Salamanda Craft : Si Cicak Lokal yang Menyapa Dunia

Salamanda Craft

Awalnya Sigit Sri Subekti (44) berniat membuat sebuah usaha sambilan di rumahnya. Bermodalkan skill menjahit dan mendesain pola yang didapat ketika bersekolah di SMK, ia kemudian memutuskan untuk membuat usaha kerajinan boneka dari kain batik. Bersama suaminya Edy Pribadi (46) mereka mulai merintis usaha kerajinan boneka ini sejak tahun 1998. Ide awal untuk membuat kerajinan boneka ini tercetus ketika ia mendapat oleh-oleh berupa boneka berisi pasir dari salah seorang keluarga yang dibawakan dari Thailand.

Boneka produksi Sigit tebilang cukup unik. Boneka berbentuk hewan-hewan lucu ini terbuat dari kain batik perca dan batik-batik meteran dengan berbagai macam motif kontemporer yang diisi dengan kapuk sintetis atau pasir. Belum lagi desain boneka yang sangat variatif. Mulai dari bentuk cicak, babi, gajah, kura-kura, jerapah, monyet dan hewan-hewan lainnya.

salamanda craft

Ide Nama Salamanda

Nama “Salamanda” sendiri menurut penuturan Sigit didapat karena pada awal-awal usaha, ia hanya membuat boneka dengan bentuk cicak dan berbagai macam variannya. Mulai dari gecko, kadal, tokek sampai salamander. Karena dirasa unik, salamander pun dipilih menjadi nama usaha mereka dengan sedikit gubahan menjadi “Salamanda Craft.”

Sigit dan Edy awalnya menjual boneka karya mereka dengan cara menitipkan boneka di toko-toko penjual souvenir dan kerajinan. Penolakan pun sempat mereka alami beberapa kali. Setelah hampir setahun relasi pun mulai terbangun dan akhirnya mereka mengubah sistem bisnis penjualan dengan lebih berkonsentrasi menjadi produsen murni. Mereka mengerjakan pesanan dari berbagai macam toko dan trading dengan sistem Purchase Order (PO) dan Minimal Order. Tak disangka ternyata banyak yang tertarik dengan boneka mereka. Permintaan produksi pun semakin meningkat bahkan meluas sampai ke luar negeri. Beberapa negara peminat, antara lain Jepang, Taiwan, Singapura, Malaysia, Kanada, Spanyol, Jerman dan beberapa negara Eropa lainnya.

Meski hanya industri rumahan, namun Sigit dan Edy sangat memperhatikan kualitas boneka yang mereka buat. Ada standar dan quality control yang mereka terapkan pada produk mereka. Para karyawan, yang kebanyakan ibu rumah tangga penduduk sekitar desa Nitiprayan, mendapat pelatihan selama dua minggu sebelum masuk ke ranah produksi. Pelatihan ini membuat mereka mampu menghasilkan produk berkualitas sekaligus memiliki ketelitian, fokus serta tekun. Tak heran, meski tanpa promosi berlebih bahkan tanpa promosi online, banyak pemesan yang berdatangan ke rumah produksi Salamanda Craft.

Kendala dan Tantangan  

Kendala yang paling besar saat ini menurut Edy adalah susahnya mencari sumber daya manusia yang mau bekerja di tempat mereka. Maraknya industri besar dengan modal besar, yang masuk ke dalam wilayah pedesaan dan perkampungan membuat orang-orang sekitar lebih memilih bekerja di tempat lain. Karena selain iming-iming gaji UMR, usaha rumahan semacam Salamanda Craft ini juga belum mampu menjanjikan gaji tetap. Karyawan mereka yang saat ini berjumlah 8 orang dibayar sesuai dengan jumlah boneka yang dihasilkan. Semakin banyak produk yang dihasilkan, semakin besar pula penghasilan. Kendala ini membuat Edy sempat menolak berbagai pesanan yang melampaui kekuatan produksi mereka. Hal ini juga menyebabkan usaha boneka mereka kurang bisa berkembang hingga saat ini.

Proses produksi boneka Salamanda Craft

Proses produksi boneka Salamanda Craft

Sebuah karya, apalagi karya kerajinan seperti boneka milik Salamanda Craft ini tentu saja sangat rentan penjiplakan. Atas dasar itulah Edy memilih untuk tidak memasarkan produk bonekanya di pasar-pasar dan kaki lima seperti jalan Malioboro. Apalagi dengan pola konsumsi-produksi masyarakat kita yang latah. Apa yang sedang menjadi tren dijiplak habis-habisan, diproduksi secara masal, lalu dipasarkan dengan harga rendah tanpa memperhatikan kualitas.

Hal seperti itu tentu saja berpotensi mematikan usaha para penggagas awal kerajinan boneka batik seperti Salamanda. Edy lebih memilih memasarkan boneka-bonekanya ke toko-toko di luar Jogja atau di hotel-hotel dan butik-butik. Selain itu, Edy dan Sigit menyadari bahwa tantangan usaha mereka masih banyak, antara lain: peningkatan inovasi baik desain, cara promosi, penjualan terus ditingkatkan. Pun kemungkinan merambah ranah online juga akan mulai dijajaki sebagai tantangan baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*