Pingin Jadi Desa Wisata, Seluruh Warga Harus Paham Konsepnya

Pingin Jadi Desa Wisata, Seluruh Warga Harus Paham Konsepnya

BERDESA.COM – Mengembangkan desa wisata tidak hanya soal mendatangkan banyak pelancong ke obyek wisata desa. Asal membuat tempat ramai malah memicu konflik sosial. Maka harus digelar pertemuan warga sehingga seluruh warga desa memiliki pemahaman yang sama mengenai konsep yang bakal dikembangkan di desa-nya.

Fenomena beberapa obyek wisata desa yang didatangi  banyak wisatawan dalam waktu cepat bukannya menciptakan harapan baru, melainkan malah membuat konflik antarkelompok warga atau kelompok warga dengan pemerintah desa yang ingin mengembangkan obyek wisata sebagai aset wisata milik desa.

Sebelum proses pengembangan desa menuju desa wisata sebaiknya digelar lebih dahulu pertemuan dengan seluruh masyarakat dengan mengundang perwakilan-perwakilan kelompok untuk membicarakan rencana mengembangkan obyek wisata desa menjadi program desa wisata. Pertemuan ini sebaiknya lalu membentuk sebuah tim kecil yang bertugas menyusun konsep desa wisata hingga langkah demi langkah yang akan ditempuh.

Tim kecil ini biasanya berisi beberapa orang mewakili kelompok tertentu termasuk kelompok anak muda yang memiliki pengetahuan dan adaptasi lebih cepat trhadap informasi-informasi terbaru. Kelompok inilah yang bertugas mengumpulkan materi dan kemudian merumuskan konsep desa wisata seperti apa yang cocok mereka kembangkan di desanya dan kebutuhan apa saja untuk menuju kesana. Kenapa harus begitu?

Karena membangun desa wisata sesungguhnya membangun landskap baru bagi desa. Desa wisata berarti mengharuskan seluruh bagian dari desa mulai dari fasilitas umum, bangunan fisik hingga perikehidupan masyarakat harus dikelola dengan baik dengan satu konsep besar yang saling mendukung. Beberapa desa wisata yang sudah bertaraf nasional pun masih sering mengeluhkan warga yang tak mau patuh pada kesepakatan masyarakat mengenai konsep desa wisata.

Kasus yang banyak terjadi adalah ketika homestay mulai dibutuhkan. Warga kemudian beramai-ramai membangun homestay yang tidak mendukung nuansa dan konsepsi yang ingin dibangun desa yang ingin menampakkan suasana tradisionalismenya. Sebaliknya, malah ada warga membangun rumah dengan disain modern yang justru merusak suasana pedesaan yang seharusnya menjadi sajian utama.

Kasus lainnya adalah latah. Seperti yang banyak terpampang pada foto-foto pengunjung di sosial media. Ketika muncul foto obyek wisata yang menampakkan instalasi atau patung lambang hati alias cinta, seluruh obyek wisata lantas membuat bentuk-bentuk yang sama tanpa emperhatikan sisi keindahannya. Ini banyak dikeluhkan oleh para pengunjung yang ‘tak rela’ oyek yang indah malah rusak oleh kelatahan yang melanda para pengelola obyek wisata di desa.

Organisas masyarakat pengelola obyek wisata seperti Kelompok Sadar Wisata juga harus pintar berkonsolidasi dengan seluruh anggota kelompoknya untuk terus meningkatkan kualitas layanannya pada para pelancong yang datang ke obyek wisata desanya. Jangan sampai ada ‘barisan atau kelompok sakit hati’ yang menciptakan langkah kontraproduktif sehingga membuat wajah wisata desa amenjadi tercoreng. Misalnya dengan membangun warung makan dengan menu yang tidak sesuai kesepakatan kelompok.

Maklum, di desa ada banyak orang yang menganggap membangun atau menyuguhkan penampilan yang modern adalah bentuk kebanggaan. Mereka sama sekali lupa bahwa orang-orang kota datang ke desa itu karena mencari nuansa desa yang kuat dan bukannya ingin melihat atau mendapatkan fasilitas modern. Kalau yang modern-modern sudah ada di kota.

Harus dipahami bahwa membangun desa wisata sesungguhnya sebuah proses yang harus pula memberikan dampak sosial yang baik bagi kehidupan warga desa itu. Jangan sampai warga dituntut sikap yang ramah-tamah pada tetamu tetapi mereka sendiri tidak menikmati keindahan suasana desanya karena konflik kepentingan antarkelompok masyarakat desa gara-gara berebutan mengambil simpati pelancong yang menjadi sumber penghasilan mereka dari wisata.(aryadji/berdesa)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*