Mencintai Desa Seperti Gombloh

Mencintai Desa Seperti Gombloh

“Lestari alamku, lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa
Damai saudaraku suburlah bumiku
Kuingat ibuku dongengkan cerita 
Kisah tentang jaya nusantara lama…
Tenteram karta raharja di sana
Mengapa tanahku rawan kini
Bukit-bukitpun telanjang berdiri…
Pohon dan rumput enggan bersemi kembali
Burung-burung pun malu bernyanyi”

Petikan lagu berjudul “Berita Cuaca” karya Gombloh di atas seharusnya menjadi lagu wajib tambahan setiap lurah desa di seluruh nusantara. Dinyanyikan setiap pagi, didendangkan setiap senja dan dijadikan lagu nina bobo setiap malam. Terus setiap hari, sejak sebelum menjadi lurah desa, selama menjadi lurah desa dan sesudah menjadi lurah. Dengan kata lain, ini lagu wajib tambahan bagi setiap warga desa.

Gombloh bukan lurah desa dan tak pernah menjadi lurah desa. Ia banyak melewatkan hidupnya di jalanan perkotaan yang keras sebagai pengamen.

Ia menjalani hidupnya di antara asap polusi industri, asap knalpot mobil-mobil yang berseliweran dan sampah-sampah jalanan.

Dengan semua latar belakang itu, Gombloh jelas sangat mencintai desa. Seandainya ia menjadi seorang lurah desa, ia bisa dipastikan akan berjuang menjadi seorang lurah desa yang hebat, yang berjuang meiindungi desanya dari terjangan arus negatif modernisme.

Tak perlu mencari argumen untuk menguatkan dugaan ini. Tak perlu para lurah desa memperdebatkan hipotesa ini. Jika ada lurah desa  yang memperdebatkannya maka otomatis ia menjadi lurah desa yang suka bicara saja. Ini adalah sebuah inspirasi yang jelas-jelas tak perlu diperdebatkan.

Para lurah desa harus bisa dan mau belajar dari siapa saja, termasuk dari seorang penyanyi jalanan yang akhirnya menjadi legenda karena semangat cinta tanah air yang selalu muncul dalam syair-syair lagunya. Para lurah desa tak perlu ragu untuk mengambil pelajaran yang baik dari semua sumber demi tercapainya kemajuan dan kesejahteraan desa.

Demi tercapainya desa mandiri yang berdaulat. Untuk itu, mari pertama-tama kita jadikan “Berita Cuaca” sebagai lagu wajib tambahan.

Selanjutnya, ketika pelajaran dari Gombloh mengkristal di hati para lurah desa, soal-soal mendasar tentang bagaimana memimpin masyarakat desa pasti akan teratasi.

Berbagai contoh kegagalan para pemimpin yang tergoda kekuasaan hingga menghilangkan tanah tempat tumbuhnya harapan rakyat, Insya Allah tak kan terjadi. Para lurah desa akan menyambut keinginan rakyat seperti yang didendangkan Gombloh.

“Kuingin bukitku hijau kembali
semua rumput pun tak sabar menanti
doa kan kuucapkan hari demi hari
dan kapankah hati ini lapang diri…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*