Usaha Pemuda Desa Beromset 30 Juta Per Bulan

Usaha Pemuda Desa Beromset 30 Juta Per Bulan

Oleh: Farid Hadi Jelivan

BERDESA.COM – Memproduksi camilan ampyang ternyata cukup menjanjikan. Ampyang adalah jajanan khas dari Gunungkidul, Jogja, yang dibuat dari campuran gula kelapa dan kacang tanah. Meski begitu hanya ada beberapa orang di desa Desa Kedungkeris, Guningkidul, yang menekuni usaha ini. Salah satunya adalah Ibu Jilah dan suaminya Bowo. Pasangan ini setiap hari memproduksi ampyang dan guloklopo (jajanan yang dibuat dari gula dan kelapa) untuk dipasarkan ke Jogja, Klaten dan Karanganyar.

Kisah perjalanan Jilah tidak semulus apa yang kita duga. Pada usia 20 tahun, Jilah mengikuti kebiasaan anak-anak muda desanya untuk merantau ke kota. Mereka berusaha memperbaiki nasibnya yang susah. Desa Kedungkeris, kecamatan Nglipar, Gunungkidul dimana ia berasal termasuk desa yang miskin dan kering. Baginya yang hanya memiliki sejengkal tanah milik orang tuanya, tidak mungkin berharap banyak dari hasil bumi. Dengan berbekal sedikit ilmu sewaktu sekolah di desanya, ia merantau ke kota menjadi buruh kecil di sebuah peruhaan rokok di Manahan, Solo. Penghasilannya hanya mencukupi untuk kebutuhannya sehari-hari. Akhirnya setelah bertahan 4 tahun, pada tahun 1997 ia memilih keluar dari pekerjaannya dan membantu usaha Bowo, suaminya. Bowo yang pernah menjadi buruh produsen ampyang mencoba merintis sendiri dengan membuat ampyang dan memasarkannya.

Rintisan usaha Jilah dan Bowo tidak bagitu mulus. Kondisi krisis pada tahun 1998 ikut memengaruhi perkembangan usahanya. Modalnya yang kecil dan bahan baku yang mahal membuat usahanya tidak kian berkembang. Akhirnya pada tahun 2007 Jilah bersama Bowo memutuskan memutuskan untuk kembali ke desanya di Kedungkeris, Gunungkidul. Mereka berdua meneruskan usaha yang pernah ditekuninya di Solo, yakni membuat ampyang. Usaha ampyang di desanya ternyata jauh lebih menyenangkan. Bahan baku gula kelapa, kacang tanah, dan jahe mudah didapat dan harganya juga lebih murah. Sehingga biaya produksinya lebih kecil.

Jilah dan Bowo memang sosok yang gigih dan sabar menjalankan usahanya. Mereka berdua sering rasan-rasan bagaimana caranya agar usaha mereka berkembang. Mereka mencatat beberapa kesulitan yang masih dihadapi, antara lain 1) komposisi rasa ampyang buatannya mungkin kurang memenuhi selera konsumen, 2) daya tahan produksinya yang hanya bertahan seminggu, 3) pasarnya masih terbatas di lingkungannya, 4) kemasannya yang masih tradisionil dibungkus dengan plastik sehingga kurang menarik, dan 5) modal yang minim.

Dengan kesabarannya dan ketekunannya akhirnya usahanya berbuah. Pertanyaan-pertanyaan di atas mulai diperoleh jawabannya. Jilah dan Bowo yakin bahwa Allah SWT akan membuka jalan apabila kita berusaha keras. Gempa Bantul 2006 ternyata jalan yang diberikan Tuhan kepada mereka. Mereka bergabung ke dalam kelompok usaha kecil yang difasilitasi oleh sebuah program dari Swisscontact untuk membantu rehabilitasi pasca bencana. Jilah dan Bowo dengan sungguh-sungguh mengikuti pelatihan yang mereka berikan dan mempraktikannya. Ampyang dan guloklopo buatannya semakin enak dan lebih tahan lama dengan tanpa bahan pengawet. Rasa jahenya terasa segar di tenggorokan dan pas sekali manisnya. Ketika digigit terasa lebih lembut dibandingkan sebelumnya. Kemasannya pun sudah lebih baik meskipun tetap sederhana. Demikian pula kesulitan modal dan pasar dibantu diselesaikan oleh koperasi yang ia ikuti.

Semenjak tahun 2008 usaha ampyang dan guloklopo yang diproduksi oleh Jilah dan Bowo semakin disukai oleh pelanggan. Setiap hari mereka menyisihkan waktu sekitar 3 jam untuk memproduksi 150-200 kemasan. Beberapa tamu dari Jakarta sudah mulai mengenal dan memesan ampyang buatannya. Omsetnya sekarang mencapai 30 juta per bulan. Pada saat lebaran atau liburan natal dan tahun baru bahkan bisa meningkat 10 kali lipat.

Penghidupan keluarga Jilah dan Bowo mulai kecukupan. Rumahnya sudah dibangun gedong dan ada kendaraan untuk kebutuhan sehari-hari. Anak pertamanya sudah lulus SMK dan sekarang merantau di Malaysia. Anak kedua masih sekolah di SMK Wonosari, sedang yang paling kecil baru berusia dua tahun. Kebahagiaan dan kebanggaannya terpancar jelas dari ceria wajahnya.

Sosok Jilah dan Bowo adalah teladan bagi kita orang-orang desa untuk melihat peluang dan tekun merintis perbaikan nasibnya. Pelajaran merantau di kota tidak selalu menjanjikan nasib yang lebih baik. Jilah dan Bowo mengajak kita orang-orang desa untuk mengisi pembangunan. Mari kita syukuri HUT RI ke-70 dengan kebangkitan desa merintis usaha dan memperbaiki ekonomi warga. Terlebih dengan adanya UU No. 6/20014 tentang Desa yang memberikan kewenangan dan transfer fiskal yang memadahi, desa harus berani aktif mengisi ruang dan peluang yang dimilikinya.***

Baca juga : Menggenjot Penjualan Produk UKM lewat Instagram

BUMDesa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*