Telo’s, Produk UMKM yang Melejit 500 Persen

berdesa.com : telo's

BERDESA.COM – Tiga orang pegiat UMKM seperti keping-keping puzzle yang menyatu dalam satu gambar. Tiap orang memiliki ruang yang pas di antara dua lainnya. Mereka saling melengkapi dengan cara yang unik hingga lahirlah Telo’s, olahan ketela dengan enam varian yang dalam tempo satu bulan mampu menggenjot pemasaran hingga 500 persen.

Mereka adalah Nike Triwahyuningsih, Yusuf Anggoro Bakti dan Untoro Hadi Suharto, ketiganya warga Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Jangan salah, mereka sama sekali bukan teman sebaya dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Nike Triwahyu adalah perempuan ramah berusia 50 tahun, pekerjaan utamanya dosen, pegiat penguatan UMKM, menjadi pengurus di berbagai komunitas pemberdayaan ekonomi dan membina banyak kelompok ekonomi pedesaan.

Untoro Hadi adalah anak muda lulusan sarjana Teknik Informatika, sejak di kampus sudah aktif melanglangi internet marketing dan manajerial perusahaan. Yusuf Anggoro adalah lulusan UIN Kalijaga penghobi disain grafis dan aktif berorganisasi di berbagai lembaga. Ketiganya bertemu beberapa bulan lalu, merumuskan sebuah ide sederhana: melahirkan produk makanan berbasis ketela.

berdesa.com : Nike TriwahyuIdenya sederhana tapi prosesnya bukan main-main. Nike yang berkali-kali melakukan penelitian mengenai ketela bertugas mencari varietas ketela unggul sekaligus menyeleksi berbagai produk untuk menemukan produk UKM mereka. Untoro Hadi bertugas memelototi layar komputer dan smartphone demi membentuk sistem pemasaran berbasis online, bersenjata utama sosial media.

Akan halnya Yusuf Anggoro ketiban tugas sesuai bidangnya, merancang berbagai disain mulai dari perwajahan website hingga disain kemasan. Tapi kadang juga harus rela hilir mudik mengawasi kualitas bahan baku.

“ Butuh empat bulan untuk menemukan jenis ketela yang kami inginkan,” ujar Nike. Selama empat bulan itu mereka puluhan kali mencicipi produk, meracik berbagai cita rasa, bekerja sama dengan puluhan produsen makanan berbasis ketela yang banyak bertebaran di Yogyakarta. “ Setelah yakin dengan formula yang kami inginkan, kami memutuskan memulai produksi, 1 Maret lalu. Kami memproduksi enam varian yakni berbentuk kripik alias Chip, stik sampai brownies untuk pasar lokal,” lanjut Nike. Mereka memiliki rumah produksi yang mempekerjakan 15 orang.

Awalnya mereka memproduksi Telo’s chip, bentuknya mirip emping lalu mulai menciptakan formula untuk varian lain. Tanpa menunggu waktu Untoro lalu bergerak melalui sosial media. Dengan cepat mereka berhasil membangun jaringan penjualan (Reseller), sebagian besar adalah para ibu rumah tangga. Hasilnya, hanya dalam satu bulan saja, makanan yang awalnya diproduksi sebanyak 10 kilo dalam satu minggu itu melejit menjadi 15 kilo sehari dan menyebar dalam bentuk 300-an bungkus per hari.

Pemasaran utama berbasis komunitas online yakni teman-teman, kolega dan komunitas yang dimiliki ketiga orang ini. Cita rasa yang enak, kemasan yang sederhana tetapi menarik dan nama yang gampang diingat membuat snack besutan tiga serangkai ini cepat ludes di pasaran. “ Pemesan makanan kami hingga Ponorogo, Jawa Timur,” kata Nike. Kini produk mereka sudah masuk ke Usahadesa.com dan siap menggoyang lidah warga nusantara.

Kepintaran membangun dan memanfaatkan jaringan pertemanan membuat produk desa ini segera mengundang ketertarikan para pengusaha lain. Meski baru berusia seumur jagung, UKM ini sudah dilirik banyak pemilik modal. Lajunya juga makin cepat, merek Telo’s sudah menjadi milik perusahaan ini sekarang dan pertengahan April memastikan diri membuka gerai pertama di Jl. Perintis Kemerdekaan, dekat XT Square, Umbulharjo, Yogyakarta. “ Itu adalah gerai, tempat produksi sekaligus kantor pusat,” kata Untoro.

Telos juga mendapat banyak tawaran untuk kerjasama penjualan. “ Beberapa perusahaan makanan yang memiliki jaringan gerai meng-kurasi produk kami dan hasilnya Telo’s dinyatakan berkualitas baik dari citarasa, higienitas maupun kemasannya. Mereka menawari produk kami untuk dijual di gerai-gerai mereka,” jelas Untoro. Alhasil, kini Telo’s sudah bertengger di berbagai gerai supermarket di Kota Gudeg. Beum lagi para reseller yang bertebaran di berbagai kota. “ Harga di gerai kami sama dengan harga yang dibandrol para reseller. Ini kami lakukan agar reseller bisamengembangkan pemasarannya secara optimal,” ujar Untoro membeber strategi dagangnya.

Jika sebagian UKM kesulitan membangun pasar dan meningkatkan volume produksi, Telo’s yang bakal meluncurkan beberapa varian baru ini justru sebaliknya, belum mengiyakan berbagai permintaan karena volume permintaannya kelewat besar. “ Kami masih menge-rem produksi, kawatir produksi kami tidak bisa memenuhi target permintaan soalnya kami harus memastikan dulu ketersediaan bahan baku,” kata Yusuf.

Saat ini saja mereka sudah harus mendatangkan bahan baku dari luar Yogyakarta karena volume produksi yang terus meningkat.” Sebagian ketela yang kami olah kami datangkan dari Wonosobo dan beberapa kota lainnya. Kami sedang mengenjot untuk bisa memproduksi 1000 bungkus sehari,” kata Yusuf.

Uniknya, karena ketiganya adalah para pegiat komunitas UMKM, maka ketiganya selalu terbuka dan berusaha menyediakan waktu bagi UMKM-UMKM lain yang ingin belajar dari mereka mengenai berbagai hal yang mereka capai saat ini. “ Kami bekerjasama dengan Usahadesa.com untuk mendorong berkembangnya UMKM, berbagi beragam informasi mengenai teknik pemasaran dengan UMKM lain dan sebagainya. Kami ingin mengajak UKM-UKM memanfaatkan jaringan online untuk pemasaran karena kesempatannya sangat terbuka lebar,” kata Yusuf. (dji-1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*