Toko Tani Indonesia Akan Mengakhiri Derita Petani, Caranya?

0
5708

Berdesa.com –  Bukan rahasia lagi, hingga hari ini kehidupan petani di Indonesia belum juga sejahtera. Ketika panen tiba harga produk hasil pertanian longsor, petani tak beroleh apa-apa. Ironinya ketika paceklik tiba dan harga kebutuhan pokok melonjak tinggi, tetap saja petani tidak mendapatkan laba bahkan malah merugi.

Salahsatu penyebabnya adalah perilaku pihak yang menjembatani produsen ke konsumen alias para pedagang. Posisi para pedagang yang berada di tengah-tengah (middle man)  inilah yang dari dulu hingga kini ‘memainkan harga’ hanya demi keuntungan mereka sendiri. Caranya, menciptakan disparitas harga yang tinggi.

Salahsatu polanya begini, harga beras medium di penggilingan Rp. 7.300 – 7.500/kg, tetapi di pasar bisa mencapai Rp. 8.500 – 8.600/kg. Harga bawang merah di tingkat petani Rp.7.000 – 15.000/kg, tetapi di pasar Rp. 17.000 – 25.000/kg dll. Ini terjadi akibat terlalu kuatnya para middle man dalam menentukan harga. Sehingga, keuntungan pedagang jauh lebih tinggi (baca: berlipat) dibanding petani sebagai produsen dan konsumen.

Baca Juga  Bulog dan BNI Siap Genjot Hasil Pertanian Pasca Panen

Bak jatuh tertimpa tangga, Bulog yang seharusnya melindungi petani dari cengkeraman para middle man belum mampu menyerap produk dari petani secara maksimal. Lalu malah menyerap produk dengan bergandeng-tangan dengan pedagang. Akibatnya rantai distribusi tambah panjang dan parahnya, kelompok middle man semakin kuat menekan petani dan keuntungannya makin meraksasa. Nasib petani?

Bulog sendiri, yang bermaksud menjadi penyangga dan stabilisatir harga hingga saat ini baru mampu menyerap beras dari petani pada kisaran 6-7 persen dan belum signifikan mengelola produk lain seperti jagung, kedelai, cabai, bawang merah, gula dan sapi. Jadi di luar beras, kuasa para pedagang jauh lebih besar lagi.

Situasi itulah yang membuat Kementerian Pertanian lalu melahirkan Program Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUMP). Gerakan ini dilahirkan untuk menjaga harga ditingkat produsen dan konsumen, memperpendek rantai pasok, mempermudah aksesibilitas harga pangan di tingkat kosnumen dan mengurangi keuntungan pedagang perantara sekaligus merubah struktur pasar yang selama ini berjalan dan merugikan petani itu.

Program Kementerian ini berupa Toko Tani Indonesia (TTI). TTI adalah program nyata yang dibangun untuk memerangi gejolak harga yang merugikan petani dan membangun ketahanan pangan nasional. Toko inilah yang bakal beraksi agar konsumen mendapatkan harga yang wajar ketika membeli produk pertanian, rantai pasokan produk pertanian dari produsen ke konsumen menjadi lebih pendek.

Baca Juga  Peluang Usaha Budidaya Singkong Di Tanah Tapis Berseri Lampung

TTI berbentuk toko yang menyediakan beragam produk pertanian dengan harga yang sangat ramah alias murah bagi masyarakat. Siapa yang menjalankan toko ini? Adalah warga masyarakat juga.  Jadi, sekarang ini masyarakat bisa bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dengan menjadi pihak yang mengelola TTI. Sampai November 2017 ini sudah terbangun 1800 TTI. Tahun 2018 ditargetkan pemerintah bakal membuka 3000 TTI di daerah penyangga pasar dan 2019 menargetkan 5000 TTI di seluruh Indonesia.

Bagaimana cara menjadi Toko Tani Indonesia, ini syarat-syaratnya:

  1. Pedagang pangan/sembako
  2. Memiliki tempat usaha
  3. Berlokasi strategis, dapat masuk mobil
  4. Memiliki SIUP/NPWP/UD/minimal surat izin usaha dari desa/ kelurahan;
  5. Berpengalaman dalam perdagangan
  6. Tidak sedang bermasalah dalam hutang/piutang
  7. Sanggup melakukan kontrak kerjasama dengan Gapoktan/UKM sebagai produsen kebutuhan TTI.
  8. Sanggup membuat pembukuan dan pelaporan secara tertib dan periodik,
  9. Menjual produk pangan TTI,
  10. Membuat catatan transaksi penjualan

Jika Anda memenuhi beberapa persyaratan ini Anda tinggal mengajukan diri ke Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten/Kota dan mengisi form TTI yang disediakan. Pihak Dinas akan melakukan verifikasi pada lokasi dan usaha yang Anda miliki untuk menjadi pertimbangan ditetapkan sebagai Toko Tani Indonesia. Mudah bukan, jadi kenapa tidak membukanya sekarang? (aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here