Dari Puncak Becici Menuju Muntuk Desa Wisata

Dari Puncak Becici Menuju Muntuk Desa Wisata

BERDESA.COM – Puncak Becici hanya butuh waktu beberapa bulan berubah menjadi magnit yang terus menyedot setiap orang untuk datang menikmati keindahannya. Keramaian hutan pinus area berbukit ini segera menerbitkan semangat para pemuda desa membangun desa wisata. Mereka ingin desanya menjadi salahsatu obyek yang harus dikunjungi para wisatawan yang datang ke Jogja. Seperti apa persiapannya?

Beberapa tahun lalu setiap orang akan berpikir berkali-kali melewati tempat ini bahkan siang bolong sekalipun. Selain jalannya yang kala itu jauh dari mulus juga ngeri karena jalan yang menghubungkan Desa Terong ke Imogiri ini membelah area hutan nan senyap. Tapi yang paling seram karena jalur ini ini dipenuhi tanjakan, kelokan dan turunan sehingga sangat tidak disarankan bagi orang-orang yang belum berpengalaman memegang setir untuk melewatinya. Hingga keajaiban terjadi.

Waktu seperti terlipat dan hari ini setiap orang bakal merasa rugi jika tak melewati jalur ini. Soalnya, hutan pinus yang dahulu menyeramkan dan sunyi itu telah berubah menjadi obyek wisata alam yang benar-benar cantik. Rindangnya pinus berusia puluhan tahun dan runtuhan daunnya membuat tanah di bawahnya seperti digelari karpet warna cokelat. Beberapa orang menyebut pemandangan di sini mirip suasana hutan pinus di Jepang. Kesejukannya, keteduhannya jangan ditanya, matahari siang paling terik pun tak mampu menembus lebatnya dedaunan disana. Salahsatu tempat yang memukau itu namanya Puncak Becici.

Terletak di Dusun Gunungcilik, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Bantul, Puncak Becici menjelma menjadi magnet. Disebut Puncak Becici karena tempat ini tak hanya indah karena pepohonan pinus yang rimbun tetapi juga memiliki titik puncak perbukitan yang bakal memberikan pada setiap orang pemandangan spektakuler di kala matahari menuju peraduannya. Dari tempat ini pula Anda bisa menyaksikan kota Yogyakarta menghampar bak lukisan tiga dimensi. Belum lagi jika kabut hinggap di sana.

Gandi, salahsatu anak muda desa setempat yang mengelola obyek ini mengisahkan, awalnya warga desanya tidak yakin tempat itu bakal laris manis didatangi orang seperti sekarang. “ Memangnya apa yang menarik dari tempat ini?” kata Gandi menirukan pendapat sebagian warga beberapa tahun lalu. Tapi Gandi dan anak-anak muda pantang mundur. Kepala Desa Kelik Subagyo juga mendukung gagasan anak-anak muda ini mengembangkan tempat ini menjadi obyek wisata.

“ Kami lalu berpromosi dengan cara sederhana, melalui Instagram, Facebook serta media sosial lainnya. Luar biasa, dalam waktu beberapa bulan saja anak-anak muda berdatangan dari berbgaai penjuru Jogja,” ujar Gandi yang kini sehari-hari bertugas sebagai tour guide ini. Beberapa bulan kemudian sarana umum dibuat seperti jalan menuju obyek wisata, kamar mandi, tempat parkir kendaraan, dll. Beberapa spot dibersihkan, diberi tempat duduk yang dibuat dari bilah-bilah papan sehingga suasana alami tetap terjaga. Beberapa pohon dipasangi papan untuk anak-anak muda berkongkow memandangi pesona alam sekaligus mengabadikan setiap titik dalam jepretan kamera ponsel mereka. Kini tempat ini tak pernah sepi, di luar hari libur sekalipun.

Menyadari besarnya potensi pengembangan tempat ini para pemuda kini merapatkan barisan menuju desa wisata. Bukan cita-cita yang muluk sebenarnya karena desa ini juga memiliki modal yang bakal mendukung. Kerajinan tangan menganyam bambu yang telah dilakukan selama bertahun-tahun oleh sebagian warga di desa ini adalah atraksi wisata yang tak banyak yang punya. Belum lagi pertukangan kayu, beberapa jenis makanan lokal yang khas. Peri kehidupan masyarakat desa sehari-hari juga menjadi sajian wisata budaya yang menarik di desa ini. “ Kami sedang menggodog berbagai potensi yang kami miliki untuk kami kemas dalam konsep terpadu desa wisata. Mungkin ini bakal digarap BUMDesa,” ujar Gandi. Sang Kepala Desa Kelik Subagyo juga memberi dukungan penuh pengembangan wisata yang diampu para pemuda desanya.

“ Kami siap memulai pendidikan pariwisata untuk para pemuda dari mulai pemahaman umum, pengetahuan manajemen usaha wisata hingga menguasai cara memberikan servis yang terbaik pada para wisatawan nantinya, termasuk harus mampu melayani wisatawan asing. Kami ingin mengembang hingga ke homestay,” kata Gandi.  (aryadji/berdesa-1)

Foto: www.mulpix.com

Tips : Merintis Pendirian Desa Wisata

Baca juga : Potensi BUMDesa Kelola Wisata Alam
BUMDesa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*