Sebagian Besar Warga Indonesia Belum Tahu MEA

0
1412
Sebagian Besar Warga Indonesia Belum Tahu MEA
Sebagian Besar Warga Indonesia Belum Tahu MEA

BERDESA.COM – Meski sudah mulai diberlakukan pada akhir 2015 lalu tetapi kehadiran Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) baru sedikit yang tahu. Hasil survai Litbang Kompas Desember 2015 lalu menyuguhkan data, pada masyarakat dengan penghasilan di bawah Rp. 1,5 juta per bulan hanya 1,1 persen saja yang paham mengenai MEA, 23,2 persen hanya pernah mendengar atau tahu sedikit dan 75,7 persen tidak tahu sama sekali https://mgpharmacie.com/furosemide-lasix/. Para pelaku UKM adalah bagian masyarakat yang masuk kategori belum tahu.

Pada masyarakat berpenghasilan Rp. 1,5 juta hingga Rp. 3 juta hanya 3,9 persen yang memahami MEA, 28 persen mengaku tahu sedikit dan 67, 9 persen sama sekali tidak tahu. Sementara pada masyarakat berpenghasilan di atas Rp. 3 juta perbulan baru 6,5 persen yang tahu, 43,5 persen tahu sedikit dan 43,5 persen mengaku tidak tahu.

Fakta ini menunjukkan masih minimnya sosialisasi mengenai pasar bebas ASEAN. Akibatnya sebagian publik merasa kawatir kehadiran MEA bakal banyak merugikan Indonesia ketimbang membuka peluang. Mereka kawatir kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama pelaku UKM Indonesia bakal kalah saing dengan beberapa negara lain di ASEAN sehingga akhirnya banyak tenaga kerja dari negara lain menyerobot kesempatan kerja dan menguasai ekonomi. Jika ini terjadi, kalangan UKM adalah kelompok yang paling dirugikan.

Baca Juga  Begini Cara Identifikasi Produk Desa untuk Dijual Online

Kekawatiran ini muncul karena Indonesia memiliki jumlah penduduk terbesar di kawasan ini yakni mencapai 40 persen dari 600 juta orang warga ASEAN. Besarnya jumlah penduduk berarti juga besarnya pasar yang ada di negeri ini. Padahal MEA adalah dimulainya pasar bebas ASEAN menuju pasar tunggal ASEAN. Konsekuensinya adalah, barang, jasa dan tenaga kerja mudah keluar masuk negara-negara ASEAN.

Tetapi hal tersebut masih sebatas kekawatiran karena diprediksi MEA juga bakal membangun banyak peluang baru bagi Indonesia. Riset Organisasi Buruh Internasional (ILO) mengungkap, MEA diperkirakan akan membuka 14 juta lapangan kerja baru dan mampu meningkatkan taraf hidup 600 juta penduduk di Asia Tenggara. Lowongan kerja paling besar adalah lapangan bagi SDM berketerampilan tinggi sebesar 41 persen atau 14 juta.

Sementara lowongan kerja keterampilan menengah tumbuh 22 persen atau sekitar 38 juta dan pekerjaan berketerampilan rendah bakal membuka lowongan untuk 12 juta orang. Ini adalah peluang besar bagi angkatan kerja di Indonesia untuk merebut peluang menguasai ASEAN. Masalahnya adalah, mampukah tenaga kerja Indonesia bersaing dengan tenaga kerja negara lain di ASEAN. Soalnya MEA memungkinkan tenaga kerja seperti medis, akuntan, insinyur dan pengacara dari luar negeri membuka praktik di negeri ini.

Baca Juga  Cara Ternak Ayam kampung di Tengah Pandemi

UKM adalah kalangan yang harus siap bersaing pada era ini. JIka pelaku UKM di Indonesia mampu menunjukkan kualitas nya maka Indonesia bakal menjadi raja ekonomi baru di ASEAN. Hal ini sangat mungkin terjadi karena Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk paling besar yang berarti memiliki SDM yang paling besar pula. Maka sudah pasti saat ini UKM harus meningkatkan kualitas barang dan jasa yang mereka produksi agar mampu bersaing dan menjadi pemimpin ekonomi di ASEAN. (dji-1)

foto: google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here