Tampar Kepala Desa, Dandim Rembang Dicopot

Tampar Kepala Desa, Dandim Rembang Dicopot

Berdesa.com – Ada peristiwa mengagetkan pada Rapat Pengawasan Dana Desa yang digelar di Pendopo Museum Kartini, Rembang, Jawa Tengah, Jumat (10/11) lalu. Dandim 0720/Rembang, Letkol (Inf) Darmawan Setiyadi yang sedang memberikan pengarahan di podium di depan puluhan kepala desa se-Kabupaten Rembang tiba-tiba memanggil salahsatu kepala desa ke atas panggung. Lalu Pak Dandim menampar Muhamad Hilaludin, Kades Jambangan, Kecamatan Sarang.

Tindakan itu sontak membuat gaduh forum yang tadinya adem ayem. Ada apa ini? Lalu Dandim menyatakan, tindakan itu dia lakukan karena dia melihat Muhammad Hilaludin dinilainya tidak serius alias menyepelekan dirinya dengan tidak memperhatikan apa yang sedang dia sampaikan di podium. Tetapi tindakan itu tetap tidak gampang diterima forum yang sebagian besar adalah kepala desa. Para kepala desa tersinggung, mereka bukan anggota militer dan cara yang dilakukan Pak Dandim tidak bisa mereka terima.

Dilansir dari detik.com, begitu turun dari mimbar, para kepala desa melancarkan protesnya. Para kepala desa menilai tindakan Dandim itu salah dan tidak sepatutnya dilakukan apalagi di atas mimbar. Menyadari kesalahannya, Darmawan Setiyadi lalu meminta maaf pada Hilaludin dan menyatakan, dirinya sedang dalam kondisi kurang fit sehingga tidak bisa mengontrol diri dan terjadilah peristiwa menghebohkan itu.

Ketua Paguyuban Kepala Desa se Kabupaten Rembang, Zidad menyatakan, alasan Dandim menempeleng Hilaludin karena melihat Hilaludin menyandarkan kepala ketika Dandim sedang memberikan pengarahan. Sikap itu dinilai menyepelekan Pak Dandim. “Kemudian dia dipanggil sama Dandim, diberi shock therapy semacam militer,” ungkapnya. Padahal, Hilaludin menyandarkan kepala karena kelelahan karena tugasnya sebagai kepala desa. Hilaludin menyartakan, dirinya baru tidur pukul dua malam sebelum mengikuti acara itu.

Nasi telah terlanjur menjadi bubur. Meski sudah menyatakan diri meminta maaf di depan forum bahkan menemui Hilaludin secara pribadi, tetapi tindakan Letkol (Inf) Darmawan Setiyadi tetap dianggap sebuah kesalahan. Terhitung mulai Minggu (12/11) alias dua hari setelah peristiwa itu, Dandim 0720/Rembang ini dibebastugaskan dan kasus pemukulan itu tetap diusut oleh institusi TNI AD.

Peristiwa itu bukan hanya membuat sejumlah kepala desa tersinggung tetapi mendapat banyak tanggapan dari berbagai kalangan. Dikaitkan dengan pengawasan dana desa yang juga melibatkan institusi TNI. Beberapa kalangan mempertanyakan perbedaan kultur yang ada pada militer dengan aparat desa yang non militer. Apa yang akan terjadi jika orang-orang dari kalangan militer dan institusi lain dengan kultur yang berbeda menjalankan model pengawasan desa dengan cara-cara seperti yang terjadi pada kasus itu ?

Peristiwa ini juga menunjukkan betapa selama ini posisi seorang kepala desa masih dianggap posisi yang lemah di mata kalangan institusi lain. Perdebatan inilah yang membuat peristiwa pemukulan itu harus menjadi kajian yang layak diperdalam agar tidak terjadi kasus seperti di Rembang. Bagaimana menurut Anda ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*