Usaha Kreatif Daur Ulang Sampah

Usaha Kreatif Daur Ulang Sampah

BERDESA.COM – Sudah menjadi rahasia umum, apabila sampah menjadi salah satu persoalan besar di setiap daerah. Bahkan, untuk sekedar mengelola sampah, tahun ini Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta harus merogoh kocek sebesar Rp. 1,6 triliun.

Tidak adanya pengelolaan dan pengolahan sampah yang baik menjadi salah satu penyebabnya. Selama ini, pengelolaan dan pengolahan sampah hanya dilimpahkan kepada petugas kebersihan. Padahal, apabila sampah tersebut dikelola dan diolah sejak dari sumber sampah, maka sampah tak jadi persoalan besar.

Sudah semestinya penyelesaian masalah sampah tak bisa dilakukan hanya mengandalkan petugas kebersihan saja. Seluruh lapisan masyarakat juga harus turut bergerak menangani masalah sampah. Salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (reduce, reuse, recycle) dalam wujud bank sampah. Bank sampah berfungsi mengelola sampah dengan menampung, memilah dan mendistribusikan sampah ke fasilitas pengolahan sampah yang lain atau kepada pihak yang membutuhkan.

Sunyi Mencari Sumber Rejeki

Desa Sumberagung, Kecamatan Jetis, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu desa yang berhasil mengubah sampah menjadi sumber rejeki. Jika dulu sampah merusak pemandangan, kini mampu menghasilkan keuntungan. Jika dulu sampah adalah masalah besar bagi desa, kini telah mengantarkan Desa Sumberagung kian berdaya.

Agustina Sunyi, perempuan paruh baya tersebut menjadi sosok penting bagi bank sampah di Desa Sumberagung. Berawal dari kegelisahannya melihat sampah berserakan pasca gempa Yogyakarta, Agustina Sunyi bertekad mengubah sampah agar menjadi berkah. Tekad itu kemudian ia wujudkan dengan mengajak ibu-ibu di sekitarnya untuk mengunjungi lokasi Tempat Pengolahan Sampah (TPS).

Di lokasi TPS tersebut, Agustina Sunyi melihat sampah diolah menjadi aneka ragam kerajinan tangan, seperti tas yang terbuat dari bekas plastik-plastik kemasan. Ia pun membeli tas yang terbuat dari limbah plastik tersebut. Berawal dari itu, Ia pun tertarik membuat aneka kerajinan tangan berbahan baku limbah plastik. Namun, tekadnya tersebut tak langsung kesampaian. Sebab, ia tak punya keterampilan menjahit. Lalu, pada 2009, Ia pun memutuskan kursus menjahit. Sejak itu, ia pun terampil menjahit dan mampu membuat kerajinan dari limbah plastik.

Pada Juni 2009 menjadi momentum tak terlupakan bagi Agustina Sunyi. Sebab, saat itu, ia bisa mengikuti pameran mewakili kecamatan Jetis di Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Berkat pameran tersebut, ia pun kebanjiran pemesanan hingga pasokan bahan bakunya pun ia tambah dengan cara membeli di TPS. Bahkan, sejak pameran itu, mulai banyak konsumen yang berdatangan, termasuk pembeli dari Jerman. Saat itu, ada 18 item yang diborong dan satu item dibeli dengan jumlah dua lusin.

Sejak saat itu pula, ia rajin mengikuti beragam pameran kerajinan tangan di berbagai tempat. Oleh karena pemasaran yang berkembang pesat, ia pun mengajak warga sekitar untuk mendirikan bank sampah di Dusun Bulus Wetan, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Tujuannya sebagai sarana pemenuhan bahan baku sekaligus mengajak warga sekitar agar bisa menikmati berkah dari sampah.(bd01)

Foto: www.bantenprov.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*