Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai Perusahaan Berbasis Pengetahuan: Sebuah Kajian Awal

0
310

Oleh: Hardo Firmana Given Grace Manik

Peneliti Nous Saurdot Institute

Abstrak: Pengetahuan adalah “bahan bakar” yang menggerakkan proses bisnis berbagai perusahaan dewasa ini. Oleh karena itu, betapa pentingnya bagi setiap perusahaan untuk menginstitusionalisasi manajemen pengetahuan demi mencapai kinerja perusahaan superior. Hal tersebut berlaku tak terkecuali pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) sebagai perusahaan yang bertujuan untuk mengembangkan ekonomi desa dengan membuka lapangan kerja berbasis kewirausahaan sosial. Inovasi-inovasi sosial BUMDesa tentu membutuhkan pengetahuan sebagai determinan utamanya. Tulisan ini mencoba mengusulkan agar BUMDesa dikelola berbasis model organisasi pengetahuan yang dipandu oleh metrik maturitas manajemen pengetahuan. Metrik ini adalah instrumen untuk menilai sejauh mana sebuah perusahaan menjalankan proses manajemen pengetahuan. Metrik ini juga dapat berperan sebagai cetak biru pengembangan BUMDesa sebagai sebuah organisasi pengetahuan.

Kata-kata kunci: pengetahuan, metrik, maturitas, BUMDesa

Urgensi Organisasi Pengetahuan

Dewasa ini, setiap perusahaan yang ingin bertahan hidup dan memenangkan persaingan haruslah memiliki kinerja superior. Berpindahnya model ekonomi, dari yang sebelumnya bercirikan manufaktur-industrial/mengandalkan sumberdaya fisik menjadi model ekonomi berbasis pengetahuan, telah mengubah cara pandang perusahaan terkait dengan bagaimana cara mencapai kinerja organisasional yang superior (Drucker, 1993; Gao, Chai, dan Liu, 2018). Menurut perspektif perusahaan berbasis pengetahuan (knowledge-based view of the firm), pengetahuan dipandang sebagai sumber daya utama yang menentukan kinerja perusahaan sehingga bisa menghasilkan inovasi-inovasi secara berkelanjutan (Grant, 1996; Nonaka dan Takeuchi, 1995). Manajemen pengetahuan kemudian dianggap menjadi model manajemen yang bisa menjadi sarana bagi perusahaan untuk mendayagunakan sumber daya pengetahuan yang dimiliki dengan efektif dan efisien. Perusahaan-perusahaan pun berinvestasi dalam prakarsa manajemen pengetahuan untuk memastikan proses penciptaan/akuisisi, berbagi, aplikasi dan proteksi pengetahuan bisa berjalan sehingga menghasilkan kinerja organisasional (Gao, Chai, dan Liu, 2018). Dengan demikian, perusahaan yang disebut sebagai organisasi pengetahuan adalah perusahaan yang menampilkan proses-proses manajemen pengetahuan dan menggunakan modal intelektual sebagai sumberdaya utama perusahaan (Dawson, 2000).

Tentu saja, prakarsa organisasi pengetahuan tersebut berlaku juga untuk pengelolaan Badan Usaha Milik Desa. Hal ini menjadi sangat penting karena BUMDesa memiliki potensi besar untuk menjadi motor pemerataan ekonomi daerah-daerah di Indonesia.  Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) adalah perusahaan yang seharusnya dikembangkan berdasarkan konsep-konsep manajemen pengetahuan untuk kemudian bisa menghasilkan inovasi-inovasi sosial, dengan dua catatan utama: berhasil menjalankan model organisasi bisnis berbasis pengetahuan dengan profesional dan berhasil membuka lapangan-lapangan kerja bagi penduduk lokal. Melalui tulisan ini, penulis bermaksud mengusulkan model organisasi pengetahuan sebagai model pengelolaan BUMDesa yang didasarkan pada metrik maturitas manajemen pengetahuan.

Baca Juga  Kenapa Pelatihan BUMDesa itu Penting, Ini Jawabannya

 

Metrik Maturitas Manajemen Pengetahuan

Metrik maturitas manajemen pengetahuan adalah kerangka kerja dan alat yang memungkinkan perusahaan untuk memahami posisi terkini dari manajemen pengetahuan secara sistematis dan membuat penilaian holistik dari aktivitas-aktivitas manajemen pengetahuan (Pee dan Kankanhalli, 2009). Selain itu, metrik ini juga menyediakan cetak biru bagi perusahaan dari titik awal untuk mencapai tujuan yang diinginkan terkait manajemen pengetahuan serta menyediakan pandangan holistik tentang manajemen pengetahuan pada perusahaan dan orang-orang yang terlibat serta kemudian memfasilitasi komunikasi dan pemahaman bersama (Pour, Manian, dan Yazdani, 2016). Secara umum, metrik maturitas manajemen pengetahuan didasarkan pada tiga pondasi utama yaitu manusia, proses, dan teknologi.

Metrik ini kemudian dapat digunakan oleh para pengelola BUMDesa untuk melihat posisi terkini atau level kedewasaan model pengelolaan mereka dan sejauh mana mereka memanfaatkan pengetahuan sebagai “bahan bakar” pengelolaan mesin organisasi BUMDesa. Dengan melihat posisi terkini, para pengelola BUMDesa kemudian akan bisa melakukan langkah-langkah strategis dan operasional untuk memperbaiki model pengelolaan BUMDesa. Mengikuti dari tiga pondasi utama di atas, manusia menjadi pilar pertama dan utama yang kemudian juga menjadi landasan bagi pilar yang lain. Oleh sebab itu, pemerintah desa disarankan untuk memberi perhatian besar bagi pilar ini supaya proses pengelolaan BUMDesa dengan model pengetahuan bisa dilakukan sesuai metrik maturitas manajemen pengetahuan.  Misalnya, pemerintah desa bisa menggunakan dana desa untuk memberikan beasiswa kuliah pada anak-anak desa untuk kuliah dengan fokus jurusan pada teknologi informasi, manajemen dan akuntansi. Selanjutnya, pemerintah desa harus membuat kontrak atau perjanjian dengan anak-anak yang dikuliahkan ini untuk nantinya kembali ke desa setelah tamat kuliah dan harus menjadi pengelola BUMDesa. Komitmen penuh dari semua perangkat desa dan masyarakat sangat diperlukan untuk menggerakkan ekonomi desa dengan fokus pada pembenahan sumberdaya manusia BUMDesa, khususnya anak-anak muda desa.

Baca Juga  Begini Cara Identifikasi Produk Desa untuk Dijual Online

Lebih lanjut, berikut gambaran lengkap metrik maturitas manajemen pengetahuan untuk BUMDesa yang diadaptasi dari Pee dan Kankanhalli (2009):

Level Maturitas Deskripsi Umum

Area-Area Proses Kunci

Manusia Proses Teknologi
1.Awal Sedikit atau tidak ada perhatian untuk secara formal mengelola pengetahuan organisasional BUMDesa BUMDesa dan orang-orang di dalamnya tidak sadar akan kebutuhan untuk mengelola sumberdaya pengetahuan secara formal Tidak ada proses-proses formal dalam BUMDesa untuk memperoleh, membagikan dan menggunakan ulang pengetahuan organisasional Tidak ada infrastruktur atau teknologi manajemen pengetahuan khusus (misalnya aplikasi online, sistem informasi online) di BUMDesa
2.Sadar BUMDesa sadar dan memiliki niat untuk mengelola pengetahuan organisasionalnya, tetapi mungkin tidak tahu bagaimana cara melakukannya Pengelola BUMDesa sadar akan kebutuhan untuk melakukan manajemen pengetahuan Pengetahuan yang sangat diperlukan untuk melakukan tugas-tugas rutin didokumentasikan dalam BUMDesa (misalnya, pengarsipan dokumen-dokumen kajian bisnis) Proyek percontohan teknologi manajemen pengetahuan diinisiasi oleh karyawan (tidak harus oleh pengelola BUMDesa)
3.Terdefinisi BUMDesa telah melengkapi infrastruktur dasar untuk mendukung manajemen pengetahuan (misalnya, komputer, akses internet, dll) -Pengelola BUMDesa sadar akan perannya dalam mendorong manajemen pengetahuan

-Pelatihan dasar untuk karyawan BUMDesa tentang manajemen pengetahuan disediakan

-Strategi manajemen pengetahuan dirancang

-Peran-peran individual karyawan BUMDesa untuk mendukung manajemen pengetahuan didefinisikan

-Sistem insentif disediakan

-Proses-proses membuat manajemen konten informasi dan pengetahuan dilakukan.

-Metrik-metrik kuantitatif digunakan untuk mengukur peningkatan produktivitas karyawan BUMDesa yang didorong oleh manajemen pengetahuan

-Insfrastruktur dasar manajemen pengetahuan disediakan di BUMDesa

-Beberapa proyek teknologi manajemen pengetahuan mulai diinisiasi (misalnya, big data)

4.Dikelola Inisiatif-inisiatif manajemen pengetahuan sudah mapan dalam BUMDesa -Pendekatan-pendekatan dan strategi umum manajemen pengetahuan sudah terstandarisasi di BUMDesa

-Manajemen pengetahuan dimasukkan ke dalam strategi BUMDesa secara keseluruhan.

-Pelatihan manajemen pengetahuan tingkat lanjut dilakukan untuk seluruh karyawan BUMDesa

Adanya ukuran kuantitatif dari proses-proses manajemen pengetahuan (misalnya penggunaan metrik-metrik produktivitas) di BUMDesa -Sistem-sistem manajemen pengetahuan BUMDesa sepenuhnya tersedia berbasis teknologi digital

-Penggunaan sistem manajemen pengetahuan berada pada tingkat yang wajar

-Integrasi teknologi tanpa batas dengan arsitektur konten digital

 

5.Optimalisasi -Manajemen pengetahuan terintegrasi sepenuhnya dalam BUMDesa dan terus ditingkatkan

– Manajemen pengetahuan adalah komponen otomatis dalam setiap proses organisasional BUMDesa

Adanya kultur berbagi pengetahuan antar karyawan  BUMDesa dan diinstitusionalisasikan dalam perusahaan -Proses-proses manajemen pengetahuan secara konstan dikaji dan diperbaiki

-Proses-proses manajemen pengetahuan yang ada bisa dengan mudah diadaptasi untuk memenuhi persyaratan bisnis baru

-Prosedur-prosedur manajemen pengetahuan adalah sebuah bagian integral dari BUMDesa

Infrastruktur manajemen pengetahuan BUMDesa secara berkelanjutan diperbaiki

 

Kesimpulan

Mengingat perkembangan revolusi industri saat ini, berbagai literatur manajemen sudah menyatakan bahwa betapa pengetahuan menjadi sumberdaya paling berharga bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya, tak terkecuali BUMDesa. Oleh karena itu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dapat menggunakan metrik maturitas manajemen pengetahuan di atas untuk digunakan dalam mengembangkan BUMDesa dengan lebih terarah dan bertitik berat pada pengelolaan pengetahuan. Metrik di atas juga dapat digunakan sebagai panduan proses digitalisasi BUMDesa yang akhir-akhir ini diserukan berbagai pihak. Terima kasih.

Daftar Pustaka

Dawson, Ross. 2000. “Knowledge Capabilities as the Focus of Organisational Development and Strategy.” Journal of Knowledge Management, 4 (4): 320–327.

Drucker, Peter F. 1993. Post-Capitalist Society. New York: Harper Business.

Gao, Tingwei, Yueting Chai, and Yi Liu. 2018. “A Review of Knowledge Management about Theoretical Conception and Designing Approaches.” International Journal of Crowd Science. https://doi.org/10.1108/IJCS-08-2017-0023.

Grant, Robert M. 1996. “Toward a Knowledge-Based Theory of the Firm.” Strategic Management Journal, 17 (Winter): 109–122.

Pee, L G, and A Kankanhalli. 2009. “A Model of Organisational Knowledge Management Maturity Based on People, Process, and Technology.” Journal of Information and Knowledge Management, 8 (2): 79–99.

Pour, Mona Jami, Amir Manian, and Hamid Reza Yazdani. 2016. “A Theoretical and Methodological Examination of Knowledge Management Maturity Models : A Systematic Review.” International Journal of Business Information Systems, 23 (3): 330–352.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here