Zappos, Hebatnya Budaya Perusahaan Raksasa Dunia

Zappos, Hebatnya Budaya Perusahaan Raksasa Dunia

BERDESA.COM – Zappos adalah perusahaan berskala dunia yang memiliki budaya kerja yang sangat unik. Berkat budayanya itu pula Zappos diakusisi Amazon, toko online terbesar di dunia itu, dengan nilai Rp. 1 Milyar Dolar. Tetapi dengan tetap menjadikan seluruh karyawan Zappos tetap bekerja seperti biasanya. Hasilnya, empat tahun kemudian Zappos membukukan keuntungan Rp. 10 Trilyun. Apa saja yang dilakukan Zappos?

Zappos lebih dikenal sebagai perusahaan retail yang menjual sepatu dan berbagai produk lainnya di ranah internet. Tetapi berbeda dengan toko retail lainnya, kehebatan pelayanan Zappos membuat hampir semua orang yang dilayaninya kemudian menjadi pelanggan sejati. Semua itu lahir berkat sentuhan CEO Tony Hsieh (baca: Tony Shay) yang memiliki visi nan unik. Tony juga dikenal sebagai Advokat Budaya Perusahaan.

Tony menempatkan kultur alias budaya yang hidup dalam perusahaan sebagai ruh utama dari perusahaan tersebut. “ Kami yakin jika perusahaan Anda bisa menemukan atau menciptakan budaya yang baik maka berbagai persoalan seperti sistem pelayanan yang hebat dan branding merek yang kuat akan terjadi dengan sendirinya,” katanya.

Sebelum membuat Zappos menjadi raksasa, Tony pernah bekerja di perusahaan raksasa softwae Oracle. Tetapi Hsieh lantas keluar karena merasa tidak cocok dengan budaya perusahaan ini. Berikutnya Tony bekerja di LinkExchange, juga perusahaan berbasis IT. Awalnya Tony betah bekerja di sini, tetapi ketika perusahaan mulai berkembang dan butuh lebih orang, Tony merasa kultur yang telah dibangunnya berubah. Hsieh lantas melepas LinkExchange begitu Microsoft menawarkan akuisisi pada LinkExchange.

Hsieh lalu menanam uangnya ke sebuah perusahaan yang menjual sepatu secara online, Zappos. Setahun kemudian Hsieh menjadi CEO di sana. “ Zappos adalah perusahaan layanan pelanggan yang kebetulan menjual sepatu,” katanya. Tony menjelaskan, sebagai sebuah perusahaan, Zappos bukanlah tentang sepatu atau berjualan fashion melainkan tentang bagaimana menciptakan sistem pelayanan yang hebat pada para pelanggannya.

Di kalangan pelanggannya Zappos memang memiliki banyak cara unik dalam memperlakukan pelangannya. Misalnya, mengirimkan bunga tanda duka cinta pada seorang pelanggan yang ibunya barusaja meninggal. Ada pula cerita tentang pelanggan yang merasa sangat bahagia setelah berbincang-bincang dengan karyawan Zappos selama 8 jam. Zappos sangat memanusiakan para pelanggannya sehingga toko online ini sudah menjadi raksasa hanya dengan melayani pembelian dari para pelanggannya saja.

Begitu hebatnya sistem pelayanan yang diberikan Zappos pada pelanggannya sehingga perusahaan ini lebih identik sebagai perusahaan penjual layanan terbaik. Alhasil, karena fanatisme para pelanggannya, Zappos kini mulai merambah berbagai pengembangan termasuk industri penerbangan. Zappos ingin menciptakan sistem pelayanan yang memuaskan para penumpang pesawat terbang.

Tetapi tak gampang menuju yang dicapai Zappos hari ini.  Sejak awal Zappos mengembang, Hsieh dan Fred Mossler (salahsatu tokoh utama selain Hsieh) mewawancarai sendiri setiap calon pegawainya. Hsieh memiliki standar yang unik untuk menilai karyawan itu layak atau tidaknya diterima bekerja di perusahaanya yakni,” Apakah orang ini asyik untuk diajak ngobrol sambil minum kopi?”. Jika jawabannya adalah tidak maka sudah pasti Hsieh bakal menolak si pelamar itu.

Ide-ide besar dan hebat, kata Hsieh, yang lahir dari seorang pekerja adalah gambaran dari budaya kerja yang ada di perusahaan tersebut. Ketika para pekerja berada pada lingkungan kerja yang baik dan nyaman bagi dirinya maka saat itulah passion mereka bakal keluar dan membuat si pekerja bakal melahirkan kreativitas luar biasa bagi perusahaannya. Inilah nilai-nilai penting yang dibangun Zappos.

Hingga kini, meski Hsieh sudah tidak melakukan sendiri wawancara para karyawannya tetapi Hsieh telah menciptakan ukuran khusus untu menilai kualitas calon karyawan. Salahsatunya, kini Zappos akan menjemput para calon karyawan di bandara dengan kendaraan yang bagus dan sopir yang menyenangkan. Tetapi jangan salah, Zappos akan mendapatkan laporan dari si pengemudi mobil mengenai apa saja yang dikatakan si calon pekerja itu selama perjalanan di dalam mobil. Jika perilaku si pelamar kurang bagus, sudah pasti si pelamar bakal gagal bergabung dengan Zappos.

Standar lainnya misalnya, Zappos hanya akan memilih orang yang memiliki pengaruh yang mendukung budaya perusahaan. Perusahaan ini tidak mentolerir pekerja yang memikirkan diri sendiri dan tidak bekerja sama dengan tim kerja lainnya. “ Kami tidak segan memecat orang yang merusak atau mengancam budaya yang telah kami bangun bahkan jika orang itu adalah orang yang mampu mendatangkan projek yang menghasilkan uang sekalipun,” kata Hsieh.

Sistem budaya kerja yang unik dan sangat memanusiakan itulah yang membut Zappos terus mengembang hingga sekarang. Dengan cara itu, semua orang yang bekerja di perusahaan ini merasa sangat nyaman sehingga lahirlah berbagai inovasi dan ide-ide besar bagi perusahaannya. Bagi Zappos, ruh utama perusahaan adalah pada budaya yang dibangun di dalamnya. Faktanya, perusahaan ini sukses dan menjadi perusahaan dunia hingga sekarang. Bagaimana dengan perusahaan Anda? (aryadji/berdesa/dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*