Wajah Asli Swalayan Desa Bernama Swadesa (Bagian 2-Terakhir)

0
368

BERDESA.COM – Bayangkan sebuah tempat Anda bisa membeli berbagai keperluan sehari-hari dengan harga yang lebih murah, produk desa buatan tetangga dengan kualitas teruji dan kemasan yang ‘oke punya’. Hebatnya Anda juga bisa datang ke sana menawarkan produk desa yang Anda punya seperti makanan, kerajinan tangan dan lain-lain. Yang paling hebat, Anda bisa gratisan membuka internet melalui Smartphone Anda untuk melihat lapak Anda di toko online atau sekedar mengakses berita-berita produk yang sedang dicari.

Itulah Swadesa, swalayan desa yang  tak hanya menjual dan berharap semua orang datang untuk membeli dengan segala macam janji. Ini adalah toko yang melayani pembelian, penjualan produk desa sekaligus memiliki fasilitas online gratis bagi warga desa. Tujuannya satu: menciptakan produktivitas bagi warga desa. Apakah produk buatan orang-orang desa bisa bersaing dengan pabrikan?

Bukan rahasia lagi, produk pabrikan punya sederet keunggulan dibanding produk warga kampung, mulai dari kemasannya yang cantik, rasanya yang tidak pernah berubah, suplainya yang lebih dari cukup dan harga yang bisa ditekan lebih murah sekaligus jaringan distribusi yang luas bak gurita. Ditunjang lagi iklan dan propaganda yang penuh daya pikat lewat televisi dan seluruh jaringan media, belum termasuk papan-papan raksasa sepanjang jalan-jalan kota. Semua orang dikepung olehnya.

Baca Juga  Inilah BUMDesa-BUMDesa Terbaik se-Indonesia 2016 (Bagian-1)

Tapi mari kita simak lagi, siapa yang paling diuntungkan dari jaringan perdagangan itu? Para pemilik modal, itu jawabnya dan inilah yang menjelaskan kenapa 70 persen kekayaan negeri ini ada di tangan segelintir orang saja. Mereka adalah para pemilik modal yang memiliki pabrik, memproduksi segala jenis barang yang kita konsumsi dari mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Coba hitung berapa rupiah yang masuk ke kantung mereka dari satu orang saja setiap hari, bagaimana kalau itu juga terjadi pada 250 juta orang lebih penghuni negara ini?

Swadesa adalah sebuah inisiatif yang mempertemukan konsep bisnis berupa pemenuhan kebutuhan produk untuk masyarakat dengan produk yang dilahirkan bangsa sendiri, warga desa kita sendiri atau desa tetangga atau kabupaten tetangga. Pada tahap awal pastilah sulit keluar dari jerat memikatnya promosi barang-barang pabrikan itu. Tapi bukankah lebih baik uang kita berikan kepada saudara-saudara kita sendiri yang jelas butuh pendapatan daripada digelontorkan pada orang-orang yangs udah kaya-raya itu? Mungkinkah ini berjalan?

Baca Juga  Hubungan Mudik, Produk Desa dan Melalui Jual Beli Online

Swadesa bukan hanya sebuah konsep bisnis tetapi juga sebuah gerakan cinta produk Indonesia dengan cara yang lebih nyata, dengan pola yang modern seperti halnya yang dijalankan para pemegang modal, dengan teknik yang juga canggih berbasis internet dan teknologi informasi. Dengan kualitas yang juga teruji sebagaimana janji-janji mereka. Tapi bukankah sudah rahasia umum ada banyak produk yang sebenarnya membahayakan untuk dikonsumsi kalau kita tergantung produk pabrikan itu?

Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Klaten, Jawa Tengah bahkan telah melahirkan gerakan nan cerdas sejak setahun lalu hingga hari ini. Sejak lama warga Desa Pandes menyadari bayi-bayi mereka harus tumbuh sehat demi masa depan yang baik. Maka mereka menjalankan Baby Cafe, program pemberian makanan bayi dengan memanfaatkan tumbuhan yang tumbuh di tanah mereka sendiri dan menghindarkan bayi dari makanan pabrikan. Hasilnya, bayi-bayi mereka tumbuh sehat dan secara ekonomis cara ini menciptakan efisiensi yang luar biasa bagi para ibu rumah tangga yang memiliki bayi. Memanfaatkan potensi desa mereka sama saja memotong biaya yang sangat besar yang selama ini dihamburkan orang dengan berbelanja berbagai barang. Warga Pandes telah membuktikannya dengan cara yang cerdas.

Baca Juga  Simpan Pinjam BUMDesa Bisa Mendidik Manajemen Keuangan

Di Panggungharjo, Swadesa menjual berbagai produk hasil karya warga desanya sendiri dari mulai makanan kecil hingga kain lurik, jumputan dan aneka kerajinan nan cantik. Sistem Swadesa membuat barang-barang itu juga dipasarkan secara online ke seluruh wilayah negeri bahkan dunia. Di Panggungharjo itu kini bahkan seorang nenek-nenek yang tidak mengenal tulisan pun bisa menjual produknya di internet. Anak-anak muda di Swadesa menjembatani mereka.

Karenanya Swadesa haruslah dimiliki kelompok orang karena kebutuhan kelompok inilah yang akan memastikan toko ini berjalan sesuai visinya, menjual produk-produk lokal Indonesia. Jadi, Swadesa adalah sebuah cara membangun mencukupi kebutuhan ekonomi warga bangsa sendiri dengan produk yang dibuat sendiri. Agar uang yang kita keluarkan tidak malah tercurah pada orang-orang yang sudah kaya-raya itu melainkan warga bangsa yang memang membutuhkannya. Jadi, kenapa tidak kita mulai sekarang saja? (aryadji-habis)

Foto: www.mobiteckbali.com

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here