Pendirian BUMDesa Jangan Karena Kepentingan Politis Perangkat Desa

0
536

BERDESA.COM – Banyak desa mendirikan BUMDesa bukan berdasar atas analisa potensi dan kebutuhan melainkan hanya untuk mendapatkan pengakuan politis bahwa desa mereka telah membangun sesuatu yang hebat. Akibatnya, sesuatu yang diyakini hebat itu tak berumur lama dan tumbang.

Keputusan seperti ini terjadi karena para kepala desa dan sebagian perangkat masih terjebak pada pola kebijakan lama yang mengukur keberhasilan ‘pembangunan’ harus melalui sesuatu yang bisa dilihat atau terlihat. Tak perlu heran makanya pembangunan fisik masih selalu mendominasi keputusan penggunaan anggaran desa. Bangunan fisik yang dibangun seorang kepala desa dianggap lebih mampu membuat si kepala desa diakui ‘eksistensinya’ ketimbang kegiatan-legiatan pemberdayaan SDM.

Akibatnya, banyak desa mendirikan BUMDesa hanya untuk sekedar menunjukkan bahwa desa mereka telah melaksanakan kebijakan pendirian BUMDesa. Faktanya, BUMDesa itu mereka dirikan dengan cara yang tidak menyertakan partisipasi warga yang akibatnya gampang ditebak, lembaga itu hanya berumur jagung. Itulah salahsatu realitas pendirian BUMDesa yang sampai saat ini masih terjadi.

Baca Juga  Udaka, Air Kemasan BUMDesa Berani Bertarung di Pasar Terbuka

Sebaliknya, ada sebagian kepala desa yang tidak terlalu ‘silau’ oleh pujian-pujian politik dan memaknai pendirian BUMDesa sebagai sebuah proses yang sungguh-sungguh menggali potensi desa. Kepala desa seperti inilah yang kemudian menciptakan desa yang luar biasa dengan BUMDesa-nya. Seperti apakah BUMDesa yang luar biasa?

BUMDesa sendiri memiliki beberapa ukuran yang berbeda.  Bukan rahasia lagi, banyak kepala desa terobsesi melahirkan BUMDesa yang megah dan bermimpi usaha itu bakal mendatangkan laba berlimpah-limpah. Biasanya ini terjadi pada desa-desa yang berada di wilayah dekat dengan perkotaan dan memiliki banyak peluang pengembangan usaha. Tetapi tetap saja, meski berlimah peluang, tetap saja kekurangan SDM untuk membangun usahanya.

Sebaliknya, bagi desa-desa terpelosok, sebaiknya tak perlu bermimpi terlalu tinggi. Mendingan melihat secara seksama kebutuhan desanya dan jangan silau keberhasilan fisik desa lain. Soalnya, ukuran keberhasilan sama sekali tidak identik dengan ukuran fisik. Sebuah desa terpencil di Nusa Tenggara mendapatkan gelar BUMDesa terbaik karena mampu mendirikan tujuh bak penampungan air bersih bagi warga desanya.

Baca Juga  Unik dan Modern, Cara Pendowoharjo Mengembangkan BUMDesa

Warga desa itu bahkan masih harus mengangkut iar dengan menggunakan ember yang kemudian ditenteng dari bak penampungan ke rumah mereka. Untuk fasilitas yang masih sangat sederhana itu mereka bahkan rela membayar Rp. 20 ribu setiap bulan demi mendapatkan air minum bagi keluarganya. Tetapi pencapaian ini luar biasa mengingat selama berpuluh-uluh tahun daerah itu mengalami kekurangan air bersih. Capaian ini berbeda ukuran dengan desa yang mengaku berhasil mengelola sumber mata air sendiri namun sebelumnya telah ada perusahaan daerah yang mengelola air minum di desanya.

Bagi desa yang merasa kebingungan dengan potensi ekonominya juga tak perlu ngotot membangun BUMDesa dengan modal yang besar. Ada baiknya membangun unit usaha dalam skala kecil dulu. Begitu unit usaha itu berjalan dan butuh pengembangan, maka kemudian tinggal meningkatkan skala-nya saja. Ini adalah cara yang paling aman terhindar dari kerugian yang besar. Soalnya, BUMDesa dibangun dengan duit negara yang harus dipertanggungjawabkan, bukan duit hibah yang ‘dianggap’ boleh dimanfaatkan tanpa tuntutan penjelasan hasil yang jelas. Jadi, yang mana langkah yang akan diambil desa-mu?(aryadji/berdesa)

Baca Juga  Menghindari Renternir Dengan BUMDesa

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here