Pulang Membangun Desa Dan Menjadi Sejahtera

Pulang Membangun Desa Dan Menjadi Sejahtera

Oleh: Nabila Inaya

Ekonomi pedesaan dan ekonomi perkotaan adalah dua hal yang tidak bisa dibandingkan. Jika laju perekonomian di kota bisa demikian pesat, pertumbuhan ekonomi di desa justru terkesan lambat. Padahal, ekonomi pedesaan idealnya bisa berperan sebagai penyokong ekonomi perkotaan sehingga tercipta keseimbangan di antara keduanya. Namun, yang terjadi justru ketimpangan di antara keduanya kini semakin kentara.

Menurut riset, angka pertumbuhan urbanisasi di Indonesia sudah mencapai 57,4% sehingga menduduki posisi terbesar kedua di ASEAN. Musim urbanisasi biasanya terjadi setelah Lebaran, dimana orang-orang yang sudah bekerja di kota akan mengajak sanak saudaranya untuk ikut merantau. Kondisi ini menjadi semakin memprihatinkan lantaran mereka yang melakukan urbanisasi tidak memiliki bekal ketrampilan yang mumpuni, bahkan rata-rata hanya berbekal ijazah SD atau SMP. Demi bertahan di kota, mereka pun rela bekerja serabutan dengan upah yang terbilang minim. Beberapa pekerjaan yang umumnya dilakoni adalah pekerja bangunan, pembantu rumah tangga, buruh galian, atau buruh cuci. Selain itu, tidak sedikit pula yang akhirnya justru terlibat pekerjaan-pekerjaan lain yang sifatnya kriminal.

Kondisi inilah yang kemudian digagas oleh “Ekonomi Lokal”, yaitu sebuah lembaga yang melakukan pendampingan dan inkubasi bisnis kepada pengusaha muda di desa secara “keroyokan”. Semangat yang digaungkan adalah mengajak anak-anak muda yang melakukan urbanisasi untuk kembali pulang ke desanya. Mereka akan mendapat pendampingan sehingga bisa berwirausaha dan mengembangkan potensi di desanya.

Pendampingan yang diberikan oleh Ekonomi Lokal ini meliputi analisa dan studi kelayakan bisnis, pembuatan model bisnis, membangun jaringan dengan stakeholder (supplier, konsumen, distributor, dan lain-lain), permodalan dengan sistem sharing profit, serta menggagas dan menghidupkan komunitas bisnis di desa tersebut. Disebutkan bahwa pendampingan yang dilakukan oleh Ekonomi Lokal bersifat keroyokan. Artinya, berbagai pihak dapat bergabung dan ikut membantu dengan kepasitasnya masing-masing. Misalnya, pengumpulan dana dengan sistem donasi dilakukan untuk pengembangan usaha di desa dampingan. Sementara, perkara pengembangan potensi daerah juga bisa melibatkan banyak pihak dengan donasi berupa sharing pengetahuan dan ketrampilan.

Donasi-donasi yang terkumpul kemudian digunakan untuk mendampingi para Pahlawan Ekonomi Lokal, yaitu mereka yang bersedia pulang ke desa dan memulai berwirausaha. Mereka akan menjalani proses On Job Training hingga akhirnya menguasai satu bidang usaha yang ingin mereka geluti. Salah satu yang sudah berhasil menyandang gelar Pahlawan Ekonomi Lokal adalah Pak Jebor dari Banyuwangi. Pria berusia 30 tahun ini sebelumnya bekerja sebagai buruh galian di Bali. Demi bisa mendapat penghasilan dan mencukupi kebutuhan keluarga, Pak Jebor harus rela tinggal terpisah dari istri dan kedua anaknya.

Namun setelah mengetahui gerakan yang dicanangkan Ekonomi Lokal, Pak Jebor akhirnya mantap memilih untuk kembali pulang ke desanya dan berwirausaha. Pak Jebor mendapat pendampingan dari komunitas binaan Ekonomi Lokal sehingga dirinya bisa memiliki beberapa kolam lele yang dijadikan sumber penghasilan. Berhasil jadi Pahlawan Ekonomi Lokal, Pak Jebor kemudian mengajak beberapa rekannya seperti Ady, Kento, dan Kebud yang sebelumnya juga bekerja serabutan di kota. Mereka akhirnya pulang dan menjadi pengusaha lele yang tergabung dalam komunitas Lele Booster Agus Banyuwangi binaan Ekonomi Lokal.

Bantuan pun datang dari Pak Eka, seorang pengusaha yang memiliki jaringan bisnis baik di dalam maupun luar negeri. Peduli pada UKM di desa, Pak Eka sepakat untuk membantu menghubungkan komunitas Lele Booster Agus Banyuwangi dengan berbagai supplier dan jaringan pemasaran yang ada di wilayah Banyuwangi dan Bali. Dengan bantuan dari banyak pihak, komunitas Lele Booster Agus Banyuwangi binaan Ekonomi lokal pun sudah memiliki 90 unit kolam dan akan terus dikembangkan menjadi usaha yang lebih besar lagi.

Gerakan pulang ke desa yang digagas kelompok Ekonomi Lokal utamanya adalah menciptakan sumber penghasilan bagi masyarakat desa. Khususnya agar sumber-sumber penghasilan tersebut dapat dikelola secara mandiri dan profesional. Selain tentu saja akan memperkecil angka urbanisasi, gerakan ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian pedesaan.

Berhasil mendampingi Pak Jebor dan teman-temannya, Ekonomi Lokal kini kembali mempersiapkan sebuah prototipe bisnis jamur di Desa Jambewangi, Kabupaten Banyuwangi. Satu prototype ini ditargetkan untuk menjaring 50 pemuda desa agar tergerak pulang dan menjadi Pahlawan Ekonomi Lokal.

Untuk menghimpun dana, tim Ekonomi Lokal menggalang donasi melalui kitabisa.com. Selain itu, mereka juga mendaftarkan diri sebagai salah satu finalis kompetisi “IDEAS FOR INDONESIA” di ajang IDEAFEST2015. IDEAFEST sendiri adalah festival kreatif yang digelar setiap 2 tahun sekali. Tahun ini mengusung tema “creativity with purpose”, IDEAFEST bertekad untuk membantu menyebarkan semangat social entrepreneurship di Indonesia. IDEAFEST pertama kali digelar di tahun 2011 dengan melibatkan beberapa tokoh inspiratif seperti Stefan Sagmeister, Basuki Purnama, Anies Baswedan, dan Peter Gontha. Menurut Ben Subiakto selaku Festival Director IDEAFEST 2015 sekaligus founder gerakan IDEAFEST, anak muda Indonesia memang seharusnya tidak bergantung lagi pada orang lain dan mau bergerak untuk ikut membantu menyelesaikan masalah sosial yang ada di Indonesia.

Dan pada akhirnya, menggerakkan ekonomi pedesaan tidak lantas menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Generasi muda justru bisa mengambil peran penting dalam usaha memajukan ekonomi di desa. Bukannya angkat tangan, anak muda malah harus turun tangan membangun desanya. Bagaimana pun, perekonomian desa yang kuat akan menyokong perekonomian Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*