Mengelola Desa Wisata Religi

Mengelola Desa Wisata Religi

Oleh : Catur Nugroho

Dunia wisata selalu berkembang dan menarik untuk dicermati karena sektor ini berpotensi mendongkrak pendapatan negara. Terutama untuk negara-negara yang mengandalkan pariwisata sebagai komoditas unggulan seperti Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara destinasi pariwisata internasional yang harus terus menggali potensi-potensi terbarunya agar bisa unggul dalam bisnis pariwisata.

Daya inovasi insan-insan pariwisata memunculkan jenis-jenis wisata baru. Sebut saja wisata kuliner, wisata belanja dan wisata medis seperti di Singapura atau Penang yang memiliki rumah sakit dengan pelayanan dan fasilitas bertaraf internasional untuk memuaskan para pasien yang berobat di sana. Ada juga wisata pendidikan seperti yang dimiliki negara-negara Eropa, yaitu universitas-universitas dengan bangunan-bangunan tua terawat dan mutu pendidikan yang baik. Wisata ini bukan hanya menumbuhkan minat orang-orang untuk menuntut ilmu, tapi juga mampu menggugah orang untuk jalan-jalan, memanjakan mata dan hati menyusuri lingkungan bangunan universitas yang eksotis, lanskap yang menawan dengan arsitektur bernilai tinggi.

Wisata Religi di Indonesia

Indonesia yang dikenal sebagai salah satu negara dengan keragaman agama dan kekayaan budaya juga memiliki banyak potensi wisata yang bisa dikembangkan. Kemajemukan masyarakat yang terstruktur dalam keragaman agama berpotensi besar untuk digarap dalam sektor pariwisata, yaitu wisata religi. Jika ini dipoles dan dikelola secara khusus dan profesional bukan tidak mungkin akan menjadi sektor wisata khusus yang prospektif. Para pemangku kepentingan di area objek wisata religi, yaitu pemerintah daerah setempat, termasuk desa lokasi wisata religi, pihak swasta, dan masyarakat sekitar area wisata religi harus merespon hal ini secara cepat, bijak dan hati-hati karena menyangkut masalah keyakinan.

Sebut misalnya wisata Ziarah Wali Songo. Kegiatan napak tilas mengenang perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam di nusantara, dengan berkunjung ke situs-situs religius, selalu mendatangkan para jamaah wisata religi dalam jumlah besar. Ziarah Wali Songo situsnya tersebar di delapan kota dan kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Barat, setiap tahun pada acara hari-hari besar agama atau liburan sekolah selalu dipadati wisatawan religi. Beribadah sekaligus berwisata dan berwisata yang bernilai ibadah.

Contoh lain adalah wisata religi Candi Borobudur yang selalu dikunjungi umat Budha dalam jumlah besar baik dari dalam dan luar negeri pada hari Raya Waisak. Juga beberapa Pura baik di Bali maupun di luar Bali, semisal Pura di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang pada hari-hari besar agama Hindu juga selalu ramai didatangi umat Hindu. Bahkan juga dikunjungi wisatawan non Hindu yang ingin menikmati dan mengagumi bangunannya. Contoh lain adalah Goa Maria di Puh Sarang, Kediri, Jawa Timur atau Goa Maria Sendangsono di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang pada hari-hari besar umat Nasrani, selalu dipenuhi oleh pengunjung/wisatawan untuk beribadah. Bahkan, Goa Maria Sendangsono ini juga pernah mendapatkan penghargaan dari Aga Khan Award (Kompas, 17/10/2015).

Potensi Kemakmuran Dari Wisata Religi

Kegiatan-kegiatan ibadah yang sudah teragendakan secara rutin setiap tahun di hari-hari tertentu, harus bisa dioptimalkan untuk menjadi destinasi wisata religi yang menarik. Pemerintah Daerah di desa yang memiliki objek wisata religi, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata, serta masyarakat desa di area wisata religi harus bersinergi untuk mengembangkan wisata religi menjadi wisata alternatif yang berdampak pada kemakmuran desa dan warganya. Dalam setiap kegiatan wisata religi dengan jumlah pengunjung wisatawan yang besar selalu terjadi perputaran uang dalam jumlah besar. Pengeluaran wisata per kunjungan mencapai ratusan ribu rupiah. Biasanya selain biaya retribusi wisata juga dibarengi oleh belanja suvenir khas. Belum lagi jika kunjungan dari wisatawan asing. Potensi kemakmuran inilah yang harus dicapai untuk memakmurkan desa dan warganya.

Mengelola Desa Wisata Religi

Harus diakui, meskipun wisata religi sudah menunjukkan gairah yang tinggi dan potensi ekonomi yang kuat, namun sektor ini belum digarap secara khusus. Wisata religi masih dianggap bagian wisata umum. Mestinya, sektor wisata religi harus dibuatkan promosi khusus, tersendiri dan lain dari yang lain. Semua pihak yang berkepentingan harus mengelola secara profesional wisata religi, seperti pembenahan infrastruktur, pengelolaan destinasi, kemasan produk wisata religi, promosi, pemasaran wisata, transportasi publik dan lainnya. Jika saja, tiap pemerintah daerah mengalokasikan dana untuk promosi wisata religi yang berada di daerahnya, misalnya melalui televisi atau ditayangkan di tempat-tempat publik seperti stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, dan hotel-hotel, niscaya sektor wisata religi ini akan mampu menyumbangkan kontribusi bagi pembangunan dan terutama membawa manfaat kemakmuran bagi desa dan warganya.

Baca juga : Hebatnya Menjadi Desa Wisata

Tips : Merintis Pendirian Desa Wisata

BUMDesa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*