Sumber Dana Desa untuk BUMDesa Jangan Terhambur karena Latah Saja

0
789

BERDESA.COM – Ungkapan usaha tergantung dengan modal rupiah ternyata tak sepenuhnya terbukti. Seperti BUMDesa, meski sumber dana desa jelas membiayainya, banyak desa masih kebingungan melahirkan BUMDesa-nya.

Salahsatu kesulitan desa adalah menentukan jenis usaha yang bakal digarap si BUMDesa. Bukannya berangkat dari aset dan potensi desanya, banyak desa malah terjebak latah meniru gaya BUMDesa lain alias ikut-ikutan tren. Padahal bisa jadi, bidang itu tidak sesuai dengan potensi desanya sendiri.

Bidang usaha yang banyak dilirik para perangkat desa adalah layanan sosial bank sampah misalnya. Ada banyak desa langsung tergiur begitu mendengar kesuksesan desa lain mengelola tumpukan barang bekas itu. Padahal, masalah sampah sesungguhnya tidak sama gawatya antara desa satu dengan desa lainnya.

Memang benar bahwa sampah adalah salahsatu masalah klasik yang terjadi pada hampir seluruh wilayah pemukiman. Terutama pedesaan yang memiliki jumlah penduduk teramat padat misalnya desa-desa di wilayah yang dekat dengan perkotaan. Desa dengan situasi seperti ini memang punya masalah dengan sampah. Seringkali di wilayah pemukiman super padat sudut-sudut kampung yang lengang tiba-tiba ditumpuki sampah tanpa jelas siapa yang memulai.

Baca Juga  BUMDesa Harus Mampu Menghadang Intervensi

Penyakit buang sampah sembarangan seperti ini sudah seperti penyakit sosial yang terjadi pada wilayah pemukiman padat. Inilah wilayah pedesaan yang bisa dibilang sangat butuh bank sampah. Soalnya, teramat jarang ada perusahaan atau badan sosial yang tertarik mengelola sampah warga sebuah desa. Maka desa bisa memilih pengolahan sampah sebagai layanan sosial sekaligus menghasilkan uang dari hasil memilah sampah yang dikumpulkannya.

Tetap bagi desa yang wilayahnya masih menyisakan banyak lahan dan hanya memiliki sedikit warga, sampah sesungguhnya masih bisa dikelola oleh warganya dan tak perlu menjadi masalah sosial di desanya. Banyaknya lahan yang masih terbuka atau kosong sangat memungkinkan bagi warga untuk mengelola sampahnya sendiri atau secara berkelompok di kampungnya menciptakan aturan main pengelolaan sampah tanpa harus ditangani lembaga sekelas BUMDesa.

Kenapa desa-desa gampang tergiur langkah desa lain yang bisa jadi memiliki situasi berbeda? Itu karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang bisnis, ketidaktahuan mereka pada potensi desanya sendiri. Atau bisa jadi karena memang sama sekali tidak punya ide sama sekali. Bisa dimaklumi, perangkat desa selama ini memang bukan orang-orang yang bekerja pada wilayah usaha melainkan administrasi dan kepemerintahan, jadi tak mudah tentu saja mendapatkan ide usaha untuk BUMDesanya. Bahkan meski sudah jelas sumber dana desa yang akan membiayai usaha itu sekalipun.

Baca Juga  Air Mengalir Sampai Jauh Berkat BUMDesa Karangrejek

Pertimbangan lainnya, karena menjalankan usaha berorientasi layanan sosial bakal menyelesaikan dua hal sekaligus. Pertama, membantu desa mengatasi persoalan yang menjadi tanggungjawabnya. Dalam konteks ini Bank Sampah menjawab persoalan kebersihan lingkungan, penciptaan lingkungan sehat dan sebagainya. Kegiatan seperti ini juga cepat mendapat empati dari warga desa. Apa ada warga yang protes karena sampahnya dikelola orang? Sebaliknya, mereka hampir pasti bakal mendukung langkah itu.

Kedua, usaha seperti bank sampah dan misalnya pengelolaan air bersih memang jelas menjawab kebutuhan masyarakat sehingga relatif sepi dari resiko komplain. Ini berbeda dengan pilihan usaha yang orientasinya murni bisnis seperti mendirikan minimarket. Minimarket hanya menjawab sebagian persoalan warga dan tanpa didirikan oleh desa-pun sudah bertenggeran minimarket di berbagai ruas jalan. Jadi, bidang usaha yang mana yang cocok dengan desamu?(aryadji/berdesa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here