Triple Helix Sebagai Penopang Konsep OVOP

Triple Helix Sebagai Penopang Konsep OVOP

Konsep One Village One Product (OVOP) dapat menjadi bagian dari konsep ekonomi kerakyatan, dimana ekonomi kerakyatan sendiri adalah sistem ekonomi yang menekankankan pada keadilan dalam penguasaan sumberdaya ekonomi, proses produksi serta konsumsi. Dalam ekonomi kerakyatan ini kemakmuran rakyat lebih diutamakan daripada kemakmuran individu.

Konsep pengembangan ekonomi kerakyatan diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi kerakyatan pada era otonomisasi saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif teritorial. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‘regionalisasi’ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi, keunggulan, peluang, dan karakter sosial budaya (Benu, 2002).

Wujud dari ekonomi kerakyatan ini adalah lahirnya UKM-UKM dan juga koperasi sebagai pilar pembangunan ekonomi di Indonesia. Penguatan pilar-pilar ini tentu merupakan sebuah keharusan demi tercapainya tujuan dasar dari prinsip ekonomi kerakyatan. Dan konsep OVOP dapat menjadi kebijakan dalam penguatan pilar ekonomi kerakyatan ini.

Triple Helix merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan peran serta dan kerja sama tiga elemen pembangunan yaitu pemerintah, pengusaha, dan kaum intelektual. Sebagai konsep, gagasan utama Triple Helix adalah sinergi kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi kondusif. Konsep Triple Helix ini, dalam menerapkan OVOP merupakan elemen stakeholder yang mencakup semua sektor dan memiliki keterkaitan yang saling menunjang dalam melaksanakan OVOP.

Sebagaimana istilah “Triple Helix” untuk mengembangkan OVOP diperlukan peran tiga pihak yaitu pemerintah, swasta dan intelektual yang wajib menopang usaha kecil menengah (UKM). Setiap potensi yang dimilki oleh UKM difasilitasi oleh pemerintah, didorong bisnis dan kewirausahaannya oleh pihak swasta dan diciptakan mekanisme yang lebih baik dalam menghasilkan serta meningkatkan kualitas produk oleh pihak intelektual. Dengan cara ini, produk-produk lokal Indonesia dapat lebih dikenal, dipercaya dan dipilih oleh masyarakat.

Secara berkesinambungan diperlukan peran Triple Helix untuk mendukung perkembangan UKM tersebut. UKM sendiri, agar terus dapat eksis dan mampu meningkatkan daya saing produk-produk mereka dalam perdagangan pasar nasional maupun pasar internasional, perlu memiliki jejaring dengan sesama UKM sesuai bidang geraknya dan terus melakukan interaksi positif seperti:

  1. Berbagi gagasan
  2. Dialog terbuka
  3. Berbagi pengalaman
  4. Berbagi pengetahuan
  5. Networking
  6. Toleran
  7. Saling bersinergi.

Kegiatan ini selain bertujuan untuk memupuk semangat kebersamaan, juga untuk mendorong terciptanya produk-produk baru, membuka inovasi, serta mendorong terus pengembangan skill untuk peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing. Dengan adanya skema interaksi tersebut, UKM-UKM dalam jejaring komunitas akan dapat terus berkembang secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*