Ini Musabab Pendirian BUMDesa Berjalan Alot

0
4344

BERDESA.COM – Bak cendawan di musim penghujan, begitulah gairah desa-desa se-Indonesia mendirikan dan mengembangkan BUMDesa sekarang ini. Tetapi banyak desa kemudian mengalami proses yang tak mudah mendirikan lembaga usaha milik desa ini.

Perbedaan pandangan berbagai pihak yang menjadi kelompok-kelompok yang harus mendukung proses pendirian BUMDesa adalah penyebab utamanya yakni antara kepala desa, perangkat desa, anggota BPD dan tokoh-tokoh masyarakat desa. Bukannya menemui titik terang, pada banyak desa, kelompok-kelompok ini justru bergesekan ketika seharusnya menyatukan visi melahirkan BUMDesa. Apa saja penyebab pergesekan itu, berikut ini beberapa fakta yang banyak terjadi di berbagai desa dari hasil observasi Berdesa.com:

  1. Kepala Desa

Madzab lama yang menempatkan Kepala Desa sebagai orang nomor satu di desa membuat sang kepala desa kesulitan untuk memahami bahwa BUMDesa adalah lembaga usaha yang memiliki otorita sendiri mengembangkan usaha. Hasilnya, kepala desa selalu turut campur setiap langkah BUMDesa bahkan menempatkan dirinya sebagai penentu kebijakan BUMDesa. Adanya dana penyertaan modal bagi BUMDesa adalah salahsatu pemicunya. Tak mudah bagi kepala desa menerima kenyataan adanya lembaga yang memiliki kekuatan sendiri dalam mengelola investasi.

  1. Perangkat Desa
Baca Juga  Pentingnya Mendorong Pelaku Usaha Mikro BUMDesa

Sesungguhnya sebelum UU No. 6 tentang Desa Tahun 2014 lahir, ada banyak desa yang telah menghidupkan potensi desanya untuk mendapatkan income bagi kas desa. Misalnya dengan memanfaatkan tanah kas desa untuk membangun ruko. Ruko-ruko itu lalu disewakan. Hasil sewa inilah yang masuk ke kas desa. Hanya saja, karena lemahnya sistem pengawasan dan administrasi keuangan kala itu, tak banyak terlaporkan berapa dan bagaimana dana itu berada. Nah, para perangkat desa yang telah mendapatkan empuknya pendapatan dari aset desa seperti ini sudah pasti tak bakal mudah menyerahkan unit-unit usaha milik desa pada BUMDesa.

Mereka juga biasanya sama sekali tidak antusias mendukung lahirnya BUMDesa karena merasa bakal menggusur pendapatan tambahan mereka. Jangan salah pada banyak kasus, bahkan seorang Kepala Desa tak cukup memiliki nyali untuk merekonstruksi ulang aset gara-gara telah dikuasai perangkat desa yang lebih senior dari si kepala desa. Alhasil, banyak BUMDesa yang mengalah memulai usahanya dari nol meski sudah jelas BUMDesa berha memanfaatkan aset dan potensi desanya untuk dikembangkan menjadi unit usaha produktif.

  1. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
Baca Juga  Bentuk dan Pengorganisasian BUMDesa

Sungguh tidak mudah bagi para anggota BPD bersikap legowo bahwa mereka hanya berfungsi sebagai legislatif dalam kancah politik desa. Merasa kekuatannya sangat hebat karena mewakili rakyat desa, para anggota BPD lantas membabi-buta dalam urusan BUMDesa. Beberapa tim perumus pembentukan BUMDesa mengungkapkan betapa pusingnya mereka menghadapi kemauan BPD yang kadang-kadang mementahkan apa yang sudah dilakukan tim dengan alasan yang tak cukup kuat alias hanya semata-mata merasa punya kekuatan besar lalu merasa dirinya yang paling berhal menentuan segala keputusan besar.

  1. Tokoh Masyarakat

Bukan rahasia lagi pada banyak desa selalu ada kelompok oposan dengan perilaku politik kebablasan. Biasanya ini dilakukan oleh para tokoh golongan tua yang merasa paling mumpuni di desanya sehingga tidak mau mendengarkan pendapat anak-anak muda.

Masalah ini menjadi jauh lebih rumit ketika tokoh itu adalah orang yang dahulu menjadi lawan politik kepala desa terpilih. Biasanya para tokoh seperti ini bakal berusaha keras menolak apapun sodoran program yang diajukan karena merasa diri mereka yang paling mampu dalam segala hal

Baca Juga  Kepala Desa Belum Terima Gaji Hingga April? Padahal Begini Seharusnya

Itulah beberapa persoalan yang terjadi pada proses pendirian BUMDesa yang membuat proses kelahiran lembaga ini bukannya menciptakan persamaan visi pengembangan BUMDesa. Sebaliknya, malah muncul friksi baru antar-tokoh desa. Bagaimana mencegah hal seperti ini terjadi? Caranya, menciptakan public discuss alias diskusi intens mengenai BUMDesa utamanya pada semua orang yang terlibat dalam proses pendirian BUMDesa. Kesamaan pandangan mengenai ‘apa itu BUMDesa’ itulah yang bakal membuat proses kelahiran BUMDesa menjadi mulus tak ada aral dalam tahap-tahap yang dilaluinya.(aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here