Mengenal Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan

0
1877
Mengenal Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan
Gambar oleh: detik.com

BERDESA.COM – Jika diperhatikan, di desa-desa telah berkembang berbagai jenis usaha yang dilakukan oleh masyarakat, seperti: koperasi, lembaga keuangan mikro, simpan-pinjam, pengolahan makanan, pertanian, dan kerajinan. Bila dilihat dari skala usahanya, kegiatan usaha warga di desa tersebut masuk dalam kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun jika disimak dengan jeli, usaha kecil dan menengah yang berkembang di desa memiliki nilai strategis dalam menggerakan perekonomian desa. Beberapa pengalaman mengajarkan bahwa usaha ini dapat menjadi katup pengaman untuk menyerap ledakan pertumbuhan tenaga kerja desa dimana sektor formal tidak mampu menampungnya.

Salah satu bentuk kegiatan usaha di desa yang mulai ngetren adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). BUMDesa dapat menjadi pendukung bagi usaha-usaha ekonomi yang ada di masyarakat, baik itu dalam bentuk bantuan modal, peningkatan kapasitas UMKM, hingga mengembangkan jaringan pasar. Pembentukan BUMDesa semasa reformasi sudah didukung oleh UU No. 32 Tahun 2004 pasal 213, PP No. 72 Tahun 2005 tentang Desa pasal 78, dan Permendagri No. 39 Tahun 2010 tentang Badan Usaha Milik Desa. Dengan lahirnya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa), maka landasan pendirian BUMDesa semakin kuat. Landasan tersebut dapat dijumpai di BAB X UU Desa dan di Permendes No. 4 Tahun 2015 tentang BUMDesa. Desa dapat membentuk BUMDesa dan beberapa desa juga dapat mendirikan usaha desa bersama dalam BUMDesa antar desa.

Selama masa 2006-20013 sudah berdiri lebih dari seribu BUMDesa yang tersebar di berbagai daerah. Dari sekian banyak ada yang masih berdiri tegak, setengah hidup, atau tinggal namanya saja. Inisiator berdirinya BUMDesa bisa dari pemerintah daerah, dari Pemerintah Desa, atau dari masyarakat. Salah satu kabupaten yang menarik sebagai inisiator berdirinya BUMDesa adalah Kabupaten Bantaeng, karena di daerah ini semua desa sudah memiliki BUMDesa dan berjalan cukup baik. Apa gerangan rahasia Bantaeng mendukung perkembangan BUMDesa di desanya, mari kita ikuti uraian singkat di bawah.

Inisiasi berdirinya BUMDesa di Kabupaten Bantaeng

Kehadiran Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Bantaeng tidak terlepas dari peran masyarakat sipil yang tergabung dalam forum lintas aktor pada tahun 2008. Dimulai dengan pertemuan aktor di Kabupaten Bantaeng pada tanggal 21-24 Oktober 2008 untuk mendorong hadirnya Tata Kepemerintahan Lokal yang Demokratis (TKLD) oleh sebuah program penguatan masyarakat sipil yang didukung oleh AusAID, bernama ACCESS. Pertemuan melahirkan 6 agenda rencana aksi yang salah satunya adalah pengembangan BUMDesa sebagai dukungan ekonomi di desa sekaligus upaya mengentaskan kemiskinan desa. Enam agenda tersebut kemudian disampaikan kepada Bupati, para Kepala SKPD, serta DPRD.

Baca Juga  Pembentukan BUMDesa Bersama

Pertemuan menyepakati dukungan lahirnya BUMDesa di desa-desa di Bantaeng. Dan Bupati Bantaeng melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa/Kelurahan (BPMPD/K) mencanangkan program penguatan BUMDesa. Dalam implementasinya, BPMPD/K menggandeng Jaringmas, sebuah NGO di Kabupaten Bantaeng yang ikut fokus mengembangkan ekonomi desa. Atas komitmen tersebut, kabupaten Bantaeng mengalokasikan sebanyak 445 juta selama periode 2010-2011 untuk sosialisasi, melatih dan mendukung kelembagaan pembentukan BUMDesa.

Program penguatan diawali dengan assessment untuk memetakan kebutuhan peningkatan kapasitas pengembangan BUMDesa. Dari hasil assessment tersebut disusun strategi yang meliputi:

  1. Pembentukan kelembagaan BUMDesa yang dicirikan oleh adanya: Peraturan Desa (Perdes) tentang BUMDesa, Rekening Bank BUMDesa, dan  Akte Notaris BUMDesa.
  2. Pengurus yang memahami kelembagaan BUMDesa serta tugas pokok dan fungsinya masing-masing.
  3. Ada kesekretariatan yang jelas sebagai pijakan untuk melakukan kegiatan dan memiliki aturan main baku (AD dan ART) yang disusun secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat.
  4. Pengurus BUMDesa memiliki pengetahuan dan ketrampilan mengelola usaha serta keuangan.
  5. Pengurus memiliki ketrampilan untuk membangun jaringan dengan berbagai pihak yang memiliki ketertarikan dan kemampuan untuk mendukung kegiatan usaha.

Setelah proses kelembagaan terbentuk dan kepengurusan cukup kuat, maka periode berikutnya BUMDesa didorong untuk mengembangkan usaha-usaha ekonomi yang mampu memberi keuntungan dan bermanfaat bagi warga desa. Strategi ini meliputi:

  1. Menyusun Peta Potensi Ekonomi Desa yang dilakukan secara partisipatif
  2. Menyusun Rencana Kerja Usaha (business plan) BUMDesa sesuai dengan Peta Potensi Ekonomi Desa
  3. Memobilisasi dukungan dari berbagai pihak sebagai sebagai upaya untuk mendapatkan modal kerja dan keberlanjutan usaha BUMDesa.

Berbagai modal untuk memulai usaha dibangun. Diantaranya dari modal desa (APBDesa) dan dari Pemda Bantaeng (APBD). Tercatat kontribusi modal usaha yang diperolah BUMDesa di Kabupaten Bantaeng antara lain:

  1. Dari pemerintah desa tercatat di desa Rapoa membantu modal 18 juta rupiah, desa Kayuloe 7.5 juta rupiah, desa Pabumbungan 40 juta rupiah, sedang desa Bonto Cinde, Bonto Jae dan Bonto karaeng masing-masing 3 juta rupiah. Disamping bantuan modal, Pemerintah Desa juga mendukung kantor sekretariat BUMDesa.
  2. Dari APBD Kabupaten Bantaeng membantu modal 100 juta rupiah per BUMDesa, dimana 20 juta sebagai modal operasional dan 80 juta untuk modal usaha BUMDesa.
  3. Dukungan dari SKPD antara lain: Dinas Perindag mendukung pemasaran UMKM, Dinas Kehutanan memberi kepercayaan BUMDesa Ganting desa Labbo untuk mengelola Hutan Desa, dan Dinas Perhubungan membantu mobil transportasi usaha desa yang dikelola BUMDesa.
  4. Dari luar pemerintahan ada Bank Sulsel dan BI yang mendukung penguatan kapasitas Direktur BUMDesa dalam hal pengelolaan usaha, manajemen usaha, dan keuangan agar supaya BUMDesa mampu membangun kemitraan dengan perbankan.
Baca Juga  Butuh Momen dan Aktor dalam Mendirikan BUMDesa

Capaian BUMDesa

Dalam perjalanannya semenjak September 2009, BUMDesa di Kabupaten Bantaeng memperlihatkan perkembangan yang menarik. Antara lain:

Perkembangan modal BUMDes

bumdes_bantaengDalam grafik laporan 2010-2012, modal 46 BUMDesa menunjukan  pertumbuhan yang menarik. Dalam kurun 2010-2011 asset BUMDesa meningkat dari 3,84 milyar menjadi 4.99 milyar atau naik 3,8 %. Pada akhir 2012, asset BUMDesa lebih dari 4,36 atau naik 9,3 % dari tahun sebelumnya.

Jenis Usaha BUMDesa

Jenis usaha BUMDesa sangat bervariasi. Pada tahun 2011 jumlah unit usaha tercatat ada 86 varian usaha dan pada tahun 2012 menjadi 100 varian usaha. Pertumbuhan unit usaha seiring dengan kebutuhan masyarakat. Meningkatnya unit atau varian usaha berdampak pada semakin banyak tenaga kerja yang tersetap oleh BUMDesa. Varian usaha desa juga member peluang berbagai bakat dan minat tenaga kerja yang tidak mampu diserap oleh sektor formal.

Jenis usaha yang dikembangkan BUMDesa serta jumlah tenaga kerja yang diserap dapat diperhatikan pada table berikut:

No Jenis Usaha Jumlah BUMDesa Jumlah Tenaga Kerja
Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Saprodi 24 42 8 50
2 Jasa Hand Traktor 2 3 3
3 Perdagangan Hasil Bumi 15 15 3 18
4 TOSERBA/WASERDA 5 1 13 14
5 Penjualan Barang Campuran 4 2 39 41
6 Simpan Pinjam 13 17 31 48
7 Usaha Pembuatan Batu Merah 1 1 1
8 Usaha Kayu Bakar Untuk Batu Merah 1 1 1
9 Penyedia Bahan Baku  Batu Merah 1 1 1
10 Peternakan Sapi 1 16 16
11 Usaha Penggemukan Sapi 10 94 3 97
12 Jasa Pembayaran Listrik 5 2 9 11
13 Kios SARABBA 1 1 1
14 Jasa Pemipil  Jagung 1 2 2
15 Usaha Grosir 1 3 5 8
16 Pertukangan 1 1 1
17 Penjualan  Gas LPG 3 KG 1 2 2 4
18 Usaha Pupuk Kompos 2 13 1 14
19 Usaha Dagang Kain Kasur 1 20 34 54
20 Usaha Fotocoy dan ATK 2 1 2 3
21 Usaha Penjualan Air Galon 1
22 Usaha Pakan Ternak dan Rak Telur 2 1 1 2
23 Pengadaan Bibit Jagung 2 2 2
24 Jasa Tata Ria dan Perlengkapan Acara 2 2 4 6
25 Usaha Jasa Air Bbersih 1 2 2
JUMLAH 100 244 156 400

Dari table di atas terlihat bahwa 46 BUMDesa yang lahir di Bantaeng pada tahun 2012 mampu menyerap 400 tenaga kerja, diantaranya 150 perempuan.

Baca Juga  Telah Lahir Forum BUMDes Indonesia, Jembatan Komunikasi AntarBUMDes se-Indonesia

Perkembangan BUMDesa

Penelitian FPPD pada tahun 2013 yang ditulis dalam buku “BUM Desa dan Kultur Jaringan di Bantaeng” memberikan catatan yang sangat menarik. Dari perkembangan usaha pada semester I 2013, ada 5 BUMDesa memperoleh pendapatan di atas 10 juta dan sisanya di bawah 10 juta. BUMDesa yang berkembang diantaranya didukung oleh aset sumberdaya alam yang memadahi. Misalnya saja di desa Bonto Talassa di kecamtan Ulu Ere yang subur berkembang baik petani hortikulturanya, mampu mencatat keuntungan 15,5 juta. Kemampuan memperoleh keuntungan juga didukung oleh kapasitas dan kelincahan pengurus BUMDesa. Desa Kaloling Jaya yang memperolah keunntungan 16,16 juta rupiah pada semester I 2013 didasari oleh kapasitas kewirausahaan yang baik dari direkturnya. Bagaimana keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku usaha tidak diungkapkan dalam penelitian FPPD tersebut.

Sebagian besar yang tidak berkembang adalah yang dipimpin oleh direktur yang masih sangat muda, baru berusia sekitar 20an tahun, sehingga BUMDesa juga menjadi ruang belajar berorganisasi. Ini tantangan yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan BUMDesa yang bertujuan pada profit disamping misi sosialnya.

BUMDes yang bergerak pada layanan masyarakat, seperti layanan air bersih di desa Labbo hanya memperoleh keuntungan sedikit. Namun BUMDesa yang melayani kebutuhan vital masyarakat tersebut berkembang dengan stabil. Keberlanjutan layanan air bersih Labbo didukung pula oleh area konservasi hutan desa seluas 492 Ha yang dikelola oleh BUMDesa. Hasil hutan lain seperti rotan, kopi, dan madu yang sangat berpotensi mendukung ekonomi desa masih dalam tahap rintisan.

Pewacanaan pengembangan BUMDes di Bantaeng memang belum sebanding dengan nilai ekonomi yang dicapai. Tetapi beberapa “sukses kecil” tidak bisa kita abaikan begitu saja, mengingat misi BUMDes bukan di bidang ekonomi semata.

Hasil evaluasi manajemen yang mengacu pada 5 aspek, meliputi: Aspek Manajemen Kelembagaan, Manajemen Usaha, Manajemen Keuangan, Dukungan Pemerintah Desa, serta Jaringan Kemitraan tercatat cukup menggembirakan. Hasil evaluasi menjelaskan: 14 BUMDesa dalam keadaan sehat, 28 BUMDesa dalam keadaan cukup sehat, 4   BUMDesa dalam keadaan kurang sehat. Tidak ada BUMDesa yang dalam keadaan tidak sehat.

Dari evaluasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa modal kelembagaan BUMDesa di Bantaeng sebenarnya sudah cukup baik. Peningkatan kapasitas dalam menyusun rencana usaha dan meningkatkan kreatifitas sehingga BUMDesa benar-benar berkembang dan mampu meningkatkan usaha warga masih perlu ditingkatkan.***

Oleh: Farid H. Jelivan

Tips : Mendirikan dan Mengembangkan BUMDesa

BUMDesa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here