Tamangalle dan Sasak, BUMDesa Terbaik Membuat Pergi Melaut Jadi Murah (Bagian-4)

Tamangalle dan Sasak, BUMDesa Terbaik Membuat Pergi Melaut Jadi Murah (Bagian-4)

BERDESA-COM – Bertahun-tahun lalu para istri menunggu suaminya pulang dari laut dengan nelangsa karena harus hidup dengan ekonomi pas-pasan. Tapi setelah BUMDesa Tamangalle Bisa lahir, warga Desa Tamangalle, Kecamatan Balanipa, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kini bisa bernafas lega. Sarung tenun sutra buatan mereka laris manis tanjung kimpul. Inilah yang membuat Tamangalle Bisa menjadi salahsatu BUMDesa Terbaik Kategori BUMDesa Rintisan Handy Caft dan Kerajinan Desain.

Salahsatu penenun Hanifah mengungkapkan, dahulu sebelum BUMDesa menangani penjualan sarung tenun buatan para perempuan desanya, pendapatan per bulan mereka paling hanya Rp. 500 ribu. “ Para pembeli datang ke rumah kami sehingga harganya menjadi rendah. Kini setelah di bantu penjualannya oleh BUMDesa, sarung buatan kami naik harga,” katanya. Sebulan paling tidak empat lembar sarung terjual. “ Kami mendapat Rp. 1 juta sekarang,” kata Hanifah.
Sarung Sutra buatan Tamangalle bukan tenun biasa. Dari desa saja sarung ini sudah dibandrol Rp 200 – 400 ribu selembar. Di bawah pengelolaan BUMDesa kini 25 orang penenun membuat sarung khas desa mereka setiap hari, pada masa awal BUMDesa berdiri hanya ada 15 orang saja.

Kepala Desa Tamangalle Husain Nawawi menyatakan, pilihan memasarkan sarung karena sarung sutra daerah ini memang sudah dikenal baik daerah-daerah sekitar Polewali Mandar. “ Lagipula para penenun itu semuanya perempuan yang sedang ditinggal melaut para suaminya sehingga mereka punya banyak waktu luang menenun benar-benang sutra di rumahnya,” kata Husain. Para bapak di desa ini bisa menghabiskan waktu 6 bulan sekali berlayar.

Peran perempuan menambah pendapatan keluarga sudah menjadi tradisi di kampung ini. “ Karenanya kami pilih tenun sebagai usaha yang harus di support BUMDesa. Soalnya sangat mempengaruhi kehidupan sebagian besar warga yang secara turun-temurun hidup sebagai nelayan,” ujar Husain.

Penanganan hasil tenun warga oleh BUMDesa awalnya bermodal Rp. 50 juta dari dana desa dan kini terus mengembang. Untuk melebarkan pemasaran, BUMDesa memanfaatkan pameran produk dan jaringan media sosial. “ Kami masih terus meningkatkan kualitas produk dan kemasan agar kami bisa menjual pada wilayan nasional,” ujar Husain. Kemampuan membaca potensi desa berupa kerajinan tenun membuat desa ini terpilih menjadi BUMDesa Terbaik oleh Kementerian, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, baru-baru ini untuk Kategori Kategori Rintisan Handycraft – Kerajinan Disain BUMDes.

Aroma laut juga kental terasa di Desa Sasak, Pasaman Barat, Sumetara Barat. Tetapi berbeda dengan Tamangalle, BUMDesa nagari ini memilih mencukupi kebutuhan para nelayan agar mendapatkan harga berbagai keperluan dengan murah ketika mereka melaut sebagai unit usaha yang dijalankan BUMDesanya.

Namanya BUMDesa Tunas Jaya Sasak, melayani penjualan es balok bagi para nelayan dengan harga yang lebih murah dibanding toko biasa. Mereka juga mengelola penjualan bahan bakar dengan mendirikan stasiun pengisian bahan bakar untuk para nelayan dengan harga yang ramah dibanding penjual umumnya. Dengan cara ini para nelayan bisa menekan biaya operasional ketika mereka melaut.

Kepala Nagari Sasak Arman mengatakan, Tunas Jaya Sasak memfungsikan diri sebagai unit usaha yang mencukupi kebutuhan para nelayan.” Sehingga tidak dimainkan oleh tengkulak yang selama ini berkuasa,” katanya. Warga nelayan juga sudah mulai percaya pada BUMDesa-nya karena membuat kebutuhan mereka gampang didapat dan murah.
Mendukung sepenuhnya mata pencaharian nelayan di desanya dilakukan Tunas Jaya Sasak dengan membuka Warung Nagari yang menyediakan beragam kebutuhan peralatan melaut mulai dari aneka pancing, tali pancing dan berbagai keperluan para nelayan.

Tak hanya itu di toko yang berfungsi sebagai kantor ini para nelayan bisa mengajukan pinjaman modal dengan bunga murah tanpa agunan. “ Sehingga nelayan bisa melangsungkan kegiatan mencari ikan dengan jauh lebih mudah sekarang,” ujar Sang Kepala Desa. Pilihan orientasi bisnis mendukung mata pencaharian utama warga desa inilah yang membuat Tunas Jaya Sasak menyabet BUMDesa Terbaik untuk Kategori Rintisan Berkembang pada 2016 ini.

Inilah daftar BUMDesa terbaik pilihan kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2016 : BUMDesa terbaik Kategori Berkembang BUMDes Mandiri Bersatu, Lampung, dan BUMDes Mandala Giri Amertha, Bali. Kategori Trendi BUMDesa Tirta Mandiri, Ponggok, Klaten. Kategori Eco-Agriculture: BUMDesa Amanah, Kalimantan Timur. Kategori Inovatif: BUMDesa Lentera, NTB, BUMDes Aneotob NTT, BUMDesa Mandiri, Sumatera Utara.

Kategori Partisipatif dimenangkan BUMDesa Blang Krueng, Aceh, BUMDesa Mattiro Bulu, Sulawesi Selatan. Kategori Rintisan Handycraft – Kerajinan Disain BUMDesa Tamangalle Bisa, Sulawesi Barat. Kategori Rintisan Berkembang BUMDesa Tunas Jaya Sasak, Sumatera Barat, BUMDesa Karya Usaha, Bengkulu dan BUMDesa Cahaya Makmur, Sulawesi Tengah. Kategori Rintisan Tourism-Natural: BUMDesa Andal Berdikari, Bangka-Belitung. Kategori Rintisan Eco-Agriculture: BUMDesa Maju Makmur, Jawa Timur dan Kategori Rintisan Partisipatif BUMDesa Beberahan Berkah, Banten.(aryadji/berdesa/bersambung)

Foto: www.rakyatsultra.fajar.co.id

Baca juga: Bumdesa Terbaik Dukung Nelayan di Tamangalle dan Sasak (Bagian-4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*