Budidaya Lebah Madu Desa Melimpah Profitnya, Murah Modalnya

0
35
sumber : Pertamina

Budidaya lebah madu jenis Apis cerana, Apis dorsata dan Trigona banyak dikembangkan di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau. Beberapa genus lebah ada yang tidak memiliki sengat (stingles bee), contohnya dari genus Trigona. Budidaya lebah tidak bersengat tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat karena beragamnya produk yang dihasilkan seperti madu, bee pollen, dan propolis yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Lebah Trigona, berwarna hitam, berukuran kecil sekitar 4 milimeter dan tidak menyengat. Biasanya bersarang pada lubang pepohonan, membentuk sarang berbentuk bulat-bulat kecil menyerupai gentong berdiameter 1 cm. Dari sarang berbentuk gentong tersebut, madu bisa dihisap dengan menggunakan sedotan.

Madu Trigona merupakan produk unggulanya. Dengan ukuran per-katinya atau sebotol kecap kaca, kira-kira 650 mili dapat dibandrol seharga dua ratus lima puluh ribu rupiah.

Madu lebah Trigona, Apis Cerana, Apis Dorsata, pun dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan imunitas yang mana penjualan pada masa pandemi Covid-19 lalu dapat meningkatkan perekonomian peternak lebah ini di banyak desa. Dengan meredanya pandemi pun peternak lebah madu di daerah Rembang bahkan mengalami peningkatan penjualan sebesar 25 persen karena konsumsi madu masyarakat yang terus meningkat.

Baca Juga  Peluang Usaha Budidaya Singkong Di Tanah Tapis Berseri Lampung

Pendampingan dari Kilang Pertamina Unit Produksi Sei Pakning, melalui Program Budidaya Madu Hutan Gambut untuk peternak lebah di Desa Tanjung Lebah pun terus diasakan. Produk Madu diberi merek Biene dijual dalam bentuk curah maupun kemasan. Madu curah biasa dikirim ke Pekanbaru. Sementara produk kemasan 225 ml dijual di kisaran Rp 65 ribu – Rp 75 ribu, secara online di marketplace dengan pembeli beragam dari seluruh Indonesia. Produk sudah mendapatkan izin PIRT (Pangan, Industri Rumah Tangga) dan sertifikasi halal.

VP CSR & SMEPP PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita yang melihat langsung panen madu mengungkapkan kegiatan ini sebagai salah satu bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung tercapainya SDGs ke-8 yakni mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, produktif dan pekerjaan yang layak.

Kegiatan budidaya lebah tidak bersengat tidak perlu pemeliharaan yang intensif, tidak memerlukan peralatan khusus, ataupun sumber pakan dapat beragam. Sampah organik dan anorganik yang berasal dari skala rumah tangga sehari-hari juga dapat dimanfaatkan, diantaranya dapat mendukung budidaya lebah yang dilakukan. Sampah organik yang berasal dapat diolah menjadi pupuk, sehingga dapat menjadi sumber nutrisi untuk tanaman pakan lebah.

Baca Juga  BUMDes Ber-Omzet Rp. 500 Juta Terus Meningkat

Sumber : https://bumn.go.id/post/buah-manis-budidaya-lebah-madu-ramah-lingkungan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here