Manfaat Pertanian Organik Bagi Lahan Pertanian

0
1446

“Ada yang mengatakan lahan kita lahan sakit. Karena bahan-bahan organik yang ada terus diambil. Tidak dikembalikan lagi. Yang ditakutkan, lahan kita nanti tidak cukup lagi. Maka, kita mesti mensyukuri nikmat Allah, dengan lahan yang kita miliki.” Begitulah ucap Bimo Santoso, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, saat memberi sambutan pada acara Festival Pertanian Organik Kelompok Tani Al-Barokah di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. 

Bagi Bimo, kondisi lingkungan saat ini cukup memprihatinkan. Ada banyak faktor penyebab mengapa hal tersebut bisa terjadi. Salah satu yang bisa diamati adalah penggunaan bahan kimia pada sektor pertanian. Harus diakui, saat ini penggunaan bahan kimia sintetis, misalnya dalam bentuk pupuk dan pestisida, merupakan hal yang lumrah untuk dilakukan banyak petani. Produk-produk kimia, oleh mereka, diyakini mampu meningkatkan kualitas produk pertanian serta jumlah produksi komoditas setiap kali musim panen.

Pada saat yang bersamaan, ketika produk pertanian tumbuh karena campur tangan bahan-bahan kimia sintetis, lahan yang menjadi media produk tersebut menerima dampak negatif. Hal yang paling memungkinkan terjadi adalah terjadinya gangguan ekosistem pertanian yang berkecenderungan merusak unsur-unsur yang ada dalam biota di lahan pertanian, khususnya ketika proses budidaya pertanian sedang berlangsung. Cepat atau lambat, jika hal tersebut masih berlangsung, lahan pertanian tentu tidak akan bisa diandalkan lagi. 

Oleh karena itu, Bimo pun menyadari bahwa perlu ada perombakan sistem pertanian di kalangan petani. Ia mengutarakan pelaksanaan pertanian berbasis organik sebagai salah satu hal yang bisa dilakukan. Hal itu juga diyakininya dapat menjadi wujud bagaimana kita bersyukur, yakni dengan mengembalikan ulang serta menjaga kondisi lingkungan kita dengan baik. 

“Ketika kita cerita bahwa lingkungan kita tidak sehat, bagaimana menyehatkan lahan-lahan kita? Ini PR pertamanya ke sana. Maka memang nanti ini akan berujung pada produksi produk organik. Jadi kita bicara pasti lingkungan. Kita punya lahan, kalau mengolahnya nggak bener, bisa jadi kita dianggap bersyukur. Kita diberi kemudahan untuk bertanam, kita nggak memelihara lingkungan kita, bisa jadi kita nggak bersyukur.

Seperti yang dikutip dari mongabay.com, pertanian organik kini memang mulai dikenal luas masyarakat seiring dengan adanya tren hidup sehat, yakni menciptakan produk makanan yang aman dikonsumsi sejak dalam proses penanamannya. Hal yang menarik, produk pertanian organik tidak hanya bernilai ekonomis tinggi. Di dunia pertanian, sistem ini ternyata penting untuk perbaikan ekosistem pertanian yang kian rusak terpapar bahan sintetis atau kimiawi seperti pestisida. Itu karena penambahan bahan organik di samping sebagai sumber hara bagi tanaman, juga sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba.

Beruntung, hal itu mulai disadari oleh beberapa kalangan, salah satunya Kelompok Tani Al-Barokah Kabupaten Semarang, yang kini turut mengembangkan pertanian organik. Ia pun bersyukur karena kelompok tersebut mau berkontribusi mengedukasi masyarakat tentang sistem tersebut lewat gelaran Festival Pertanian Organik yang mereka laksanakan. “Dengan adanya festival ini, harapannya, makin banyak petani-petani kita yang masuk mengelola pertanian organik,” tuturnya.

Rasa bangga dan antusiasme Bimo tersebut sebenarnya tidak lepas dari pengamatannya atas sisi lain pertanian organik. Menurutnya, sistem pertanian ini jika diberdayakan baik-baik bisa menjadi penopang ketahanan pangan nasional. Sistem pertanian organik mesti diaplikasikan secara lebih luas, agar stok produk pangan organik di Indonesia terjamin untuk seluruh masyarakat. Hal itu, baginya, juga untuk mengimbangi permintaan produk organik Indonesia dari luar negeri yang ternyata juga kian meningkat.  “Saat memang ini ada lirikan-lirikan dari luar negeri, yang menginginkan produk-produk kita itu diserap luar negeri. Namun demikian, apakah kita hanya bicara menghasilkan ekspor? Kita harus bicara juga mengenai pangan kita. Konsumsi kita sendiri seperti apa. Ini yang harus kita lakukan, kita perbanyak.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here