UKM Jahe Herbal Karya Tunanetra

UKM Jahe Herbal Karya Tunanetra

Artikel Hilma Awalina

Ajat Sudrajat dan Tihana adalah dua sahabat penyandang tunanetra. Mereka hingga kini dengan kompak menjalankan sebuah usaha pembuat minuman herbal jahe di Tanjung Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Menurut Ajat Sudrajat dan Tihana, bisnis pembuatan herbal jahe yang kini mereka jalankan berawal dari usaha coba-coba yang dirintis Tihana secara mandiri. Ketika masih sekolah di SMA, Tihana bertekad meneruskan pendidikan hingga perguruan tinggi. Ia berkali-kali berusaha mendapatkan beasiswa, namun selalu gagal. Karena itu ia terpikir membuka usaha untuk membiayai pendidikannya.

Berawal dari Ketidaktahuan

Suatu ketika Hana membeli sejumlah jahe untuk diracik menjadi minuman herbal. Sebelumnya ia tidak tahu bagaimana cara membuat minuman herbal jahe. Tapi, sifatnya yang selalu penasaran dan ingin tahu membuatnya nekat mencoba. Modalnya hanya sebuah resep yang pernah ia baca. Kenekatan itu membuahkan hasil. Hana terus mengembangkan racikan hingga akhirnya punya resep sendiri. Hana pun menekuni produksi dan menjual sendiri minuman herbal jahe itu. Hasilnya ia gunakan untuk menambah biaya sekolah dan tabungan untuk biaya kuliah setamat SMA.

Setelah beberapa lama Hana berusaha mandiri, Ajat selaku teman sekaligus Ketua DPW Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jakarta mengajak Hana menjalankan usaha bersama teman-teman tunanetra lain. Hana menyambut baik ajakan itu. Selain ingin memajukan usaha, ia pun ingin membantu teman-teman penyandang tunanetra mendapatkan pekerjaan. Pada tahun 2008 berdirilah kelompok usaha bersama yang kemudian diberi nama KUBE Hastakarya. Ajat dan Hana mengajak para pemuda tunanetra usia 20 tahun ke bawah untuk menjalankan usaha itu. Mereka menerima sumbangan modal awal dari Kementerian Sosial Rp 9 juta. Uang itu dibelikan alat-alat produksi seperti blender, oven, juicer, wajan, dan kompor. Uang modal tersebut juga dibelanjakan bahan baku jahe.

Berbagai Tantangan

Dalam segala keterbatasan sebagai tunanetra, Ajat dan Hanya menjalankan kelompok usaha bersama produksi minuman herbal jahe itu dengan profesional. Mereka sangat menjaga keaslian produksi sebagai minuman herbal jahe tanpa bahan pengawet. “Hal itu membuat produk kami hanya boleh dikonsumsi 4 sampai 5 bulan dari masa produksi. Hal tersebut juga membuat harga produksi kami lebih mahal,” jelas Ajat.

Ajat dan teman-teman menjual minuman herbal jahe kepada teman atau orang lain yang memiliki usaha pijat sebagai suplemen kesehatan. Mereka juga menawarkan minuman tersebut ke rumah-rumah sakit, kantor, teman organisasi, dan lingkungan permukiman di berbagai wilayah di Jakarta. Mereka juga memasarkan minuman itu melalui teman-teman di Bandung, Sukabumi, dan Manado. Mereka juga melakukan strategi pemasaran jemput bola, dengan menawarkan atau menjual langsung pada saat ada acara atau pameran yang berkaitan dengan tunanetra.

Seiring dengan pengembangan usaha itu, mereka terus melakukan berbagai inovasi. “Sejauh ini banyak konsumen yang bilang produk kami enak,” ujar Ajat.

Persaingan Pasar

Belakangan banyak beredar produk minuman jahe buatan pabrik. Karena diproduksi secara massal, harganya jadi lebih murah. Namun, Ajat dan Hana tidak khawatir. Banyak minuman jahe buatan pabrik yang beredar di pasaran mengandung bahan pengawet dan kemungkinan sudah kedaluwarsa. Tapi banyak konsumen yang memang penikmat minuman herbal jahe bisa membedakan mana yang murni dan tanpa bahan pengawet, sehingga mereka tetap memilih produksi KUBE Hastakarya meski harganya sedikit lebih mahal. “Biasanya mereka datang pada kami, jika yang mereka beli sudah habis,” jelas Ajat.

Selain soal harga, kendala usaha yang dikelola Ajat dan Hana ini terbilang masih skala kecil dan belum memiliki merek dagang dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Hal itu cukup menghambat pemasaran produk HUBE Hastakarya. Produk mereka tak cukup untuk meyakinkan konsumen dibandingkan dengan merek-merek lain dan yang lebih murah. Ke depan, Ajat dan Hana sedang mengusahakan mendaftarkan dan memiliki hak paten produk. “Untuk mendapatkan daftar dagang itu kan juga tidak mudah. Harus ada tes uji produk. Ya, sambil dijalani, itu menjadi proses. Kami juga ingin memperluas pangsa pasar,” kata Ajat.

Namun, sebagai gambaran, KUBE Hastakarya setiap bulan memproduksi sekitar 500 pak herbal jahe. Satu pak terdiri atas 7 bungus (sachet). Biaya produksi satu pak rata-rata Rp 15.000 dan dijual Rp 22.000. Jadi, satu bulan rata-rata mendapat keuntungan sekitar Rp 3,5 juta. Keuntungan ini dibagi rata antara Ajat, Hana, dan empat teman yang lain. Meskipun tak banyak, mereka sudah cukup bersyukur usaha ini telah banyak membantu.

Ajat dan Tihana berharap usaha ini dapat berkembang dan menunjang ekonomi lebih banyak teman penyandang disabilitas. Dengan dukungan dari teman-teman dan masyarakat, usaha ini bisa melebarkan sayap di pasaran. “Karena, kalau kita bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri, akan mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang cacat seperti kita,” kata Ajat. Prinsip dan semangat yang patut diapresiasi. Disabilitas memang tidak boleh jadi penghalang. Bakat, kemampuan, potensi harus digali dan dikembangkan. Disabilitas pasti bisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*