Wajah Asli Swalayan Desa Bernama Swadesa (Bagian 1)

Wajah Asli Swalayan Desa Bernama Swadesa (Bagian 1)

BERDESA.COM – Sekelebat, rumah itu seperti rumah-rumah lainnya di desa itu. Bedanya, halaman depan rumah ini memiliki tempat duduk seperti kafe dan selalu ada banyak orang di sana. Mereka bercengkerama sembari menyeruput kopi dan aneka minuman rempah dan anehnya, mereka adalah juga warga desa itu. Sejak kapan warga desa hobi nongkrong di kafe dan apa isi rumah itu sebenarnya?

Begitu memasuki rumah, tersingkaplah rahasia itu. Ada beberapa ruangan dan hampir semuanya berisi rak-rak barang yang tertata rapi dan urut. Anda akan dengan mudah menemukan sabun mandi karena berada dalam satu deretan dengan pasta gigi, sikat gigi, sabun muka dan sebagainya. Anehnya, hampir semua rak itu berisi produk buatan lokal, bahkan buatan warga desa sendiri atau desa-desa tetangga atau desa di seberang pulau, pendeknya semua produk desa asli buatan Indonesia. Mulai Shampo herbal, sabun hingga gula aren, minyak kelapa hingga aneka makanan ringan. Yang paling mengherankan, seluruh sudut ruangan toko ini bersih sekali.

Dua anak muda pria dan wanita menyambut dengan ramah kedatangan setiap tamu, mereka juga warga asli setempat. Mereka tidak hanya duduk melainkan menanyakan kabar, menanyakan kebutuhan dan menjelaskan berbagai produk lokal yang berjajar-jajar, satu persatu. Mereka ramah dan antusias dan berkali-kali menekankan agar setiap tamu memilih produk lokal karena ‘lebih jujur soal kualitas’ dan membeli produk lokal berarti menghidupi warga satu bangsa. Toko apakah ini?

Inilah Swadesa alias swalayan desa, toko milik warga desa yang menjual kebutuhan sehari-hari warga sekaligus menjualkan produk-produk asli buatan warga, dari berbagai desa seluruh nusantara tercinta. Seluruh kebutuhan sembako ada di sini juga bahan-bahan makanan seperti aneka tepung mulai dari tepung jagung, beras hingga labu kuning, semuanya produk desa dan karenanya sebagian besar rumah produksinya ada di desa-desa. Warung ini tidak menyediakan minuman pabrikan melainkan minuman segar seperi beras kencur, kacang hijau dan aneka minuman tradisional dalam kemasan yang apik dan dijamin sehat baik hangat maupun dingin. Kopi? Jangan tanya, ada beragam kopi di sini. Sistem pembayarannya modern, menggunakan komputer kasir nan canggih seperti umumnya minimarket modern.

Hanya saja anehnya, jika ada uang kembali, si kasir akan bertanya, apakah Anda berkehendak menabung? Jika ya, kasir akan buatkan Anda rekening dan tiap kali Anda belanja, Anda bisa menambah tabungan melalui pengembalian uang. Besaran uangnya? Bebas, Anda bahkan bisa menabung Rp. 150,- alias seratus limapuluh perak saja. Sistem kasir di toko ini dengan sendirinya akan mencatat uang Anda atas nama Anda sendiri dan Anda bisa check jumlah tabungan Anda sewaktu-waktu.   Jadi, toko ini mengajarkan Anda menabung. Tabungan Anda bisa dipanen tiap enam bulan sekali atau sesuai kesepakatan, dalam bentuk uang atau ditukar barang.

Yang bikin kaget adalah ternyata sebagian besar produk-produk desa tadi tidak hanya dijual di toko ini melainkan juga dijual di internet alias online. Jadi, Anda bisa mendapatkan barang-barang di toko ini dengan belanja online. Kok bisa? Ya, karena toko ini memang berjualan dengan dua cara sekaligus yakni melalui offline alias toko biasa maupun online melalui internet. Tapi apa mungkin produk lokal bakal ludes di serap masyarakat lokal? Ternyata Swadesa juga berdiri di desa-desa yang lain dan mereka saling terhubung dan bertukar produk agar terserap pasar. Soalnya, tidak mungkin kripik salak dan produk makanan turunan dari salak misalnya, hanya dijual di wilayah penghasil salak. Makanya harus dipertukarkan dengan toko lainnya. Belum lagi online-nya.

Swadesa memang didisain untuk menjadi gerbang pemasaran produk lokal utamanya desa. Sebelum dipajang produk-produk itu bakal mendapatkan kurasi dan quality improve atau peningkatan kualitas dari Tim Swadesa sehingga mencapai kualitas berdaya saing. Jika jenis makanan maka bakal dapat polesan mulai dari cita rasa, daya tahan, higienitas hingga kemasan yang cantik. Jika kerajinan maka Tim Swadesa bisa mendorong lahirnya disain-disain baru sehingga bisa bersaing dengan produk lainnya.

Jangan salah, Swadesa bukan milik perseorangan melainkan milik masyarakat atau kelompok masyarakat alias kolektif. Ini adalah sebuah bisnis model yang ingin mengangkat produk lokal agar bisa memasuki pasar luas tidak terbatas sekaligus bersaing dengan produk-produk yang selama ini lahir dari pabrikan. Mungkinkankah produk UMKM bisa bersaing dengan pabrikan? Bukankah produk pabrikan bisa lebih murah? (aryadji-Bersambung)

Foto: www.mobiteckbali.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*