Sepenting Apakah Media Sosial Bagi BUMDes?

0
621
Menggenjot Usaha Desa Melalui Sosial Media
Menggenjot Usaha Desa Melalui Sosial Media

Berdesa.com  – Seperti pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’, peribahasa ini juga berlaku pada  Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Jika sebuah BUMDes tidak getol mempromosikan diri maka profilnya juga tidak bakal dikenal orang terutama dari luar desa. Apalagi produk yang dilahirkannya. Sebaliknya, berkat bermain dengan media sosial, banyak BUMDes yang menjadi terkenal bahkan akhirnya banyak mendapat kunjungan karena prestasinya.

Mengenalkan BUMDes melalui model sosial seperti Facebook di jaman sekarang adalah sebuah keharusan. Soalnya, ada beberapa manfaat yang bisa didapat sekaligus. Pertama, menjadi instrument atau alat untuk menyebarkan profil BUMDes. Soalnya, semakin banyak dilihat orang, semakin banyak jaringan teman, akan semakin mudah pula sebuah lembaga seperti BUMDes menjadi besar. Soalnya, seluruh jaringan itu bisa dijadikan jarigan kerjasama atau  bahkan calon klien potensial.

BUMDes Tamangale Bisa di Desa Tamangale, Sulawesi bahkan sudah menggunakan media sosial untuk berjualan sarung tenun Tamangale yang terkenal indah dan kuat tenunannya. Berkat jualan online itulah kini puluhan penenun di Desa Tamangale mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi karena bisa mengingkkatkan penjualan sarung tenun-nya. Kedua, media sosial juga berfungsi sebagai wahana curah gagasan antarwarga.

Baca Juga  Memilih Lokasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa)

Sifatnya yang online dan terhubung dengan berbagai perangkat membuat Facebook bisa difungsikan sebagai alat komunikasi antara warga dan pemerintah desa. Sehingga kini kantor desa tidak perlu menyampaikan pengumuman ke seluruh warga dengan susah payah mendatangi satu persatu warganya. Melainkan cukup dengan posting alias mengunggah pesan melalui facebook-nya maka seluruh warga akan segera paham isi pengumuman itu. Beberapa desa sudah melakukan ini untuk mengumumkan berbagai persoalan administratif bahkan pemberitahuan kerjabakti lingkungan.

Tapi tentu saja tidak lantas semuanya bisa diselesaikan lewat media sosial. Media sosial lebih baik difungsikan untuk hal-hal yang tidak terlalu urgent atau mendasar karena tidak semua warga desa bisa mengakses alat ini. Misalnya, orang-orang berusia seuh yang sudah tentu tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi informasi.

Tetapi bagi kalangan muda, penggunaan media sosial bakal sangat strategis karena anak mudalah yang palling banyak menggunakan fasilitas ini. Beberapa anak muda desa bahkan menggunakan media sosial untuk memasarkan obyek wisata yang ada di desanya dan ini sangat efektif. Bahkan, bagi BUMDes yang mengembangkan wisata desa, media sosial adalah alat yang wajib digunakan, selain cepat dan bisa mengusung banyak pesan jitu, karena dilengkapi dengan gambar dan video, menyebarkan informasi mlalui media sosial juga murah bahkan gratis.

Baca Juga  Apa Itu Pelembagaan BUMDESA dan Sepenting Apakah?

Berjualan produk desa juga sangat membutuhkan media sosial. Seperti yang dilakukan Tamangale Bisa di Sulawesi, penggunaan media sosial membuat BUMDes bisa memangkas besar-besaran biaya promosi. Seperti yang dilakukan BUMDes Amarta Desa Pandowoharjo, Sleman, Jogja. Amarta menggunakan Facebook dan fasilitas Whatapps (WA) Grup untuk menjual produk sayur-mayur organik yang dikembangkan BUMDes. Hasilnya, BUMDes yang kewalahan memenuhi pesanan warganya saking banyaknya pesanan sayur-mayur yang datang.

Jadi, penggunaan teknologi media sosial sangat strategis bagi BUMDes dalam memasarkan produknya, penting bagi desa untuk sosialisasi program dan agenda kegiatan khususnya pada anak-anak muda. Apakah desa Anda sudah memanfaatkannya? (aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here