Warung Kejujuran: Pembelajaran Mengelola Aset, Meraih Kesejahteraan

Warung Kejujuran

Oleh: Farid Hadi Jelivan

BERDESA.COM – Di sebuah sudut Rumah sederhana terpampang sepanduk “Warung Kejujuran”. Ketika kami bertanya apa maksud dari nama tersebut, dijelaskan seorang ibu bahwa di warung (kios kecil) itu kita bisa melayani sendiri. Memilih barang sendiri, membayari sendiri, dan mengambil kembalian sendiri. Tidak ada yang melayani dan tidak ada yang mengawasi. Dan yang luar biasa, tidak ada satupun pembeli yang ngemplang karena semua merasa memiliki. Bagaimana bisa sebuah warung berdiri dengan spirit “kejujuran” yang luar biasa ini? Rasanya Jokowi yang sedang menggalang revolusi mental pun perlu belajar kepada mereka.

Mandala adalah sebuah perumahan kecil yang berlokasi di radius sekitar 11 KM dari Kepundan Gunung Merapi Yogyakarta. Tepatnya berada di Padukuhan Jetis Baran, Desa Sardonoharjo, Kabupaten Sleman. Perumahan kecil yang dihuni sekitar 25 KK ini dikenal juga dengan sebutan MPR (Mandala Perumahan Rakyat). Ketika erupsi Gunung Merapi tahun 2010 lalu, semua warganya harus mengungsi karena masuk di dalam radius bahaya.

Para supir taksi lebih mengenal peruhanan dengan sebutan MPR daripara Perumahan Mandala. Penghuni MPR datang dari berbagai daerah, jawa dan luar jawa. Mata penjahariannya ada yang sebagai guru, pegawai, wiraswasta, dan petani. Dengan berbagai latar tersebut, sudah menjadi ciri sebuah perumahan bahwa cukup sulit menyatukan warganya. Kegiatan yang rutin yang berjalan adalah arisan ibu-ibu dan posyandu penimbangan balita yang kebetulan cukup banyak di perumahan.

Namun yang menarik, pada bulan April tahun 2010 di perumahan kecil ini berdiri sebuah koperasi (tepatnya pra koperasi karena masih belum berbadan hukum) yang dikelola oleh beberapa ibu rumah tangga. Dengan tekun ibu-ibu tersebut menyosialisasikan dan mengajak warga mendirikan sebuah koperasi. Tidak gampang ternyata. Pada mulanya hanya 10 orang yang mau bergabung. Yang lain karena tidak tahu dan ragu-ragu sehingga belum mau bergabung. Koperasi tersebut diberi nama sesuai nama perumahan, yakni Pra Koperasi Mandala. Pada awal pendirian disepakati iuran pokok anggauta sebanyak 100 ribu rupiah yang boleh dicicil 5 kali dan iuran wajibnya 10 ribu rupiah per bulan.

Pada bulan pertama, Koperasi bisa menghimpun modal sebanyak 700 ribu rupiah dan dipinjamkan kembali kepada anggauta yang paling membutuhkan. Anggauta dapat meminjam 200 ribu per orang yang dapat dikembalikan maksimal 5 kali. Jumlah pinjaman tersebut hampir tak ada artinya, tetapi inilah denyut awal kehidupan koperasi Mandala mengawali kiprahnya. Untuk membesarkan koperasi, pengurus setengah memaksakan bahwa semua uang yang dikumpulkan wajib dipinjamkan. Jika ada sisa dana maka pengurus yang diwajibkan untuk meminjam. Jasa pinjaman disekapati sebesar 1,5% per bulan.

Pengurus tidak pernah bosan berkampanye “koperasi kecil ini adalah milik kita, dari kita, dan untuk kita. Mau besar atau mau tetap kecil tergantung kita para anggauta.” Untuk menghimpun percepatan modal sendiri, Koperasi mengajak anggauta untuk melakukan simpanan sukarela atau tabungan. Simpanan sukarela ini diberi jasa 1% per bulan dan dapat diambil setiap waktu jika dikehendaki.

Setahun kemudian, pengurus mengadakan rapat anggauta tahunan (RAT) pertama kali. Semua warga Perumahan Mandala termasuk anak-anak diundang dalam RAT tersebut. Pengurus menjelaskan semua perputaran uang dan pembagian SHU. Sangat kecil. Waktu itu setiap anggauta menerima SHU antara 3 ribu hingga 50 ribu rupiah. Jumlah SHU ini dihitung berdasarkan keaktifan anggauta menyimpan maupun meminjam dana di koperasi. Hampir tak ada artinya. Tetapi ada gairah baru yang rupanya berkembang setelah itu. Keterbukaan pengurus ini mengangkat kepercayaan anggauta dan para calon anggauta. Beberapa warga tertarik masuk menjadi anggauta baru. Jumlah anggauta pun bertambah menjadi 25 orang. Iuran wajib dan pokoknya juga disepakati dibesarkan. Tidak tanggung-tanggung iuran pokok menjadi 200 ribu yang dapat diangsur hingga 10 kali dan iuran wajibnya menjadi 20 ribu per bulan. Kesepakatan ini diambil atas keinginan anggauta yang merasakan manfaat simpan pinjam tersebut dan dapat meningkatkan jumlah pinjaman.

Koperasi memberi kemudahan anggautanya dengan membuka pinjaman khusus. Pinjamna khusus tersebut diberikan kepada anggauta yang membutuhkan di luar pinjaman reguler yang sudah mereka terima. Paket pinjaman khusus antara lain berupa pinjaman untuk pendidikan, pembelian barang elektronik, dan perhiasan. Pinjaman khusus ini disepakati berkontribusi jasa sebesar 2% per bulan.

Jumlah anggautanya belum bertambah mengingat koperasi hanya untuk warga peruhanan. Ada pula anggauta yang keluar masuk khususnya bagi warga tidak tetap. Singkat cerita, dalam 4 tahun koperasi kecil ini mencatat modal sebanyak 60 juta dan setiap anggauta sekarang dapat meminjam 4 kali besar simpanannya. Sekarang anggauta sudah dapat meminjam di atas 5 juta rupiah tanpa direpotkan dengan berbagai persyaratan seperti kalau meminjam di Bank atau BPR. Bayangkan dengan awal dibentuk yang hanya bermodalkan 700 ribu rupiah dan pinjaman 200 ribu. Pada RAT April lalu, koperasi kecil ini mencatat SHU sebanyak 7 juta lebih. Anggauta menerima bagian antara 35 ribu sampai di atas 500 ribu rupiah tergantung dari keaktifannya. Lumayan lah.

Disamping keuntungan berupa kemudahan mendapat dana segar dan cepat, tumbuh pula akar kepercayaan diantara anggauta koperasi yang ditanam oleh para pengurusnya. Ketika kepercayaan terbangun, maka aspirasi ide yang ingin dikembangkan lebih mudah diwujudkan. Koperasi tersebut saat ini dipercaya mengelola pembayaran PLN dan Telephon setiap Rumah. Para anggauta juga meminta Koperasi untuk menyediakan 9 bahan pokok yang dapat dipesan oleh anggauta setiap bulannya. Rupanya dari pengalaman tersebut maka para pengurus dan anggauta Kopersi menggalang ide mendirikan “Warung Kejujuran”. Warung ini diharap menyediakan kebutuhan harian mulai garam, gula, air galon, sampai gas LPG.

Apa yang menarik dari Warung Kejujuran? Warung Kejujuran memulai kegiatannya dengan mengumpulkan modal dari saham anggauta di luar dana yang tersimpan di koperasi. Setiap lembar saham bernilai 25 ribu rupiah dan boleh diikuti oleh siapapun, termasuk yang bukan anggauta koperasi. Pada saat awal, terkumpul lebih kurang 50 saham, atau sebanyak 1,25 juta rupiah. Koperasi pun ikut 70 saham sehingga modalnya menjadi 3 juta rupiah. Modal terebut dikulakkan barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti gula, garam, beras, dan obat-obatan. Setiap warga diberi kepercayaan untuk melayani dirinya masing-masing. Jika ingin belanja, dipersilahkan mengambil sendiri, membayar sendiri, dan nyusuki sendiri. Jika tidak membawa uang, ia wajib mencatat di buku yang sudah disediakan. Setiap orang punya buku catatan masing-masing. Pengurus akan mengecek setiap minggu dan menagih kekurangan bayar belanja warga. Dengan kegiatan ini, bisa dikatakan lebih kurang 90% belanja kebutuhan harian berputar di warung. Dengan perkembangan waktu, barang yang disediakan oleh Warung

Kejujuran semakin bervariasi dari kebutuhan dapur, kamarmandi, hingga baju harian, termasuk sepatu. Warga pun berpartisipasi titip barang dengan sistem konsinyasi. Ada yang membuat rempeyek, membuat es mambu, menjual daster, hijab, dll. Koperasi memberi semangat bagi semua yang ingin terlibat Gairah berkegiatan ekonomi pun berkembang. Dalam waktu belum ada setahun aset warung sudah berkembang menjadi sekitar 10 juta. Setiap hari rerata uang dibelanjakan di warung hingga 300 ribu rupiah. “Lumayan lah,” komentar salah satu ibu pengurus.

Dari cerita pendek ini kita belajar bahwa kepercayaan adalah kekuatan yang tidak ada duanya dalam sebuah komunitas. Dengan pra koperasi ini, warga sudah tidak ada lagi yang meminjam kepada rentenir. “Untuk modal usaha kecil dan keperluan tak terduga, koperasi Mandala dapat diandalkan,” kata salah seorang anggauta dengan tersenyum.

Disamping itu koperasi berhasil membangun rasa kebersamaan, kejujuran, dan kedisiplinan anggauta. Setiap ada masalah, selalu dibahas secara terbuka. Meski dalam setiap musyawarah mungkin tidak banyak yang menyumbang pemikiran, namun ketika mereka diundang, maka ia sudah merasa dihargai keberadaannya. Dan yang paling penting, ada aktor lokal yang serius, sabar, dan mempunyai komitmen kuat untuk menjalankan misi tersebut. Yang terakhir ini memang bukan hal yang mudah, tetapi pasti dapat ditemukan.***

1 Komentar

  1. ARTIKEL NYA, SANGAT MENGISPIRASI DAN BAIK.
    I LIKE IT..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*