Radio Kayu – Buah Karya dari Desa Yang Mendunia

Radio Kayu – Buah Karya dari Desa Yang Mendunia

Oleh: Lalu Suhayatman

Jika kita menengok sebentar ke desa, umumnya desa-desa di indonesia hampir semuanya memilki sumberdaya manusia yang berpendidikan baik yang memiliki pendidikan tinggi maupun yang hanya sekedar tamatan sekolah dasar.  Tentu kita yakin bahwa potensi sumberdaya manusia bisa menjadi modal dasar yang penting dalam memajukan dan mensejahterakan diri dan masyrakatnya. Kuncinya adalah bagaimana masyarakat bisa berfikir kreatif, karena dari banyak bukti berfikir kreatif bisa menjadi kunci sukses seseorang atau masyarakat.

Hal inilah yang dilakukan Singgih di daerah asalnya. Setiap pagi di pinggir Jalan Desa di Dusun Krajan 1, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, suara pemotong dan penghalus kayu menderu-deru membelah keheningan. Di sebuah bangunan berlantai dua seluas 300 meter persegi tiga puluh pekerja sibuk dengan alat masing-masing.Di bengkel kerja itulah, kayu pinus, mahoni, sengon, dan sonokeling disulap selama enam belas jam menjadi radio. Sebatang sengon yang biasa dijadikan kayu dihargai Rp 10 ribu, bernilai ratusan dollar Amerika setelah diolah dibengkel kerja milik Singgih Susilo Kartono itu. Sebuah radio kayu dijual dengan harga US$ 250-300 atau Rp 2,3-2,8 juta di Amerika dan Eropa. Singgih memilih mengeluti usaha kayu karena merasa sudah menjadi bagian dari hidupnya. Dia dibesarkan di desa yang dirimbuni pokok-pokok yang menjulang. Dari kayu juga, sebagian warga Kandangan menggantungkan hidup mereka menjual gelondongan kayu yang sudah dipotong-potong. Itulah yang membuat lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu prihatin.

magnoMenjodohkan kayu dengan radio juga bukan tanpa alasan. Bagi ayah dua anak ini radio merupakan alat yang bisa menjadi teman manusia. Perjodohan inilah yang syarat nilai dan makna inilah yang melambungkan Singgih dan radionya ke panggung dunia. Desain yang menjadi tugas akhir kuliahnya ini memenangi Internasioal Design Resauce Award 1997 di Seattle, Amerika Serikat. Ketika itu radio yang ia buat masih prototype. Komponen radio berasal dari radio yang sudah jadi. Selama tujuh tahun ia bekerja di sebuah perusahaan furnitur. Pada tahun 2004 setelah perusahaannya gulung tikar, Singgih pulang kampung dan memulai usaha sendiri.Singgih menyulap ruang tamu rumah orang tuanya menjadi bengkel kerja, bersama istri dan empat karyawannya ia membuat alat-alat kantor, seperti tempat pulpen, stapler, dan tempat selotip dari kayu, juga kaca pembesar gagangnya dari kayu. Ia pun membuat radio kayu.

Magno, demikian ia menyebut radio itu berasal dari kata magnifying (kaca pembesar) produk pertama yang ia buat.Pengrajin asal Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah ini mulai fokus merintis usaha membuat radio kayu pada tahun 2005. Ia membuat desain sederhana dengan memasukkan unsur filosofi yang bisa membuat pemilik radio memiliki hubungan personal dengan radio tersebut. Berkat kegigihan dan kreativitasnya, produk Radio Kayu Magno diterima pasar.Karena permintaan terus meningkat, saat ini, Singgih mengaku bisa memproduksi sebanyak 300 radio dalam sebulan. Radio Kayu Magno ini kemudian dikirim ke berbagai negara. Presentasenya, 95% produk radio kayu magno memasuki pasar ekspor, dan sisanya menyebar di Jakarta, Temanggung, dan Bali. Sejak awal memang saya sudah berorientasi pada pasar ekspor, ujar Singgih.

Belajar dari pengalaman sukses Radio Kayu Magno karya Singgih, membuktikan desa memilki potensi kreatif dan kemampuan produksi yang bisa melayani pasar dalam negeri maupun mancanegara.

Dari berbagai sumber, psikomedia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*