Penolakan Dana Desa Oleh Masyarakat Adat Baduy

0
1154
Desa Badui-01

Program dana desa yang dijalankan pemerintah ternyata tidak sepenuhnya diterima masyarakat, salah satu contohnya adalah penolakan dari masyarakat adat Baduy, masyarakat yang tinggal di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak ini menolak dana desa yang akan diberikan pemerintah pusat sebesar 2,5 miliar rupiah. Adapun dana sebesar itu rencananya akan diberikan untuk membangun infrastruktur yang akan menunjang kegiatan perekonomian masyarakat adat Baduy.

Alasan penolakan sendiri dikarenakan masyarakat adat baduy merasakan khawatir apabila pembangunan yang menjadi tujuan program dana desa ini bisa merusak dan menganggu kelestarian adat setempat.

Meskipun dana yang akan mereka terima terbilang besar, namun masyarakat Desa Kanekes tersebut tidak bergeming dan lebih memilih mempertahankan kelestarian adat dan budaya mereka, dibandingkan harus menerima dana desa sebesar 2,5 miliar rupiah dan pembangunan akan masuk ke desa tersebut dan dikhawatirkan akan berpotensi akan menggusur nilai adat dan budaya mereka.

Pemerintah sendiri tidak dapat berbuat banyak dan menghargai keputusan dari masyarakat adat baduy tersebut, bahkan sejak jaman pemerintahan presiden Soeharto sudah dilakukan pendekatan agar masyarakat baduy ini mau membuka pintu dan menerima pengaruh modernitas, namun upaya tersebut tidak pernah berhasil.

Baca Juga  Masih Ada Ribuan Desa Belum Berlistrik dan Tertinggal Pula

Padahal dana desa yang rencananya akan dikucurkan bagi warga adat Baduy itu sudah masuk ke kas daerah dan tidak mungkin lagi dikembalikan kepada pemerintah pusat. Salah satu solusi agar dana desa tersebut tidak mengendap terlalu lama di kas daerah adalah dengan melakukan pengalokasian dana tersebut di tahun 2020 untuk desa yang lain.

Pembangunan yang dikhawatirkan masyarakat Baduy adalah terkait pembangunan jalan di sekitar permukiman warga baduy, dengan adanya pembangunan tersebut dipastikan jalan menjadi mudah diakses oleh kendaraan roda dua dan roda empat, oleh sebab itu dana yang diberikan pemerintah kepada masyarakat Baduy bisa dibilang lebih besar dibandingkan desa-desa lainnya karena desa Kanekes ini termasuk dalam kategori desa tertinggal.

Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Desa Kanekes yang juga merupakan pemuka adat setempat, Saija, yang mengatakan bahwa penolakan bantuan dana desa tahun 2019 ini merupakan keputusan adat yang harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat adat Baduy.

Sebagaimana diketahui, masyarakat adat Baduy yang juga dikenal dengan nama Orang Kanekes ini merupakan salah satu suku yang membatasi dan mengisolasi diri dari pengaruh dunia luar, kehidupan sehari-hari warganya jauh dari kehidupan modern masyarakat pada umumnya, mereka menolak pembangunan jalan, alat-alat elektronik hingga penerangan jalan, semua kebutuhan dan keseharian masyarakatnya masih menggunakan cara dan alat tradisional.

Baca Juga  Menikmati Keunikan Desa Banjar Banyuwangi

Selain itu masyarakat adat Baduy ini tidak mengenal pendidikan formal sehingga banyak warga di Desa Kanekes ini yang masih buta huruf, sehari-harinya mereka menggunakan bahasa Sunda sebagai cara untuk berkomunikasi walau beberapa warga juga bisa menggunakan bahasa Indonesia apabila ingin berkomunikasi dengan masyarakat luar.

Lokasi Desa Kanekes sendiri berada di kaki pegunungan Kendeng, dengan wilayah topografi bergelombang dan berbukit. Masyarakat adat baduy ini memiliki hubungan pertalian dengan orang Sunda, salah satu cirinya adalah bahasa yang mereka gunakan, sedangkan kepercayaan yang di anut oleh masyarakat baduy atau orang Kanekes ini adalah Sunda Wiwitan yang merupakan ajaran dari leluhur yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan memuja roh kekuatan alam atau animisme. Berdasarkan mitos, orang Kanekes ini mengaku bahwa mereka adalah keturunan Batara Cikal yang merupakan salah satu keturunan dewa yang turun ke muka bumi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here