Warga Gampong Aceh Barat Manfaatkan Eceng Gondok untuk Membangun Desa

Warga Gampong Aceh Barat Manfaatkan Eceng Gondok untuk Membangun Desa

BERDESA.COM – Tragedi tsunami yang menghantam Aceh 2004 lalu tak membuat warga desa kehilangan semangat membangun desa. Meski kehilangan harta benda dan ratusan ribu nyawa mereka tetap berusaha berdiri dengan segala keterbatasannya. Seperti yang dilakukan para perempuan di Gampong (desa) Kubu, Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, ini.

Memanfaatkan banyaknya tumbuhan eceng gondok yang tumbuh subur di rawa-rawa, kaum ibu ini menciptakan beragam produk cantik seperti tas, sandal, kotak tisu hingga tikar. Meski baru beberapa bulan belajar menganyam, tetapi semangat membangun desa membuat kreativitas mereka terus berkembang.

Beragam karya seni cantik berbahan eceng gondok itu terungkap dalam Lokakarya Tata Kelola Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) di Kecamatan Arongan Lambalek, Aceh Barat, 22-23 Juli 2017 lalu. Meski baru beberapa bulan mengolah tumbuhan yang tumbuh di rawa-rawa ini tetapi tangan-tangan terampil para ibu sudah membuahkan hasil yang cantik.

Ketua Kelompok Rumah Produksi Tunas Baru Khatidjah berkisah, dirinya dan puluhan ibu di kampung-kampung Aceh Barat saat ini sedang getol mengolah eceng gondok yang bertumbuhan di kampung-kampung mereka. “ Kami baru memulai mengolah tanaman ini beberapa bulan. Masih terus memperbaiki disain dan meningkatkan keahlian,” katanya.

Hebatnya, pemanfaatan eceng gondok bukan semata-mata untuk melahirkan perkakas dan aksesori saja. Kegiatan ini juga sebuah upaya sebagai cara mengurangi pertumbuhan eceng gondok yang merunyak dengan cepat di berbagai perairan rawa yang banyak terdapat di perkampungan daerah ini. “ Jadi, ini adalah usaha menyelamatkan lingkungan dan bisa menghasilkan produk yang bisa dijual,” kata salahsatu saksi hidup tsunami 2004 ini.

Awalnya, kata Khatidjah, mereka dilatih pengrajin eceng gondok dari Semarang, Jawa Tengah yang telah sukses memasarkan beragam produk eceng gondok menjadi souvenir dan aksesori. “ Dari situ kami lalu mempraktikkan ilmu menyanyamnya dan mulailah kami melahirkan produk kami sendiri,” katanya kepada Berdesa.

Kini, desa-desa yang memiliki potensi eceng gondok mulai memanfaatkan tanaman ini menjadi beragam produk sebagai salahsatu komoditas yang bakal menjadi salahsatu andalan membangun desa mereka. Utamanya, produk yang bisa mereka manfaatkan untuk keperluan sehari-hari seperti tikar, sandal dan berbagai aksesori. “ Kami masih butuh memperdalam ilmu menganyam dan membangun jalur pemasaran agar produk kami bisa dijual di luar Aceh,” ujar Lina, salahsatu anggota kelompok ini.

Pemasaran produk adalah salahsatu tema yang dibahas dalam Lokakarya Tata Kelola BUMG. Lokakarya yang digelar kerjasama KOMPAK dengan Usaha Desa Sejahtera ini dihelat untuk mendorong BUMG di gampong-gampong di Aceh agar mampu menciptakan produktivtas dan sekaligus membuka jalur pemasaran berbagai produk lokal yang bisa ‘dijual’ keluar daerah.

Soalnya, pemasaran masih menjadi salahsatu hambatan kreativitas warga desa-desa di sini. Faktor geografis yang berjauhan antara satu desa dengan desa lainnya, keterbatasan ketrampilan dan kendala permodalan adalah beberapa isu yang dibahas dalam lokakarya dua hari ini.

Founder Usaha Desa Sejahtera Mohammad Najib yang menjadi salahsatu narasumber dalam even itu mengungkapkan, Usaha Desa sangat konsen terhadap peningkatan ekonomi desa (gampong) berbasis potensi lokal.” Usaha Desa sangat atusias mendorong ekonomi gampong di Aceh. Karenanya kerja sama dengan KOMPAK kami sambut dengan penuh semangat,” kata tokoh pemberdaya desa yang pernah bertahun-tahun tinggal di Aceh ini.

Salahsatu yang akan dilakukan Usaha Desa adalah menciptakan formulasi pengolahan eceng gondok sebagai salahsatu komoditas yang bisa dijual ke luar Aceh dalam skala besar.” Kami sedang melakukan riset untuk menemukan formula itu. Soalnya, potensi eceng gondok sangat besar di sini makanya harus diolah dalam skala besar,” katanya.

Najib menjelaskan, pengolahan eceng gondok bukan hanya karena banyaknya potensi produk yang bisa diciptakan melainkan juga upaya penyelamatan lingkungan. “ Eceng gondok yang begitu banyak tumbuh menyebabkan banjir di lingkungan gampong di sini. Makanya, daripada mengeluarkan dana besar membangun antisipasi banjir mendingan eceng gondoknya di olah. Selain bisa menciptakan pendapatan bagi warga, juga bisa mengurangi banjir,” kata Najib.

Loka Karya ini masih menjadi langkah awal dari berbagai skema pemberdayaan ekonomi melalui potensi lokal di Aceh Barat. Selain mendorong tercitanya komoditas layak saing di pasar luas, KOMPAK juga menyiapkan program pemberdayaan BUMG terutama mengenai penguatan kelembagaan BUMG.

Sudarman Puteh, salahsatu aktivis KOMPAK menyatakan, ke depan pihaknya telah menyiapkan beberapa langkah penguatan kelembagaan hingga akhirnya BUMG-BUMG di Aceh memiliki beberapa desa yang langkahnya bisa diduplikasi oleh desa-desa di Aceh.(aryadjihs/berdesa.com)

Foto: Berdesa.doc

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*