Pameran untuk Promosi Desa Wisata

Pameran untuk Promosi Desa Wisata

Untuk mempromosikan beragam desa wisata, Kementerian Desa perlu menggelar berbagai program pendukung. Salah satunya antara lain melalui pameran desa wisata. Selama ini pameran dianggap sebagai media promosi yang efektif dan terbukti berhasil menarik minat masyarakat luas. Sebut misalnya pameran Jakarta International Motor Show yang setiap tahun selalu dibanjiri pengunjung meskipun harga tiketnya ratusan ribu rupiah. Atau pameran komputer dan gadget yang menjamur di setiap kota besar Indonesia dan selalu dipenuhi pengunjung.

Efektivitas pameran sebagai ajang promosi sekaligus transaksi jual-beli juga telah menginspirasi sejumlah kementerian seperti Kementerian Perdagangan yang dalam setahun mengadakan beberapa kegiatan pameran produk-produk asli Indonesia. Baik itu sebagai upaya kampanye cintailah produk Indonesia maupun sebagai upaya nyata mendongkrak perekonomian melalui produk-produk usaha kecil menengah (UKM). Baik itu pameran berskala besar di gedung pameran maupun pameran-pameran kecil yang diadakan di mal-mal.

Gencarnya promosi melalui pameran juga mulai menginspirasi pihak-pihak yang bergerak dalam upaya memajukan desa wisata sebagai salah satu potensi bisnis pariwisata yang menjanjikan. Salah satunya telah dimulai di Yogyakarta pada pertengahan bulan November 2015. Selama tiga hari, di Jogjakarta Expo Center (JEC) digelar pameran desa wisata yang diikuti sejumlah desa wisata dari Kabupaten Gunung Kidul, Sleman, Bantul dan Kulonprogo. Pameran untuk mempromosikan desa wisata itu juga diramaikan oleh berbagai acara kesenian khas masing-masing daerah peserta.

Lalu apakah pameran itu ramai pengunjung? Dibandingkan dengan pameran komputer atau otomotif, masih teramat jauh. Pameran desa wisata yang digelar untuk umum dan tanpa dikenakan tiket masuk itu, tampak lengang dan hanya puluhan pengunjung yang datang untuk melihat-lihat di hari pertama. Kursi-kursi di depan panggung kesenian pun hanya terisi oleh para peserta pameran yang sedang tidak menjaga stand mereka. Sebuah kelompok seni jathilan yang tengah tampil pun harus bersyukur hanya ditonton oleh teman-teman mereka sendiri.

Desa wisata sepertinya masih harus berjuang keras untuk mempromosikan diri melalui ajang pameran. Berbagai aspek penting untuk menyelenggarakan sebuah pameran yang sukses harus terlebih dulu dikaji sebaik-baiknya. Sebut misalnya, materi pameran (apa saja yang menarik untuk dipamerkan), promosi pameran, waktu penyelenggaraan (cari waktu yang tepat), acara-acara pendukung pameran, kerjasama media massa untuk memberitakan pameran, dan lain sebagainya.

Namun bagaimanapun, sebuah langkah maju telah dilakukan dan harus terus dilanjutkan guna mempromosikan desa wisata. Mungkin masih perlu waktu beberapa tahun lagi untuk mensukseskan pameran desa wisata.

Baca juga : Strategi Desa Muntuk Menjadi Desa Wisata

Pendamping Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*