Sedang Dikaji, Mensinergikan BUMDes dengan Bank Wakaf Mikro

0
707

BERDESA.COM – Kemendesa sedang mengkaji langkah yang mensinergikan Badan usaha Milik Desa (BUMDes) dengan Bank Wakaf Mikro untuk melakukan pembiayaan usaha kecil di desa. Soalnya keduanya memiliki kemiripan langkah yakni sama-sama menyasar para pelaku UMKM dan pengusaha kecil di pedesaan tanpa perlu agunan.

Hal ini diungkapkan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Trasmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo beberapa waktu lalu. “ Pembiayaan BUMDes menggunakan dana desa bermaksud memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi warga desa, sedangkan mayoritas pesantren yang menjadi tempat berkembangnya Bank Wakaf Mikro juga berada di kawasan pedesaan,” kata Eko Putro.

Menteri desa menjelaskan, Bank Wakaf Mikro memiliki pergerakan mirip Grameen Bank di Bangladesh yakni organisasi kredit mikro yang memberikan pinjaan kepada kalangan orang tidak mampu tanpa perlu membutuhkan kolateral atau persyaratan nan rumit seperti yang disyaratkan bank konvensional. Grameen Bank yang dipelopori Mohammad Yunus membuktikan bahwa orang kurang mampu ternyata memiliki kepatuhan tinggi untuk mengembaikan pinjaman dan dengan cepat pinjaman mereka mendrong produktivitas. Mohammad Yunus, si peluncur sistem ini mendapat penghargaan Nobel karena langkahnya yang luar biasa itu.

Baca Juga  BUMDes Ber-Omzet Rp. 500 Juta Terus Meningkat

Bank Wakaf juga demikian, sejak awal berdiri Bank Wakaf tidak bertujuan untuk menciptakan keuntungan profit pada penyetor modalnya karena penyetor modalnya juga bukan divide tetapi lembaga. Bank Wakaf khusus menyalurkan kredit untuk kalangan warga tidak mampu secara ekonomi dan hanya untuk kepentingan produktif, bukan konsumtif. Meski saat ini masih dalam kajian tetapi Menteri Desa yakin BUMDes bisa disinergikan dengan gerakan yang dikembangkan Bank Wakaf Mikro ini.

Jika BUMDes bisa bersinergi melakukan seperti yang dilakukan Bank Wakaf maka warga desa yang hdup dalam usaha yang kecil bakal sngat terbntu secara permodalan karena sistem peminjaman melalui bank ini sangat sederhana dan tidak membutuhkan agunan seperti halnya bank konvensional. Bank Wakaf Mikro juga bakal menjadi terobosan besar bagi banak daerah dalam rangka memberantas praktik renternir yang hingga saat ini mencengkeram kehidupan banyak orang di desa-desa.

Hanya saja, tak mudah menuju sinergi itu bagi BUMDes. Soalnya, persyaratan modal untuk mendirikan Bank Wakaf tidaklah kecil dan tidak mungkin dipanggul beberapa desa melainkan harus dalam jumlah desa yang banyak. Soalnya, paling tidak butuh Rp. 5 miliar untuk bisa mendirikannya. Jumlah ini sama sekali tidak kecil bagi desa yang hanya mengandalkan dana desa.Sekedar informasi, rata-rata penerimaan dana desa per desa tahun ini berkisar Rp. 800 – 900 juta dari total Rp. 60 triliun dana desa se-Indonesia. Dana itu digunakan untuk beragam kebutuhan dan agenda pembangunan desa yang sudah ditetapkan melalui Musyawarah Desa. Jadi, butuh kajian yang mendalam serta proses yang sangat serius untuk menciptakan langkah besar ini.(adji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here