Membangun Jaringan Toko Online Antar-Desa, Peluang Besar

0
1159

BERDESA.COM – Hingga saat ini anggapan umum menyatakan yang terbiasa dengan belanja online hanyalah orang-orang kota dan terpelajar. Padahal, di Indonesia ini pengguna internet sudah mencapai 81 juta orang. Sayangnya, sebagian besar belum optimal memanfaatkan gadget yang pintar ini.

Sebenarnya, bukan orang kota saja yang pintar menggunakan Smartphone. Hampir semua orang di desa sekarang ini, utamanya anak muda, juga sudah menggenggam HP pintar kemanapun mereka pergi. Sayangnya, belum banyak kegiatan produktif yang bisa dilakukan warga desa dengan HP-nya dibanding orang kota. Padahal, sangat mungkin membangun bisnis jual-beli online di desa-desa. Benarkah?

Transaksi online atau jua-beli online sesungguhnya tidak mensyaratkan adanya keahlian tingkat tinggi mengenai teknologi IT atau digital. Artinya, siapapun bisa menjalankan sistem ini dengan tingkatan yang berbeda-beda. Termasuk anak-anak muda di desa. Toko online juga tidak identik dengan website yang megah, berbahasa asing atau foto-foto yang luar biasa untuk menjual produk tertentu. Sebaliknya, toko online bahkan bisa dijalankan tanpa perlu punya website dan hanya dengan mengandalkan media sosial seperti Facebook dan Instagram. Bukankah banyak anak muda yang terbukti sukses hanya dengan modal handphone?

Baca Juga  Pembentukan BUMDesa Bersama Pasca PNPM

Jual Beli online di Desa

Jaringan online media sosial sesungguhnya hanya sebuah cara modern untuk menggantikan proses pertemanan yang biasanya dilakukan secara konvensional. Coba saja Anda ingat, pertemanan sebelum adanya Facebook, Instagram, WA dan lain-lain adalah dengan selalu bergaul dan berkumpul. Sebagai kegiatan sosial cara itu masih efektif dilakukan semua orang hingga hari ini. Tetapi untuk kepentingan bisnis, pola bertemu dengan rekan bisnis, calon pembeli dan berbagai transaksi, kini sudah bisa diwakili oleh media sosial.

Sebenarnya berjualan produk dengan menggunakan media sosial juga sudah dilakukan banyak anak muda di desa. Tetapi polanya masih menggunakan pola konvensional yakni memajang produk dan berbagai konten penawaran dan berharap siapapun yang menengok halamannya akan tertarik dan melakukan kontak pribadi pada si penjual. Cara ini meski dianggap paling umum sudah terbukti efektif menjual produk. Tetapi biasanya terbatas hanya pada produk tertentu seperti fashion, gadget dan sebagainya. Bagaimana dengan produk desa umumnya seperti hasil pertanian, perikanan atau makanan desa?

Maka sebenarnya media sosial bisa diarahkan menjadi ruang bertemunya warga antar-desa, antar RT dan antar kumunitas misalnya petani sayur dan sebagainya. Jaringan ini harus dikelola secara profesional dengan aturan main dan batasan-batasan tertentu. Misalnya, membatasi area para anggota komunitas karena produk warga desa umumnya tidak bisa diperjual-belikan secara online untuk jarak jauh dan pengiriman yang butuh waktu berhari-hari. Misalnya, bagaimana cara mengirim lele dumbo segar 10 kilogram dari Gunungkidul ke Bengkulu. Sulit kan?

Baca Juga  Terobosan, Usdes Kerjasama dengan Danakoo Datangkan Investasi ke Desa

Maka bangunlah komunitas antar desa melalui media sosial dan buatlah daftar produk pada laman-lamannya. Semua anggota komunitas adalah produsen, penjual dan pembeli sekaligus. Pusat informasi ini harus dikelola tim khusus berisi anak-anak muda. Kenapa anak muda? Karena akun media sosial harus juga dijaga agar selalu hidup dengan menyajikan konten-konten menarik sekaligus mendidik.

Tim ini juga akan melakukan perluasan jumlah dan area keanggotaan secara bertahap. Jangan kawatir, orang-orang dari desa yang jauh pun tidak masalag untuk menjadi anggota, hanya saja harus diberi pemahaman, untuk melakukan transaksi disana harus berpikir beberapa kali. Soalnya, itu adalah forum komunitas warga yang area tempat tinggalnya berdekatan sehingga transaksi kecil pun tetap bisa dijalankan. Misalnya, belanja sayur, tak mungkin kan membeli sayur hanya untujk kebutuhan makan keluarga dari provinsi yang berbeda. Tetapi di forum ini hal itu menjadi mudah, paling tidak para penjua sayur bisa mempromosikan warung mereka sekaligus menunjukkan letak warungnya pada anggota komunitas. Jangan salah, sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu ada warung atau produk apa saja di RT atau desa tetangga kita sendiri. Ya kan?

Baca Juga  Pemanfaatan Teknologi eDagang (ecommerce) Bagi BUMDes dan UKM Desa

Melibatkan Aparat Desa dan Tokoh Desa

Sesungguhnya ini bukan hal yang sulit dijalankan. Toh semua orang sudah mengenal media sosial dan sangat paham bagaimana mengoperasikannya. Masalahnya adalah karena tidak ada orang atau tim (sebaiknya anak-anak muda) yang mau mengelolanya secara serius. Sebagian besar dari kita justru berpikir terbalik, menggunakan media sosial untuk mencari teman-teman dari wilayah yang jauh. Alhasil, tak banyak yang bisa dihasilkan dari pertemanan itu selain hanya saling mengenal, tak kurang tak lebih.

Para tokoh kampung dan perangkat desa adalah beberapa pihak yang bisa memberi semangat dan dukungan pada anak-anak muda yang berkeinginan membangun jaringan beli online antardesa ini. Mereka adalah para panutan dan pemberi arah sosial bagi lingkungan kampung di desa, maka dukungan mereka bakal memberikan semangat bagi anak-anak mudanya. Jadi, kenapa tidak? (aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here