Rizobakteri RPTT, Pembantu Pertumbuhan Tanaman secara Organik

0
22

Pernah mendengar kata “Rizobakteri” sebelumnya? Rizobakteri merupakan bakteri yang hidup di rizosfer (area lapisan tanah yang sangat tipis sekitar 1-2 mm di sekitar zona perakaran tumbuhan). Mahluk kecil ini memberikan dampak yang sangat menguntungkan loh untuk kehidupan tanaman. Jadi secara tidak langsung Rizobakteri adalah teman para petani dan pembudidaya tanaman dalam mengolah lahan mereka. Berawal dari sifat si Rizobakteri, bakteri ini dikenal dengan istilah Rizobakteri Pemacu Tumbuh Tanaman (RPTT) atau yang dalam bahasa inggrisnya PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).

RPTT ini pertama kali diperkenalkan oleh Kloepper dan Scoth pada tahun 1978 yang mana sekarang ini semakin banyak penelitian-penelitian untuk mengembangkan potensi dari RPTT pada jenis tumbuhan lainnya. Adapun definisi awal RPTT yang diperkenalkan oleh Kloepper dan Scoth adalah kelompok bakteri rizosfir yang memiliki kemampuan mengkolonisasi rizosfir secara agresif. Nantinya dari kegiatan tersebut, rizobakteri memberi keuntungan bagi tanaman.

Alasan mengapa perkembangan RPTT ini semakin pesat digunakan para petani atau pembudidaya tanaman ialah untuk kesejahteraan lingkungan tanam yang digunakan sehari-hari. Seperti yang kita tahu, penggunaan pupuk kimia sintetis masih kerap dipergunakan hingga sekarang ini. Padahal, di luar efek positif yang pupuk kimia sintetis berikan untuk tanaman, terdapat beberapa dampak negatif yang sejalan dengan pemakaiannya seperti mengurangi kualitas dan produktifitas lahan, dapat terbentuknya tumpukan residu pupuk di dalam tanah sehingga dapat bersifat toksik pada tanah, dapat mematikan mikroorganisme tanah yang berperan sebagai pengendali keseimbangan serta kesuburan tanah, hingga dapat memunculkan mutan-mutan hama dan penyakit tanaman. Nah, dari dampak-dampak penggunaan pupuk kimia sintetis di atas inilah yang membuat pembudidaya tanaman beralih memanfaatkan RPTT sebagai biofertilizer yang telah terbukti memacu pertumbuhan serta menambah hasil tanaman.

Proses untuk memperbanyak biofertilizer dari RPTT tidaklah sulit. Cara yang diperlukan adalah memperbanyak biangnya saja. Biang  biofertilizer ini banyak ditemukan di area perakaran bambu. Adapun cara memulai pengambilan diawali dengan penebangan bagian batang dan akar bambu dengan tanah yang menempel pada bagian akar. Lalu bagian tersebut direndam dalam air tanah baik sumur ataupun sungai yang telah dimasak dan didinginkan. Perlu diingat ada baiknya tidak menggunakan air dari PDAM karena sudah tercampur dengan zat kaporit. Kemudian pada tahap ini, pembuatan biang didiamkan selama tiga hari tiga malam, sambi menunggu kita bisa menyiapkan bahan lain yang diperlukan yaitu terasi, gula merah, dan msg yang direbus dengan air tanah. Bahan-bahan tersebut dimasukkan saat air mendidih lalu diangkat setelah mendidih kemudian didiamkan hingga benar-benar dingin. Setelah itu biang yang telah didiamkan selama tiga hari dicampurkan dengan bahan kedua kemudian disaring. Pupuk yang hampir jadi ini pun dimasukkan ke dalam jerigen dan ditutup rapat selama dua minggu yang setiap harinya dikocok sekali pada jam yang sama. Setelah dikocok, tutup wadah tadi dibuka sebentar untuk mengeluarkan gasnya dan apabila bau pupuk tidak ada perubahan dengan saat pertama, berarti pupuk dalam kondisi baik dan siap untuk digunakan.

Dengan pembuatan yang tidak sulit di atas tentunya RPTT dapat menjadi potensi yang sangat besar untuk mendukung pertanian Indonesia tanpa memberikan efek buruk terhadap lahan ya. Nah berikut ini untuk lebih jelasnya lagi apa saja peranan yang dipegang oleh RPTT nih! 

  • Meningkatan jumlah akar dan bobot akar bawang merah yang diintroduksi dengan rizobakteri sehingga daya serap akar menjadi lebih luas dan mampu menjangkau ke tempat yang lebih jauh dan kebutuhan nutrisi lebih cepat terpenuhi dan pemakaian pupuk buatan dapat dikurangi.
  • Dapat menambah berat basah dan berat kering tanaman.
  • Berperan terhadap penambahan diameter batang dan panjang akar.
  • Mampu melarutkan fosfat dan menghasilkan fitohotmon (hormon tumbuh). Selain itu kemampuannya dalam memfiksasi N juga termasuk salah satu indikator rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan tanaman. Dengan  penggunaan bakteri penambat N pada padi sawah, mampu meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi penggunaan pupuk nitrogen anorganik.

Referensi:

Baca Juga  Kartu Tani, Apakah Itu?

https://banjarmasin.tribunnews.com/2018/04/04/hanya-mencampur-bahan-yang-mudah-didapat-kelompok-tani-ini-bisa-membuat-pupuk-organik?page=3

Anggraini, S. (2020). POTENSI RIZOBAKTERI SEBAGAI BIOFERTILIZER DALAM MEMACU PERTUMBUHAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.). Jurnal AGROHITA: Jurnal Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, 5(2), 155-167.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here