Desa Dlingo, dari Tertinggal Menjadi Terdepan

0
1962

BERDESA.COM – Sejak dana desa dan wacana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bergulir, desa di ujung timur Kabupaten Bantul, Yogyakarta ini melejit menjadi desa dengan beragam inovasi. Beberapa program yang dicanangkan pemerintah desa tak hanya membangkitkan partisipasi warganya tetapi juga menggenjot pendapatan ekonomi warga melalui berbagai sektor.  

Ada banyak inovasi yang ditelurkan desa ini, dimulai sejak Kepala Desa Bahrun Wardoyo resmi memangku jabatannya. Sejak awal Bahrun sangat mengedepankan partisipasi warga dalam membangun desa. Karenanya Bahrun getol menciptakan saluran informasi yang membuat warga menjadi tahu apa saja yang sedang dijalankan desanya.

Radio komunitas Sandigita adalah salahsatunya. Stasiun radio yang berkantor di Balai Desa Dlingo in secara rutin terus mengabarkan perkembangan demi perkembangan yang dilakukan desa. Termasuk menyiarkan proses Musyawarah mengenai perencanaan pembangunan desa. Dlingo membuktikan radio siaran radio bisa merekatkan komunikasi massa secara masif.

Desa Dlingo yang sulu sunyi sepi dan disebut daerah tertinggal juga sangat intens menciptakan transparansi berbagai kegiatan desa melalui media sosial, website dan sebagainya. Alhasil, warga dengan mudah mengikuti perkembangan desa. Bukan hanya mengikuti, warga kemudian menjadi trgugah menciptakan berbagai langkah pengembangan potensi desanya.

Salahsatunya sektor pariwisata. Berkembangnya wacana desa wisata disambut secara kreatif desa ini. Dalam waktu cepat, warga segera membuka onyek wisata baru, Air Terjun Lepo. Bahkan warga sendiri tidak menyangka, sungai berundak-undak di pinggiran desanya bakal diminati begitu banyak orang setelah disulap menjadi obyek wisata alam pemandian yang menyenangkan..

Selain air terjun, Dlingo juga mengembangkan wisata adventure yang sedang sangat digemari saat ini: river tubing alias menyusuri sungai dengan naik ban dalam sebagai rakit. Terbukti, rute yang dibuka dengan memanfaatkan Sungai Oya di Dusun Kebosungu ini mampu menghasilkan Rp. 2 juta per minggu. Hasil ini tercipta setelah dusun inimendapat suntikan dana Rp. 24 juta dari dana desa untuk mengembangkan potensinya.

Keramaian dan aktivitas produktif desa ini segera menciptakan efek besar bagi ekonomi warganya. Warung makan, berbagai usaha memfasilitasi wisata dan berbagai infrastruktur telahmengubah wajah desa yang dulu sangat tertinggal ini. Dlingo kini menjadi salahsatu desa tempat rujukan ratusan desa di seluruh Indonesia berkunjung untuk belajar bagaimana mengelola potensi desa.

Bukan itu saja, BUMDes Giritama desa ini juga terus melahirkan inovasi. BUMDes mendirikan Desamart, toko modern berbasis retailyang melayani berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari sekaligus tempatkulakan bagi toko-toko kecilyang bertebaran di sekujur desa. Desamart mampu membuktikan bahwa kehadiran sistem perdagangan modern tak perlu mematikan warung tradisional.

Sebaliknya, Desamart justru mendukung perkembangan toko-toko tradisional untuk terus berkembang. Sekaligus Desamart juga enjadi gerbang bagi pemasaran produk lokal yang selama ini tersingkir karena produk pabrikan. Desamart adalah prototipe yang kini sedang diduplikasi berbagai desa di seluruh Indonesia. Bagaimana dengan desamu?(aryadjihs/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here