Peluang Usaha Budidaya Singkong Di Tanah Tapis Berseri Lampung

budidaya singkong

Oleh: Hanna Zahra

BERDESA.COM – Ketela pohon, ubi kayu, atau singkong adalah perdu tahunan tropika dan subtropika dari suku Euphorbiaceae. Umbinya telah dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya dimanfaatkan sebagai sayuran. Saat ini, singkong, seperti juga produk agro lainnya; sawit, karet dan tebu, sedang booming dan mendatangkan rejeki berlimpah ke petani dan agen. Naiknya harga minyak membuat produk substitusi ini di cari banyak kalangan. Singkong sebagai salah satu bahan baku bio fuel juga menjadi primadona dan intensif di budidayakan. Apalagi teknik budidaya singkong relative mudah, murah, tahan penyakit dan bisa tumbuh di lahan yang kritis sekalipun, seperti di tanah Lampung ini.

Dialah P Nyoman, petani sederhana ini juga berprofesi sebagai guru SMA, beliau merupakan transmigran dari Bali sejak tahun 60-an. Saat ini mengelola ratusan hektar tanaman singkong dan bermitra dengan petani-petani lain dalam kelompoknya. Sebagai seorang pemimpin kelompok tani, Pak Nyoman juga menjadi agen yang menjembatani penjualan panen singkong dari petani-petani ke pabrik di sekitar wilayah lahan, baik untuk bahan baku industri tepung tapioca maupun untuk ethanol.

Pemilihan komoditas singkong sebagai garapan utamanya didasrkan pada hasil survey dan analisa pasar, bahwa kebutuhan berbagai jenis industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan bakunya sangatlah besar, seperti industri makanan, industri farmasi, industri kimia, industri kertas, sampai pada industri biofuel. Akibatnya, beragamnya jenis industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku utamanya, P Nyoman memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan jiwa wirausaha yang ada di dalam dirinya.
Pengalaman puluhan tahun sebagai petani singkong membuat beliau mempunyai jaringan yang sangat luas dikalangan petani, apalagi sesama komunitas transmigran bali yang masih sangat erat kekerabatannya. Sebagai agen sebuah pabrik besar P Nyoman di berikan target harian untuk bisa memenuhi kebutuhan pabrik, angka 100 – 150 Ton singkong segar per hari bukanlah target sulit untuk dicapai. Sekarang, mari kita coba hitung berapa omzet harian dan bulanan beliau sebagai agen dan kita estimasi pendapatan bulanannya. Juga penghasilan sebagai coordinator kelompok tani.

Dengan makin banyaknya pabrik berdiri, baik pabrik tepung tapioca maupun bio fuel, kebutuhan akan supply singkong meningkat, sedangkan perkembangan luas lahan relative lambat dan masih harus ber kompetisi dengan jenis tanaman lain; karet, tebu dan sawit yang juga sedang booming dan menguntungkan. Kondisi ini menyebabkan harga singkong naik tajam dari rentang Rp. 200 – 300 /kg di tahun 2006 menjadi Rp 400 – 500/kg an di sepanjang 2007 dan trend di tahun 2008 di prediksikan akan semakin naik.

Dengan asumsi harga rata-rata Rp. 425/kg maka omset harian beliau adalah Rp. 425 x 100,000 kg = Rp. 42,500,000 dan dengan asumsi pabrik ber operasi 25 hari kerja per bulan maka omset P Nyoman mencapai Rp. 1,062,500,000 / bulan.

Pakem yang berlaku dalam proses jual beli singkong dari petani – agen – pabrik, biasanya agen akan mendapat keuntungan/fee sebesar Rp. 10 – 15 dari pabrik. Dengan target 100 Ton/hari, 25 hari kerja dan asumsi fee Rp. 10/kg maka keuntungan/fee dari keagenan sebesar Rp. 25 juta/bulan. Sebuah angka yang sangat besar. Tentunya untuk mensupply 100 Ton/hari, P Nyoman dibantu oleh pekerja atau saudara-saudara nya yang lain.

Dari aktifitas bertanam singkong dan mengkoordinir kelompok tani, beliau juga masih memperoleh keuntungan lagi yang jumlahnya juga cukup besar. Sebagai gambaran biaya budidaya tanaman singkong per hektar rata-rata adalah Rp. 4.5 juta/Ha dengan rincian sebagai berikut :

  1. Sewa tanah Rp. 1,000,000/Ha
  2. Pengolahan Lahan Rp. 1,000,000
  3. Pemupukan Rp. 1.600,000
  4. Tenaga Kerja Rp. 900,000.

Dengan perawatan yang baik dan pemupukan yang tepat, bisa menghasilkan singkong sebesar 30 Ton/Ha dengan rendemen 24% untuk waktu penanaman 10 – 12 bulan. Harga di pabrik-pabrik di Lampung saat ini berkisar di angka Rp. 450/kg, maka untuk hasil panen 30 Ton/Ha akan menghasilkan 30,000 kg x 450 = Rp. 13.500.000, masih dipotong ongkos transport dan cabut Rp. 100 x 30,000 = Rp 3,000,000. Hasil bersih Rp. 10,5 juta dengan modal awal Rp. 4,5 juta.

Sebuah investasi yang sangat menarik. Keluarga P Nyoman memiliki lahan 15 Ha, maka dari hasil bertanam singkong, keluarga petani ini memperoleh penghasilan Rp. (10,5 jt – 4,5 jt ) x 15 Ha = Rp. 90 juta/panen atau setahun. Jumlah yang cukup besae, belum lagi dari kegiatan coordinator kelompok tani yang jumlah nya ratusan hektar, beliau masih memperoleh fee tambahan Rp. 10 untuk setiap kilo hasil panen singkong.

Dari kisah inspiratif di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa singkong sebagai hasil alam yang ada di lingkungan sekitar kita juga mampu meningkatkan perekonomian keluarga. Jadi, mari kita manfaatkan hasil bumi yang ada di lingkungan sekitar kita dengan memanfaatkannya sebaik mungkin sehingga bisa menjadi komoditi yang menjanjikan.

Baca juga : E-Commerce untuk UMKM dan Produk Desa

Pasar Pertanian Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*