Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata

0
985
Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata
Restrukturisasi Pelayanan Pada Desa Wisata

Oleh : Catur Nugroho

BERDESA.COM – Sebagaimana diketahui bahwa negeri kita dilimpahi kekayaan sumber daya alam, keindahan alam dan keragaman budaya yang menghampar dari Sabang sampai Merauke. Tak salah jika Indonesia mendapat julukan Negeri Jamrud Khatulistiwa. Jika berbicara tentang potensi alam Indonesia untuk industri pariwisata, bisa sangat panjang, tiada habisnya karena melimpahnya kekayaan alam dan budaya yang menghampar. Akan sangat sayang jika kita tak bisa memanfaatkan sebaik-baiknya karunia Tuhan ini untuk membangun desa dan warganya dalam sebuah desa wisata. Menjadi salah satu negara tujuan pariwisata internasional, semua elemen bangsa negeri ini harus berbenah, mulai dari Pemerintah beserta jajarannya (sampai ke tingkat Desa) terutama instansi terkait, pelaku usaha pariwisata dan masyarakat di sekitar area wisata. Dengan berbenah di segala lini, diharapkan sektor pariwisata dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada pemasukan negara, karena menguatnya sektor wisata dengan kunjungan wisatawan yang deras berefek pada pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar yang biasanya berwirausaha di seputar ekonomi kreatif (suvenir, dll), dan jasa layanan wisatawan (penginapan, persewaan alat transportasi, dan lain-lain).

Restrukturisasi Fisik

Selain faktor infrastruktur (jalan, air bersih, pelabuhan, bandara, dan lain-lain) dan transportasi publik, sebagaimana yang dirilis dalam indikator daya saing pariwisata atau TTCI (Tourism and Travel Competitiveness Index) oleh World Economic Forum (WEF), ada hal lain yang sangat penting perlu diperhatikan dan itu menjadi kendala dan pekerjaan rumah kita yang sangat serius jika kita ingin membangun desa wisata dan menumbuhkan minat kunjungan para wisatawan terutama wisatawan asing. Pentingnya membangun mental melayani di semua lini, khususnya di komunitas pemandu wisata dan masyarakat sekitar daerah wisata, yaitu semangat meyambut dan melayani wisatawan dengan hati.

Baca Juga  Segudang Potensi Pariwisata Bayat

Restrukturisasi Semangat dan Mental Melayani Wisatawan

Salah satu situasi yang membuat wisatawan (terutama wisatawan asing) merasa tidak nyaman dan menjadi kendala serius dari dulu hingga sekarang adalah masalah kebersihan. Banyak sekali daerah tujuan wisata Indonesia, terutama yang berlokasi di desa (desa wisata) kerap dijumpai kondisi kotor, sampah berserakan (terutama sampah bekas makanan dan minuman, puntung rokok), kurangnya tempat sampah di sekitar area wisata, sarana kebersihan yang kurang memadai, seperti kurangnya kamar kecil/toilet/rest room (seperti kamar kecil kondisi yang kotor, jorok dan tidak terawat, airnya tidak mengalir/air mampet), dan vandalisme (coretan-coretan jahil di tempat wisata, merusak fasilitas umum dan lain-lain). Apakah kita masih menjumpai hal tersebut di beberapa tempat tujuan wisata ?Hal-hal tersebut di atas yang membuat wisatawan (terutama wisatawan asing) menjadi enggan berkunjung ke Indonesia.

Membangun budaya menjaga kebersihan sangat krusial dalam industri pariwisata. Mungkin masih terekam dalam ingatan kita beberapa waktu lalu, saat sekumpulan wisatawan asing berinisiatif mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitar wisata alam Gunung Rinjani yang terkenal keelokannya dan keeksotisannya di dunia itu. Tentu hal ini membuat kita miris. Kita yang seharusnya selalu menjaga wisata kita agar selalu bersih dan sehat, tapi ternyata justru orang asinglah yang lebih peduli.

Baca Juga  Partisipasi Masyarakat Menjaga Desa Wisata

Membangun mental suka kebersihan harus dimulai dari sekarang, terutama diarahkan kepada seluruh elemen bangsa yang berada di sekitar area wisata (mulai dari dinas terkait, pelaku usaha pariwisata, masyarakat sekitar dan wisatawan itu sendiri) selain disediakan sarana kebersihan yang memadai. Tentu kita semua, tak peduli darimana kita berasal, pasti lebih merasa senang dan nyaman berada di lingkungan yang bersih sehingga terhindar dari resiko terkena penyakit. Coba bayangkan jika di area wisata terjangkit wabah penyakit yang disebabkan karena kotornya lingkungan dan hal tersebut diekspos oleh media. Beberapa negara yang selama ini menjadikan kita sebagai tujuan wisatanya akan memberikan “travel warning” melarang warganya untuk berkunjung ke negeri kita. Betapa ruginya kita…

Dalam membangun mental dan budaya bersih, tidak cukup jika tanpa didampingi reward dan punishment sebagaimana layaknya di negara-negara maju yang sudah terkenal karena kebersihan lingkungannya. Akan sangat bagus diterapkan sanksi yang mendidik bagi pelaku-pelaku yang menimbulkan kekotoran lingkungan misalnya denda atau kerja sosial. Budaya hidup bersih harus dibiasakan sehingga kelak akan melahirkan generasi yang merasa tidak nyaman jika tidak menjaga kebersihan.

Melayani Dengan Hati

Beberapa situasi yang kerap membuat tidak nyaman para wisatawan, baik domestik maupun asing,  yaitu faktor keamanan. Selain faktor keamanan yang bersifat fisik, misal ancaman teror, pencurian, penipuan, kita juga menjumpai upaya-upaya yang membuat wisatawan tak nyaman untuk mengeruk keuntungan pribadi/kelompok pelaku. Sering kita jumpai mental yang “tidak bersih” dalam pelayanan terhadap wisatawan baik wisatawan domestik maupun asing. Sering kita tidak merasa bahwa itu adalah bagian dari mental yang “tidak bersih” yang harus ditertibkan, jika tidak ingin desa wisata kita “diboikot” wisatawan. Misal, tindakan dari oknum pedagang suvenir yang setengah memaksa wisatawan untuk membeli produknya. Atau oknum pemilik persewaan alat (misal sewa motor, mobil, perahu dll) yang sedemikian rupa “mengintimidasi” wisatawan agar mau menyewa alat-alatnya. Atau oknum pedagang yang menjual suvenir/produknya atau jasanya dengan harga yang tidak rasional atau terlalu mahal (baca : mahalnya keterlaluan) terlebih kepada wisatawan asing.

Baca Juga  Peduli Dunia Pertanian, PP Fathul Ulum Gelar Festival Santri Tani Milenial Bersama Astra

Akan lebih baik jika menjual produk/suvenir/jasa dengan harga yang wajar (tetap mendapatkan keuntungan), tetapi membuat wisatawan puas dan akan kembali lagi berkunjung dan merekomendasikan kepada wisatawan lain untuk berkunjung di masa depan, daripada mendapat keuntungan berlipat (hasil menipu) namun hanya sekali itu saja dan selanjutnya wisatawan kapok berkunjung kembali atau tidak merekomendasikan desa wisata kita kepada yang lain.

Hal-hal ketidaknyamanan tersebut di atas adalah keluhan-keluhan wisatawan yang pernah disampaikan oleh asosiasi Guide/Pemandu wisata dalam suatu acara yang bertema menggairahkan pariwisata beberapa waktu lalu. Tragis bukan ?Juga beberapa pungutan di luar regulasi formal yang berlaku alias pungutan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum di seputar dunia wisata desa. Penyakit-penyakit mental kronis semacam ini yang harus dikikis habis oleh semua pihak yang mencintai pariwisata kita, yaitu kita semua.

Mari kita bangun desa wisata kita dimulai dengan membangun mental bersih dari diri kita sendiri. Keuntungan finansial memang penting, tapi menjaga reputasi desa wisata yang nyaman jauh lebih penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here