Menghindari Renternir Dengan BUMDesa

Menghindari Renternir Dengan BUMDesa

BERDESA.COM – Riba adalah perbuatan nista yang harus ditinggalkan sejauh mungkin, baik oleh pemberi pinjaman maupun peminjam. Hal ini karena riba dipastikan membawa akibat berupa kerusakan yang dahsyat bagi kehidupan umat manunsia. Betapa tidak, pemberian pinjaman oleh renternir yang terkesan menolong ini sejatinya justru merupakan racun pembunuh yang sangat kejam. Bunga pinjaman setiap bulannya bertambah. Besaran uang yang harus dibayarkan peminjam akhirnya bisa sungguh fantastis jumlahnya. Jauh dari nilai yang dipinjamnya.

Menjamurnya dunia lintah darah seperti ini disebabkan oleh berbagai faktor. Namun intinya karena adanya kebutuhan dana cepat yang bisa didapatkan tanpa harus melalui berbagai proses yang berbelit-belit.

Renternir bisa dikelompokkan ke dalam jenis pinjaman dari perseorangan, pinjaman yang diselenggarakan oleh badan, lembaga atau kelompok yang bernaung di desa. Banyak masyarakat yang kehilangan agunan karena tidak mampu melunasi utang pada lembaga perbankan. Selain itu, anggota masyarakat yang tidak dapat melunasi utang saat jatuh tempo biasanya juga tidak mendapatkan kepercayaan lagi ketika mengajukan pinjaman kembali.

Harapan Pada BUMDesa

Selama ini pinjaman yang diberikan kurang selektif dan hanya mengejar target. Padahal, seharusnya pihak bank dan lembaga desa melakukan pendampingan kepada masyarakat. Kejelasan usaha yang digeluti menjadi faktor pertimbangan penting sebelum menggelontorkan kredit. Setelah pemberi pinjaman wajib memberikan pendampingan usaha kepada peminjam. Pelatihan, manajemen produksi, manajemen pemasaran, dan sebagainya.

Faktanya adalah lembaga kredit desa dan bank kurang menyentuh ranah substansi permasalahan. Harapan baru muncul ketika ada lembaga baru yang berparadigma baru, yaitu BUMDes. BUMDes menjalankan bisnis uang yang memenuhi kebutuhan keuangan masyarakat desa dengan bunga yang lebih rendah daripada bunga uang yang didapatkan masyarakat desa dari para renternir desa atau bank konvensional.

Selain itu, syaratnya pun mudah dan cepat, dan tanpa agunan. Jika dilengkapi dengan program pendampingan yang dilakukan bagi para peminjam, tentu hasilnya akan lebih optimal. Sebab, dana pinjaman menjadi tepat guna dan dapat berkelanjutan, baik dana pinjaman untuk merintis usaha atau mengembangkan usaha yang berbasis kepada industri rumahan atau ekonomi mikro.

BUMDes seharusnya menjadi pelopor lembaga perkreditan yang lebih manusiawi, memiliki nilai sosial, dan penuh kearifan lokal. Lembaga ini tidak terlalu mengejar untung besar, tetapi dibiarkan mengalir saja. Falsafah tuna sathak bathi sanak (rugi uang, tetapi untung saudara) seharusnya dikembalikan ruhnya dalam keseharian sebagai kearifan lokal. (Minardi/Kin)

Baca juga : BUMDesa Harus Bisa Menyangga Desa
BUMDesa

1 Komentar

  1. Saya bangga jadi pengusaha yg ramah lingkungan.
    Jatuh bangun sudah biasa karena ada rencana sampai tujuan akhirnya.
    Kendala dengan permodalan sangat pasti. Karena jika ingin besar harus berhadapan dengan orang banyak dan diikuti finansial.
    Saya sejak 2011 berkegiatan domba secara serius.
    Baik kembang biak,pasar maupun pola pakan.
    Kendala penulis sampeai sekarang adalah di bimbingan dan menuju pelayanan pasar yang besar.
    Lokasi tinggal ambarawa desa tambakboyo rt01/03 tambakrejo,semarang.
    Lokasi yang cocok untuk pengembangan ternak karena dekat dengan lokasi persawahan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*