Telah Lahir SWADESA, Si Jawara Pemasar Produk Desa

Telah Lahir SWADESA, Si Jawara Pemasar Produk Desa

BERDESA.COM – Mimpi besar warga desa merebut pasar lokal dan sekaligus bisa bersaing dengan produk-produk pabrikan mendapatkan jawabannya. Namanya Swadesa, sebuah kekuatan ekonomi baru berbasis produktivitas warga desa yang didisain secara unik agar produk desa dan lokal Indonesia bisa bersaing dengan produk pabrikan dan asing yang kini menguasai pasar nusantara. Sehebat apa Swadesa?

Mengambil semangat gerakan Swadesi di India yang berarti memanfaatkan produk yang dihasilkan negeri sendiri, Swadesa adalah bisnis model yang menggabungkan produk berkualitas dari berbagai pelosok nusantara terutama wilayah pedesaan dan para pelaku usaha lainnya lalu memasarkannya melalui dua jalur sekaligus yakni offline melalui jaringan toko di berbagai wilayah Indonesia dan online melalui E-Commerce www.usahadesa.com.

Sebagai sebuah toko Swadesa pertama lahir di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Uniknya, toko ini bertengger di Komplek Pom Bensin Jalan Parangtritis KM 4,5 di desa ini. Membagi diri menjadi dua ruangan seluas 70 meter, ruangan pertama berisi rupa-rupa makanan ringan dan sebuah tren baru: Kafe Rempah. Misinya tidak main-main, Swadesa Panggungharjo ingin membangun isu pentingnya hidup sehat dengan mengkonsumsi minuman menyegarkan sekaligus membuat tubuh sehat sentosa. Aneka minuman seperti beras kencur, jahe, jahe campur sereh dan wedang uwuh, ramuan beragam bahan rempah alami khas Jogja, ada di sini. Hampir seluruh produk asli kreativitas warga Panggungharjo.

Pengunjung bisa langsung ‘menyeruput’ hangatnya wedang uwuh yang masyhur itu langsung di mini bar di toko ini. Para pengunjung pom bensin yang pingin menyegarkan tenggorokan juga bisa menenteng beras kencur dingin dalam kemasan. Jangan salah, meski sebagian besar produk dipasok warga desa tetapi kualitas tidak main-main, kemasannya juga tak kalah elok dengan produk makanan pabrikan.

Ruangan kedua disebut Galeri Produk Panggungharjo. Isinya aneka rupa barang kerajinan mulai dari dompet kulit hingga lukisan, dari kalung hingga patung ‘nenek-nenek susuran’. Inilah pula ruangan yang menyajikan produk unggulan Panggungharjo yakni lurik dengan beragam corak memesona, kain jumput yang dibuat sangat terbatas dengan corak menyejukkan mata juga beragam produk rajut tangan-tangan unggul desa ini. Sekedar informasi, Panggungharjo adalah Desa Terbaik se-Indonesia tahun 2015 lalu dan kondang sebagai Kampung Dolanan karenanya beragam mainan anak tradisional juga tersedia di toko ini. Buktikan saja sendiri dan siap-siaplah terkejut karena ternyata dari sebuah desa saja ada begitu banyak karya luar biasa.

Inilah keunikan Swadesa, membeli produk lokal, mengajarkan cara mengemas produk dengan baik, mengajak semua warga desa berkreativitas lalu menjual hasil kreativitas mereka. Tapi bagaimana barang bisa terjual jika toko hanya dikunjungi orang yang juga lokal? Swadesa tidak hanya mengandalkan orang yang langsung datang ke toko. Tahukah Anda, hampir seluruh produk di toko ini bisa dilihat, dicermati detailnya dan dibeli secara online melalui www.usahadesa.com, dari manapun dan kapanpun dari sudut bumi mana saja. Jadi, toko ini memiliki dua lapak sekaligus, offline alias toko biasa dan offline alias toko di internet jagat maya.

Jembatan bagi Warga Desa dan UKM

Ide Swadesa dicetuskan oleh Ari Adji HS, salah satu punggawa PT Usaha Desa Sejahtera. Ide ini dia rancang untuk membuka peluang bagi para produsen di wilayah pedesaan di seluruh nusantara dan usaha-usaha kecil agar bisa memanfaatkan internet untuk membangun kapasitas usaha. “ Dari sekitar 56 juta UKM di Indonesia, tak sampai 10 persen yang memanfaatkan internet untuk memasarkan produk atau belanja untuk memenuhi kebutuhan produknya. Ada banyak kendala mulai dari masalah gaptek, tak punya waktu online, masalah kualitas produk, volume produksi yang tidak stabil hingga masalah ketidakpercayaan diri karena kapasitas usaha yang masih kecil. Swadesa bisa menjawab sebagian besar masalah itu,” ujar Adji, sapaan lulusan Fisipol Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu. Maka lahirlah konsep Swadesa.

“ Swadesa adalah sebuah tempat semua orang membeli kebutuhannya sekaligus menjual produk yang dia butuhkan baik secara offline layaknya toko biasa maupun online sebagaimana E-commerce. Jadi, warga sebuah desa yang merantau di Jakarta bisa membeli makanan khas daerahnya dari Swadesa yang ada di desanya secara online karena hampir semua produk yang dijual di toko Swadesa ada di usahadesa.com. Bisa juga seorang asal sebuah desa belanja aneka produk dan dibayar secara online untuk bisa diambil secara offline oleh keluarganya dari Swadesa di desa tersebut,” kata Aji. Bentuk Swadesa juga bakal beragam. “ Bisa berupa minimarket aneka kebutuhan sehari-hari hingga toko makanan atau camilan seperti di Panggungharjo. Sesuai potensi desa tempat Swadesa berdiri,” jepasnya.

Siapa pemilik toko atau unit usaha Swadesa?

Managing Director PT Usaha Desa Sejahtera Mohammad Najib menyatakan, Swadesa bisa dimiliki siapa saja, terutama kelompok masyarakat atau kolektif baik melalui BUMDesa, koperasi, kelompok kegiatan warga desa, kelompok profesional bahkan sekelompok ibu-ibu arisan. Seperti Swadesa Panggungharjo yang menjadi unit usaha BUMDesa Panggungharjo. “ Sebagai unit usaha Swadesa adalah milik kelompok masyarakat. Tetapi proses pembentukan, sistem manajemen dan jaringan interkoneksitasnya dijalankan sepenuhnya oleh PT Usaha Desa Sejahtera. Kamilah yang akan membuat seluruh Swadesa terkoneksi satu sama lain secara online sehingga terciptalah pasar yang berlipat besarnya sekaligus jaringan pasar yang tidak terbatas,” katanya.

Semua orang, kata Najib, tinggal buka www.usahadesa.com, di dalamnya bakal ada daftar Swadesa beserta produk-produk yang dijual pada masing-masing toko yang bisa dibeli online. “Kami telah membangun jaringan transaksi antara Swadesa sebagai toko Offline dan Usahadesa.com sebagai toko Online dalam satu jalur transaksi yang mudah bagi siapa saja. Termasuk transaksi jual beli antarSwadesi sendiri. Soalnya, salahsatu yang akan terjadi adalah Swadesa di sebuah desa di Jawa bisa kulakan atau beli produk dari Swadesa di pulau yang lain untuk dijual di Swadesa dengan harga grosir,” kata Najib.

Kepala Desa Panggungharjo Wahyudi Anggoro Hadi menyatakan, ketertarikan BUMDesa Panggungharjo pada Swadesa karena berbasis pada produktivitas warga desa. ” Ini bisa memicu peningkatan kualitas produk lokal untuk bisa bersaing dengan produk pabrikan yang saat ini menguasai pasar. Kami sangat serius mendorong pentingnya membeli produk lokal Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Soalnya, itu basis masyarakat mandiri ekonomi,” kata Kepala Desa Terbaik se-Indonesia ini. Maka, jadilah Panggungharjo bekerjasama dengan PT Usaha Desa Sejahtera sebagai desa pertama di Indonesia yang melahirkan Swadesa.(ary adji-2/berdesa)

Foto: Berdesa.doc

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*