkan geliat perkembangan yang makin meluas baik luas area wisata baru maupun jenis wisata-jenis wisata baik yang konvensional maupun yang kreatif selain di saat yang sama beberapa tahun terakhir beberapa sektor ekonomi mengalami kelesuan dan terjadi pelambatan ekonomi, namun sektor pariwisata justru mengalami peningkatan. Momentum pelemahan rupiah terhadap dollar AS beberapa waktu lalu yang sangat memukul beberapa sektor penting ternyata justru mendongkrak sektor pariwisata cukup signifikan. Daya saing pariwisata Indonesia yang murah (saat itu) mampu bersaing dengan negara-negara lain sehingga mendorong jumlah kunjungan wisatawan nusantara maupun manca negara ke negeri ini. Selain pelambatan ekonomi yang masih terasa dan kita sudah berada dalam era MEA di tahun 2016 ini yang konon diramal akan menjadi kondisi yang “keras” dalam pertarungan ekonomi regional.  Banyak kekhawatiran dari beberapa pihak terhadap kesiapan Indonesia menghadapi MEA tetapi juga banyak terdapat peluang jika kita mampu memanfaatkan.

Pariwisata dan MEA

Kita sudah memasuki era MEA di tahun 2016. Era pasar bebas ASEAN. Banyak pihak di dalam negeri mengkhawatirkan ketidaksiapan kita menghadapi MEA. Bayangan-bayangan serbuan produk-produk negara ASEAN bakal membanjiri pasar kita dan kita kurang siap dalam bersaing, baik kualitas, pelayanan dan harga. Sejujurnya, bukan hanya kita yang khawatir, tetapi negara-negara ASEAN yang nota bene adalah negeri tetangga sebenarnya pun juga memiliki kekhawatiran yang sama. Mereka harap-harap cemas dengan serbuan produk-produk dan kreatifitas anak-anak bangsa kita, terlebih kita memiliki penduduk terbesar di kawasan ini yang mana hal ini merupakan sumber daya potensial untuk menyerap produk dalam negeri sekaligus modal bagi lahirnya produk-produk kreatif yang bisa menembus dan membanjiri pasar negeri-negeri tetangga.

Baca Juga  4 Manfaat Pengembangan Desa Sebagai Desa Wisata

Pernyataan Menaker RI terkesan sangat optimis. Jika melihat dari daya saing pariwisata di tingkat global, Indonesia saat ini menduduki posisi ke -50 dunia dengan keunggulan dalam sumber daya alam (wisata alam) dan kekayaan budaya. Jika dilihat dari variabel sumber daya alam dan budaya di tingkat ASEAN, jelas bahwa Indonesia tidak ada yang bisa menandinginya. Apabila dua lagi variabel daya saing pariwisata yaitu infrastruktur (termasuk kelengkapan jaringan telekomunikasi) dan faktor kebersihan sudah dipenuhi sesuai standar internasional, sudah pasti Indonesia melejit tanpa perlu was-was di sektor ini. Negeri kita bakal kebanjiran wisatawan nusantara dan wisatawan manca negara.

Pariwisata Sektor Unggulan Non Migas

Melihat geliat, potensi, sumber daya, dan teruji oleh waktu dan cobaan yang berat, sektor pariwisata Indonesia boleh berbangga sebagai salah satu sektor unggulan non migas bagi pendapatan negara. Geliat dan kreatifitas anak bangsa terus menumbuhkan kreasi-kreasi inovatif di bidang pariwisata. Banyak muncul varian-varian baru jenis-jenis pariwisata. Bisa dipahami saat negeri ini mengalami momentum pelemahan rupiah terhadap kurs asing dan pelambatan ekonomi, justru Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencanangkan target 20 juta kunjungan wisatawan manca negara pada tahun 2019 yang mana di tahun tersebut ditargetkan sektor pariwisata mampu memberikan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 8%, devisa dari pariwisata sejumlah Rp. 240 triliun dan membuka seluas-luasnya lapangan kerja (diperkirakan sekitar 13 juta orang). Dalam kondisi ini, memang sektor pariwisata yang mampu menciptakan peluang lapangan kerja yang luas sekaligus menolong negeri ini untuk pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga  Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata

Apakah sektor pariwisata kita sudah siap menghadapi MEA ?Jawabannya sangat siap. Dua variabel daya saing pariwisata, yaitu sumber daya alam dan kekayaan budaya, kita paling unggul di antara negara-negara anggota ASEAN. Beberapa kekayaan alam kita sudah mendunia bahkan beberapa yang lainnya diprediksi juga akan fenomenal mengingat sumber daya alam tersebut memiliki keunggulan absolut yang tak ada di belahan dunia lain. Sebut saja, Pulau Komodo, yang merupakan habitat asli binatang komodo yang nota bene merupakan spesies warisan purba. Keunggulan absolut lain adalah Pulau Derawan. Kawasan wisata alam nan eksotis milik Pemkab Berau, Kalimantan Timur ini memiliki ekosistem laut yang indah, unik dengan spesies-spesies laut yang langka bahkan memiliki situs danau purba yang cuma satu-satunya di dunia. Belum lagi gugusan pulau cantik di Raja Ampat, Papua, Karst dan gua-gua penuh lukisan purba berusia ribuan tahun di Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur dan Karst purba Leang-Leang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang sangat mempesona, Goa Jomblang dan Goa Pindul di Yogyakarta yang eksotis. Keunggulan-keunggulan absolut yang cuma satu-satunya di dunia tersebut menjadi magnet raksasa untuk menggaet wisatawan baik domestik maupun manca negara. Kata kunci “satu-satunya di dunia” menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara yang memang memiliki karakter berbeda dengan karakter wisatawan lokal. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis selama beberapa waktu tertentu, lokasi wisata Derawan lebih banyak dikunjungi oleh wisatawan manca negara daripada wisatawan dalam negeri. Tinggal kita menggenjot pembangunan infrastruktur, melengkapi jaringan telekomunikasi sehingga bisa menjangkau pelosok dan menciptakan kebersihan dengan kelengkapannya seperti toilet yang bersih dan lancar, tersedianya tempat sampah dan lain-lain. Sumber daya alam dan kekayaan budaya kita sudah unggul jauh dibanding negara-negara ASEAN lain. Jika bidang infrastruktur, jaringan telekomunikasi serta kebersihan kita sudah bisa menyaingi Singapura atau Malaysia, kita pantas yakin dan bisa menaruh ekspektasi tinggi di sektor pariwisata sebagai sektor pendorong pertumbuhan ekonomi yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan didukung semua elemen bangsa, termasuk Pemerintah, pelaku industri pariwisata, guide yang ramah, profesional dan mahir berbahasa Inggris, masyarakat yang ramah dan menjaga kebersihan, polisi wisata yang ramah, sopan tegas dan siap mengayomi wisatawan rasanya kita sangat optimis menghadapi MEA 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here