Uniknya Pelatihan BUMDesa, Cara Cepat Membangun Desa

Uniknya Pelatihan BUMDesa, Cara Cepat Membangun Desa

BERDESA.COM – Jika banyak desa kebingungan mengajak anak muda berjuang membangun desa, tidak demikian semangat anak muda di Desa Kedungsumur, Krembung, Sidoarjo, Jawa Timur. Tengok langkah Mohammad Miftahul Huda, meski bahkan belum genap berusia 30 tahun, Miftahul mantap menerima jabatan Sekretaris Desa alias Carik. Semangat belajarnya juga luar biasa,  Miftahul bahkan memilih mengikuti Pelatihan Private (Private Training BUMDES) yang digelar Usaha Desa Sejahtera (Usdes) demi menimba ilmu mengenai BUMDesa.

Dengan penuh semangat bapak satu anak ini melawat ke Yogyakarta demi mengikuti Pelatihan Pendirian dan Pengembangan BUMDesa untuk desanya tercinta. Uniknya, Miftahul memilih mengambil kelas khusus yang pesertanya hanya satu yakni dirinya sendiri. Alasan Miftahul sederhana, menjadi peserta sendirian dan langsung diskusi dengan nara sumber bakal memberinya materi yang jauh lebih dalam dan interaktif dibanding jika mengikuti secara berombongan.

“ Begitu mendengar ada program yang memungkinkan saya mengikuti pelatihan sendiri, saya langsung tertarik,” katanya di sela pelatihan yang digelar di Desa Dlingo, Bantuk, Yogyakarta, Mei 2017 lalu. Hasilnya? “ Saya bisa melakukan banyak diskusi dengan para narasumber yang sangat kompeten dan menggali pengalaman mereka dalam membangun desa. Ini jauh lebih maksimal dibanding pelatihan dengan peserta yang banyak,” katanya lagi.

Pada materi mengenai manajemen organisasi BUMDesa misalnya, Miftahul berbincang santai dengan Kepala Desa Dlingo Bahrun Wardoyo, salahsatu kepala desa yang banyak melahirkan prestasi. Di tangan Bahrun, Desa Dlingo yang dulu disebut desa tertinggal kini menjadi salahsatu desa rujukan belajar bagi banyak desa lain dalam pengelolaan BUMDesa dan program Sistem Informasi Desa. “ Saya langsung mendapat cerita bagaimana proses perjuangan kepala desa Dlingo mencapai prestasi itu,” kata Miftahul.

Bukan itu saja, bersama Tim Pemateri dari Usdes Miftahul juga langsung merasakan bagaimana suasana kantor desa ketika menjadi salahsatu peserta unggulan Lomba Desa dan keluar sebagai salahsatu juara. “ Saya bahkan tidak pernah membayangkan situasi kantor desa yang begitu hidup, aktif dan mampu menciptakan banyak lompatan seperti ini,” katanya.

Dalam pelatihan ini pula Miftahul menjadi lebih memahami potensi desa tempatnya bertugas. Ternyata, katanya, usaha yang bisa dibuka BUMDesa sesungguhnya sangat banyak pilihan. “ Selama ini banyak perangkat yang merasakan urusan BUMDesa itu lebih banyak menimbulkan beban dibanding prospek baik yang diembannya. Tapi kini saya menjadi paham bahwa BUMDesa adalah alat menggapai langkah kesejahteraan yang sangat prospektif, unik dan sangat menantang,” ujarnya kepada Berdesa.com.

Pelatihan ini adalah salahsatu program pelatihan yang dihelat Usaha Desa Sejahtera. Secara terjadwal, perusahaan sosial yang fokus memberdayakan ekonomi desa ini menggelar berbagai pelatihan mulai dari Pendirian, Pengelolaan dan Pengembangan BUMDesa. Program Pelatihan Usdes bisa digelar secara berombongan atau hanya beberapa gelintir peserta sekalipun. Tak hanya itu, ada pula program mendampingi desa yang ingin belajar ke desa berprestasi. Usdes siap memilihkan obyek kunjungan, desa yang layak menjadi tempat belajar sekaligus mengawal kegiatan kunjungan sehingga para peserta kunjungan mendapatkan materi sesuai kebutuhan.

Salahsatu punggawa Usdes pada Departemen Pelatihan Ervita Dwiastutik mengatakan, Training Program Usdes memang selalu memastikan para peserta pulang dengan membawa solusi konkrit bagi masalah yang dihadapi desanya. “ Makanya kami merancang program pelatihan yang memadukan berbagai model demi mendapatkan disain pelatihan yang bisa memberikan wawasan yang jelas, fokus dan realistis bagi peserta,” katanya.

Soalnya, kata Ervita, ada banyak pelatihan yang telah diikuti para perangkat desa baik yang digelar pemerintah maupun lembaga-lembaga pemberdaya.  Tetapi sebagian dari peserta bukannya mendapat solusi bagi masalah desa melainkan malah bingung dengan materi yang mereka dapatkan dalam pelatihan. Soalnya, sebagian pemateri tidak memahami peta persoalan desa. “ Padahal mereka sudah datang dari jauh dengan biaya yang tidak sedikit. Sayang sekali kalau mereka pulang dengan tanpa mendapatkan hasil,” kata Ervita.

Menjawab persoalan itu Usaha Desa merancang konsep pelatihan yang mampu menjawab persoalan desa sekaligus menfasilitas para peserta melakukan analisa terhadap potensi dan kebutuhan desanya sendiri dengan memberikan berbagai materi yang mendukung penggalian ide para peserta sendiri. Usdes juga terus mengawal proses realisasi para peserta pelatihan usai mengikuti program.

USDES terus mendorong para peserta usai pelatihan hingga mampu melahirkan program pemberdayaan ekonominya sendiri dengan berbagai dukungan materi melalui online dan jejaring antardesa. Sejauh ini, ribuan desa telah menjadi anggota jaringan antardesa yang dibangun Usdes dan aktif membangun diskusi melalui forum-forum online. Bagaimana dengan desa Anda? (aryadjihs/berdesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*