Mengunjungi Desa Trunyan, Desa Wisata Bali dengan Sejuta Keunikan

0
523
Mengunjungi Desa Trunyan, Desa Wisata Bali dengan Sejuta Keunikan

Bali hadir sebagai salah satu tujuan wisata primadona di tanah air. Tak heran, mengingat Bali hadir dengan beragam keunikan yang tentu memancing minat banyak wisatawan untuk berkunjung. Desa wisata Bali menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Ada banyak desa wisata di Bali yang menarik untuk dikunjungi.

Berbagai desa wisata yang ada ini menyimpan keunikan masing-masing. Jadi wisatawan dapat memilih berkunjung ke desa wisata yang dinilai paling menarik. Salah satu desa wisata yang menarik di Bali adalah desa Trunyan. Desa yang satu ini memang terkenal dengan keunikan pemakamannya. Lalu sebenarnya ada apa lagi yang membuat desa wisata ini cocok untuk di kunjungi? Berikut ulasannya.

Mengenal Desa Trunyan

Desa Wisata Bali yang akan kita bahas kali ini adalah desa wisata Trunyan. Letak desa ini adalah di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa yang satu ini letaknya dekat dengan Danau Batur yang tersohor itu. Jumlah penduduk di desa ini sesuai data pada 2016 mencapai 2.716 jiwa. Terdiri dari 1.327 jiwa perempuan, sedang 1.389 sisanya adalah laki-laki.

Baca Juga  Sukses Membangun Desa Wisata, Kuncinya Inovasi

Selain keindahan alamnya yang memancing banyak wisatawan, desa ini juga hadir dengan keunikan. Jadi keunikan yang dimaksud adalah keunikan cara pemakaman. Dimana warga desa ini tidak dikubur, melainkan dengan tata cara tersendiri yang diatur sesuai adat desa. Inilah yang kemudian membuat banyak wisatawan tertarik untuk mengunjungi desa ini. Salah satunya adalah melihat langsung keunikan pemakamannya.

Fakta Seputar Truyan Desa Wisata Bali yang Unik

Tadi telah sedikit dibahas mengenai keunikan dari Trunyan, sebagai salah satu desa wisata Bali. Kali ini kita juga akan membahas fakta-fakta yang melingkupi desa wisata ini. Lalu ada fakta apa saja yang menunggu dari desa wisata Bali yang unik ini? Inilah beberapa faktanya.

  1. Asal Usul Nama Trunyan

Nama Trunyan diyakini berasal dari nama pohon Taru Menyan yang tumbuh di desa tersebut. Taru sendiri berarti pohon sedangkan Menyan berarti harum. Nama Taru Menyan inilah yang kemudian menjadi ciri khas dari desa ini. Lalu lama kelamaan desa ini pun dikenal dengan nama Trunyan yang berasal dari kata Taru Menyan tersebut.

  1. Tiga Kematian Tiga Tempat Berbeda
Baca Juga  Eduwisata Sitiadi, Melihat Cara Beternak Sapi Hebat di Kebumen

Ada desa ini mengatur cara menguburkan mayat warganya. Penguburan dibagi menjadi tiga jenis, sesuai dengan jenis kuburan(sema) untuk tiga jenis kematian. Warga yang meninggal dengan kematian wajar akan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan, pada lokasi yang diberi nama Sema Wayah. Sebelumnya dilakukan upacara terlebih dahulu untuk warga desa yang meninggal tersebut.

Untuk warga desa yang meninggal secara tak wajar seperti dibunuh, bunuh diri maupun kecelakaan akan diletakka di Sema Bantas. Terakhir untuk warga desa yang masih bayi, anak kecil hingga dewasa yang belum menikah akan diletakkan pada Sema Muda.

  1. Kenapa Mayat Tidak Berbau Busuk?

Tradisi penguburan mayat di desa Trunyan ini memang tergolong unik. Apalagi mayat tidak dikubur, melainkan diletakkan di bawah pohon. Lalu apa yang menyebabkan mayat tersebut tidak mengeluarkan bau busuk? Padahal tentu proses penguraian berlangsung di sini?

Ternyata bau busuk yang hadir dari mayat tersebut disamarkan oleh bau harum dari pohon Taru Menyan tempat mayat diletakkan. Pohon tersebut memang terkenal dengan baunya yang harum. Bau harum itulah yang kemudian menetralisir bau busuk dari mayat. Inilah yang kemudian membuat mayat yang diletakkan di bawah pohon ini tidak menimbulkan bau busuk.

  1. Dijaga dengan Pagar Bambu dan Sesaji
Baca Juga  Obyek Wisata Jatisari, Kisah Bandung Bondowoso dari Desa

Mayat yang diletakkan di bawah pohon Teru Menyan tidak diletakkan begitu saja. Melainkan dengan diberi pagar bambu di sekeliling mayat. Selain itu mayat juga ditutupi dengan kain putih. Tak lupa keluarga almarhum akan memberi sesaji di sekitar mayat. Nah, jadi tidak berarti mayat diletakkan begitu saja di bawah pohon Taru Menyan, ya.

  1. Pengumpulan Tulang Belulang

Mayat yang diletakkan di bawah Pohon Taru Menyan tidak selalu dibiarkan ada di sana. Namun, saat mayat sudah berupa tulang belulang nantinya akan diambil untuk dikumpulkan menjadi satu. Ini guna memberi ruang bagi mayat baru agar dapat diletakkan di bawah pohon Taru Menyan.

Wah, ternyata ada banyak fakta unik yang hadir dari desa wisata Bali yang satu ini. Selain kelima fakta di atas masih ada banyak fakta unik lain yang melingkupi Desa Trunyan. Memang keunikan desa yang satu ini tidak akan dijumpai di desa lainnya. Jadi tertarik untuk berkunjung ke Desa Trunyan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here