Kisah Shofyan, Pemuda Penggerak Pertanian Organik di Semarang

0
1413
Pemuda Penggerak Pertanian

Pemuda penggerak pertanian saat ini jarang ditemui sebab sampai sekarang pekerjaan kantoran masih diidam-idamkan oleh banyak pemuda. Bisa dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) ataupun sebagai pegawai perusahaan swasta. Yang patut disimak, pekerjaan-pekerjaan itu umumnya berada di wilayah kota. Para pemuda pun diharuskan untuk ke sana, demi meraih kemapanan yang dijanjikan tempat mereka akan bekerja. Banyak alasan mengapa mereka sampai berani mencari masa depan di wilayah kota. Tergiur akan gaji yang besar, lingkungan kerja yang nyaman, dan keterkaitan dengan derajat pendidikan tinggi yang sudah mereka raih, minimal sebagai sarjana, adalah beberapa contoh umumnya.

Memang tidak ada yang salah jika hal itu dilakukan para pemuda. Tapi kita perlu mengingat, bahwa ada sektor lain yang sebenarnya tidak boleh ditinggalkan. Sektor itu tak lain adalah pertanian. Jelas, pernyataan ini masuk akal. Bagaimana bayangan anda jika seluruh pemuda memutuskan untuk mencari pekerjaan di kota? Siapa yang kemudian mengurus lahan pertanian? Padahal seiring berjalannya waktu, para petani generasi tua akan semakin berkurang. Di lain sudut, kebutuhan pangan masyarakat, baik di desa maupun kota, kian meningkat. 

Untungnya, masih ada generasi muda yang peduli akan kekhawatiran itu. Salah satunya Shofyan Adi Cahyono, lelaki asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Menariknya, Shofyan, panggilannya, secara spesifik menerjunkan diri di dunia pertanian organik. Kepada berdesa.com, ia mengaku bahwa pilihannya untuk menjadi petani organik berawal dari kesadaran ia dan ayahnya terkait pengeolaan lahan sang ayah ke depan. “Itu dimulai di tahun 2007. Awal mula hijrah ke pertanian organik karena takut, kalau diwariskan ke saya nanti rusak, ditanami nggak menghasilkan, ujung-ujungnya dijual. Makanya diorganikkan agar tetap subur terus,” ujarnya.

Dengan semangat yang ada itu, ia tak hanya ingin bertani organik sendirian. Ia kemudian mengajak sejumlah warga, untuk turut bergabung bersama dirinya mengembangkan pertanian organik. Namun demikian, di awal waktu, ide bertani organik dari Shofyan tetap tidak mendapat sambutan baik. 

Menurutnya, banyak yang masih terbawa alasan bahwa pertanian organik tidak menjamin membawa keuntungan yang lebih besar dibanding pertanian konvensional. “Awalnya mereka takut karena mindset dulu kita nanam kimia aja gagal, apalagi organik,” jelasnya.

Shofyan tak patah arang. Meski idenya dianggap tidak menjanjikan, ia tetap teguh untuk tetap mengembangkan jenis pertanian ini hanya dengan beberapa orang. Sejalan dengan waktu, pendirian Shofyan, yang dibarengi dengan keuletannya dalam mengelola pertanian organik, mulai mendapat perhatian sejumlah warga sekitar. “Setelah kita kembangkan, hasilnya ternyata lebih bagus dari kimia. Banyak yang tertarik. Kamu kok nanamnya bagus? Teman-teman jadi tertarik. Karena mereka juga berpikir bertani secara konvensional dan bahan-bahannya naik terus, maka kita milih organik saja,” kenang Shofyan.

Bergerak Bersama Pemuda

Baca Juga  Dana Desa 2019 Baka Naik ke Rp. 85 Triliun, Ini Syaratnya

Titik balik yang dikisahkan Shofyan, menghantarkan pertanian organik mulai diterima secara luas oleh masyarakat di tempat Shofyan tinggal, yakni Dusun Sidomukti, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Lebih lanjut, Shofyan mengajak para pemuda di desa tersebut membuat Kelompok Tani Citra Muda untuk mengelola pertanian tersebut. Untuk profil lengkap Shofyan dapat dilihat pada halaman facebook https://www.facebook.com/sayur.organik.merbabu/.

Bersama mereka, kelompok ini mulanya mengelola 10 hektar lahan pertanian organik, dengan membudidayakan sekitar 40 jenis sayuran. Kini, keberadaan mereka, sebagaimana yang diyakini Shofyan, telah berhasil mendorong pengelolaan pertanian organik hingga ke seluruh Kecamatan Getasan. “Ada sekitar 600 petani yang membudidayakan sayuran secara organik. Total luas lahan organiknya sekitar 140 hektar di seluruh Kecamatan Getasan.”

Ada beberapa alasan yang membuat Shofyan lebih banyak mengajak para pemuda ketimbang petani generasi tua. “Kalau yang tua, karena dia sudah dari dulu ilmunya turun-temurun, nanamnya harus pakai kimia jadi mereka masih ragu. Masih sulit untuk meyakinkan mereka sampai sekarang. karenanya kami mendekati yang muda, sepantaran saya dan yang di bawah saya,” kata Shofyan. 

Di samping itu, Shofyan pun meyakini bahwa para pemuda memiliki potensi kreativitas yang tinggi di masa-masa perkembangan diri mereka. Hal itulah yang semakin membuatnya yakin untuk mendorong pemuda setempat bergerak bersamanya. “Pemuda itu mindsetnya masih panjang, kira-kira nanti pertanian organik seperti apa,” tandasnya.

Sebagai pemuda sendiri, Shofyan pun merasakan hal yang serupa. Lelaki yang saat ini mengambil studi magister pertanian di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tersebut menceritakan, bisnis pertanian organik memiliki potensi keuntungan yang tidak kalah menjanjikan dibanding profesi lainnya.

Keuntungan Pertanian Organik

Baca Juga  Membangun Peran BUMDesa Sebagai Pengentas Ketidakberdayaan Ekonomi Warga

“Pertanian organik menguntungkannya karena biaya produksinya lebih rendah dari yang konvensional, keuntungannya bisa lebih banyak. Selain itu karena kami juga menjual tanaman organik secara langsung, dan karena segmentasi kami kelas menengah, bukan kelas premium, kita bisa mendapat profit 30% lebih banyak dibanding yang konvensional. Kemudian harganya stabil, tidak tergantung pasar. Tidak sampai istilahnya buang sayur tidak terpakai. Jadi kita bisa menetapkan harga sendiri,” jelas lelaki 24 tahun itu.

Itu sebabnya, Shofyan terus meyakinkan para pemuda, termasuk yang ada di dusunnya, untuk mulai menggeluti dunia pertanian organik. “Terjun di sektor pertanian itu bisnis yang seksi. Setiap orang butuh makanan, dan sumbernya dari pertanian. Ke depan orang juga mengkonsumsi yang tidak hanya murah dan mengenyangkan, tapi juga menyehatkan. Makanya pertanian organik ini (patut) jadi pilihannya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here