Minimarket BUMDes Tak Akan Mematikan Warung Tradisional dengan Cara Begini

0
1579

BERDESA.COM – Minimarket adalah jenis usaha yang banyak dilirik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Tapi sebagian besar masih bingung menjawab pertanyaan ini: Apakah minimarket BUMDes tidak akan mematikan warung tradisional milik warga? Soalnya, salahsatu pantangan yang harus dijalankan BUMDes adalah tidak boleh mematikan usaha yang telah banyak dilakukan warganya. Jadi jawabannya?

Tidak perlu kawatir, sebenarnya minimarket yang didirikan BUMDes tidak akan mematikan warung tradisional milik warga jika dijalankan dengan beberapa teknik manajemen yang jitu. Bahkan sebaliknya, minimarket ‘besutan’ BUMDes malah bisa mendorong pertumbuhan warung-warung warga  yang telah berdiri. Caranya begini, minimarket BUMDes memfungsikan dirinya sebagai grosir alias tempat kulakan bagi warung-warung warga.

Jadi, justru minimarket BUMDes ini menjadi jenis usaha yang membantu warga mendapatkan banyak manfaat. Pertama, bisa menjadi pusat kulakan warung-warung kecil di desa bahkan toko-toko di desa lain bakal berbondong-bondong kulakan di sana. Jika mau menjadi grosir begini maka tim manajemen pengelola BUMDes harus mampu mendapatkan harga barang yang bisa bersaing dengan grosir yang lain. Dengan selisih harga ang lebih murah, dijamin para tukang ‘memborong’ barang untuk dijual lagi, bakal selalu mampir ke tempat ini. Dijamin bakal banyak pembeli akan lebih memilik minimarket ini karena secara jarak juga tidak bakal terlalu jauh dari warung-wrung mereka.

Baca Juga  Ayo Bangun Kerjasama Antar-BUMDes untuk Menguasai Desa se-Indonesia

Kedua, minimarket BUMDes bisa menjadi tempat menjual produk lokal. Ini sesuai dengan visi misi BUMDes sebagai lembaga usaha yang berfungsi menciptakan keuntungan sosial alias social benefit. Salahsatunya adalah menjadi pintu gerbang bagi produk lokal untuk mendapatkan pasar lebih luas. Soalnya, minimarket bisa membangun jaringan pembelian barang penjualan dengan minimarket di desa lain. Jadi, produk desa bisa bertukar pasar dengan produk desa lainnya.

Contohnya seperti yang terjadi di Kabupaten Bantul dan Sleman di Yogyakarta. Menyadari banyaknya warga yang menanam buah salak, Minimarket milik BUMDes di sebuah desa di Sleman menjual buah salak ke minimarket yang menjadi jaringannya di sebuah desa di Kabupaten Bantul. Soalnya, di Bantul tidak ada warga menanam salak karena hawa di Bantul yang lebih panas tidak cocok untuk menanam salak seperti di Sleman.

Karena pembelian dalam jumlah yang cukup besar yakni beberapa ratus kilogram, maka salak ini tetap lebih murah harganya sesampai di Bantul karena ongkos kirimnya yang hanya satu kali dan lagsung dari produsennya yakni petani. Sebaliknya, minimarket di Bantul menjual makanan khas Bantul yakni Geplak di supermarket milik warga di Sleman karena di Jogja, Geplak paling terkenal adalah geplak ‘made in’ Bantul. Alhasil,  dua minimarket di dua wilayah yang terpisah kabupate ini bisa saling memberi untung satu sama lain.

Baca Juga  Regulasi Baru Pendampingan Baru, Desa Tak Boleh di Dikte Lagi

Bahkan, para pengelola minimarket ini bisa memasarkan seperti lele dumbo yang dipelihara warga desanya melalui penjualan di minimarketnya. Apakah minimarketnya harus menyediakan kolam untuk ribuan lele? Tidak sama sekali, karena sistem penjualan yang dilakukan minimarket milik warga ini juga melakukan penjualan melalui media sosial seperti Facebook dan grup WA. Sehingga lele, beras dan berbagai hasil pertanian warga bisa dijual dengan cara pemesanan. Jadi, beberapa hari sebelumnya marketing toko sudah menyebarkan informasi penjualan lele sehingga pada hari H lele siap, bakal ada mobil penghantar yang mengantarkan lele dalam jumlah cukup besar.

Begitulah beberapa model usaha yang dijalankan minimarket milik BUMDes yang sekarang ini sudah mulai berjalan di berbagai desa. Sistem ini dikembangkan oleh Swadesa, sebuah unit usaha Konsultan Retail milik PT Usaha Desa Sejahtera yang beberapa tahun ini mendampingi berbagai desa mendirikan, mengelola dan mengembangka usaha retail di desanya masing-masing. Sehingga, pertanyaan besar itu terjawab. Minimarket BUMDes sama sekali tidak akan mengganggu kehidupan warung tradisional milik warga. Sebaliknya, malah menciptakan banyak manfaat yang tak bisa dilakukan oleh minimarket warga ataupun minimarket modern milik swasta lainnya.(aryadji/berdesa)

Baca Juga  Lima Desa di kab. Lombok Utara dirikan DesaMart bersama Usahadesa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here