Mengenal Beberapa Sistem Bagi Hasil dalam Membangun Usaha

Mengenal Beberapa Sistem Bagi Hasil dalam Membangun Usaha

BERDESA.COM – Modal adalah salahsatu faktor penting keberhasilan sebuah usaha. Ketersediaan modal umumnya bakal sangat menentukan pergerakan awal sebuah usaha menuju keberhasilan. Hal ini juga berlaku pada usaha kecil. Masalahnya, ada banyak pelaku usaha kecil yang tidak memiliki cukup modal mendirikan, menjalankan atau mengembangkan usaha. Padahal pada beberapa level ini tambahan modal cukup menentukan tingkat keberhasilan.

Bagi orang yang memiliki tabungan, modal mungkin sudah bukan masalah karena bisa menggunakan modalnya sendiri. Tetapi ada sebagian orang yang tidak memiliki uang yang cukup untuk dijadikan modal. Soalnya, memiliki modal yang pas-pasan juga sangat riskan. Terlalu mepetnya uang justru bakal mengancam keberlangsungan hidup usaha itu di masa-masa awal pengembangan.

Salahsatu cara mendapatkan modal adalah dengan bekerjasama dengan orang lain atau pihak yang memiliki modal. Ada beberapa model kerjasama dalam hal ini. Berikut ini beberapa jenis kerjasama menyangkut modal yang bisa menjadi referensi Anda dalam mendirikan atau mengembangkan usaha.

Jenis Kerjasama Modal Dalam Membangun Usaha

  1. Pemodal adalah juga rekan kerja

Pada sistem ini Anda membangun kerjasama dengan orang yang memiliki modal sekaligus orang itu turut bekerja dengan Anda menjalankan usaha. Maka orang yang menyediakan modal itu bakal mendapatkan dua pendapatan yakni pertama mendapatkan gaji sebagai pegawai aktif yang dibayarkan sesuai aturan penggajian karyawan misalnya pada akhir bulan atau awal bulan. Kedua, pendapatan per tahun yang dihitung dari deviden alias keuntungan bersih usaha itu setelah dipotong berbagai biaya operasional yang keseluruhannya disajikan dalam laporan tahunan.

  1. Pemodal dalam Bentuk Saham

Model pemodal seperti ini umumnya tidak terlibat dalam kegiatan operasional usaha. Pemodal inilah yang sering disebut sebagai investor. Apa yang didapat para investor? Yang didapat adalah deviden atau bagi hasil yang telah disepakati dalam kurun waktu tertentu, biasa tahunan dengan kesepakatan prosentase juga.

Misalnya, pemodal dan Anda sepakat membagi hasil deviden dengan aturan main 50:50. Artinya, si pemodal bakal mendapatkan 50 persen hasil perolehan laba tahunan dari perusahaan setelah dipotong berbagai biaya operasional. Atau misalnya 60:40 yang berarti si pemilik modal mendapatkan 60 persen hasil dari seluruh deviden yang didapatkan. Pendapatan lebih besar ini sebagai penghargaan atas modal yang telah dia berikan pada usaha ini.

  1. Pemodal dalam Bentuk Hutang

Model kerjasama seperti ini berlaku sebagaimana bentuk hutang yakni dihitung dengan susunan seperti pokok hutang, bunga dan ada aturan jatuh tempo-nya. Maka kewajiban Anda adalah memenuhi pengembalian modal itu sesuai kesepakatan yang berlaku dengan rutin sebagaimana tanggal jatuh tempo yang telah disepakati.

Pada model kerjasama seperti ini Anda harus sangat berhati-hati dalam membuat kesepakatan karena model ini si pemodal tidak memiliki resiko apapun ketika terjadi kebangkrutan usaha. Artinya, apapun yang terjadi Anda harus tetap mengembalikan modal sesuai dengan kesepakatan pengembalian. Karenanya, Anda harus berhitung secara rinci kemampuan usaha itu bakal menghasilkan uang sehingga perusahaan Anda tidak perlu kerepotan mengembalikan uang akibat jumlah yang tidak realistis yang telah Anda sepakati dengan si pemilik modal pada saat perjanjian.

  1. Kerjasama Bagi Hasil

Pada model ini sebelum membuka usaha, Anda dan mitra bisnis harus membangun kesepakatan mengenai sistem bagi hasilnya. Setidaknya ada empat hal penting yang harus dipenuhi dalam sistem ini yakni:

  1. Harus jelas, apakah si investor menyediakan seluruh modalnya atau Anda juga menyetor modal. Jika jumlanya berbeda maka dibuat sistem prosentase pada saat pembagiannya
  2. Ada kegiatan usaha yang disepakati dan diketahui bersama sehingga kedua belh pihak yakin bahwa modal yang ada bakal dipergunakan untuk kegiatan bisnis yang telah disepakati. Tidak bisa begitu saja misalnya awal perjanjiannya modal digunakan untuk menjalankan usaha pembuatan kerupuk misalnya, ternyata pada proses pelaksanaannya menjadi usaha bengkel sepeda.
  3. Ada batasan waktu pembagian hasil. Kesepakatan juga harus memasukkan mengenai waktu pembagian hasil. Jangan sampai Anda melewati tenggat waktu dengan alasan karena belum ada hasil yang bisa dibagi. Soalnya, mitra juga harus tahu situasi usaha dengan segala hambatan yang dialaminya.
  4. Akan ada beberapa model pembagian keuntungan. Misalnya berbentuk profit sharing yakni bagi untung atau bagi hasil alias revenue sharing.

Beberapa model kesepakatan ini harus disepakati sebelum memulai seluruh proses usaha yang akan Anda jalankan sehingga tidak perlu ada sengketa atau persoalan ketika usaha mulai dijalankan. Masalah yang biasanya muncul adalah ketika sebuah usaha mulai mendapatkan hasil, apalagi jika hasilnya melesat cepat tidak terduga. Siap mencobanya? (aryadjihs/berdesa)

Foto: Answers.com

2 Komentar

  1. mungkin perlu diwaspadai juga dan berhati – hati jika membutuhkan modal usaha kepada bank. Lebih baik mencari investor terdekat saja seperti teman, sodara atau keluarga itu akan lebih baik dan bahkan bagi hasil dari keuntungan usaha juga bisa dibagi secara rata. Dan bisa dibantu juga oleh investor nya untuk lebih meningkatkan penjualan nya..

    Balas
  2. Mau bingiiitt

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*