Mandiri Craft: Terus Bangkit Bersama Disabilitas

Mandiri Craft: Terus Bangkit Bersama Disabilitas

Tidaklah mudah untuk berjuang di usaha kerajinan di tengah banjir barang kerajinan dari negeri seberang dengan harga yang jauh lebih murah. Usaha Mandiri Craft didirikan oleh seorang disabilitas bernama Slamet, alumni Ilmu Sosial, Fakultas Sosial Quckland, University New Zealand, Australia. Slamet memutuskan untuk kembali ke Indonesia setelah meyelesaikan pendidikannya. Slamet lalu bergabung di Yayasan Kristen untuk Kesejahteraan Umum (Yakkum), Yogyakarta. Mencoba mendapatkan pendidikan keterampilan yang diajarkan Yakkum, menjadi modal keterampilan yang kini menjadi usahanya. Empat belas tahun Slamet bergabung di Yakkum dan sempat menjadi Manager Yakkum.

Tahun 2006 gempa bumi mengguncang Jogjakarta. Usaha Mandiri Craft yang sudah terbangun, runtuh akibat gempa. Gedung, barang-barang kerajinan yang sudah siap dipasarkan, dan aset perusahaan lainya rusak tertimpa bangunan gedung. Membuat usaha ini sempat hampir gulung tikar. “Gedung runtuh, mesin-mesin rusak. Kurang lebih selama tujuh bulan kita berhenti usaha,” kenang Slamet.

Kejadian tersebut sempat membuat Slamet terpuruk. Banyak karyawannya diberhentikan sementara. Satu tahun dalam keterpurukan, Mandiri Craft lalu mencoba menyusun puing-piung semangat untuk terus berdiri. Mendapatkan bantuan dana internasional dari Federasi Palang Merah Internasional, Federasi Bulan Sabit Merah dari Malaysia, Netherland Red Cross, Handycap Internasional Prancis, dan Rumah Bambu membuat usaha ini perlahan bangkit dari keterpurukan.

Mandiri Craft kini sudah bisa bangkit dari keterpurukannya. Dengan membuat produk mainan edukatif seperti puzzel, mobil-mobilan kayu, buah-buahan frame, kotak tisu, dan kotak perhiasan. Kerajinan yang dibuat Mandiri Craft sempat tembus pasar ekspor ke Jepang. Bahan produk yang dibuat juga aman untuk dimainkan. “Bahan baku kita dari Jawa Tengah, untuk standara bahan cat kita udah lolos uji coba kualitas bahan kok. Hasilnya, kita lolos,” ujarnya.

Kini Mandiri Craf mempunyai 52 karyawan tetap yang semuanya merupakan penyandang disabilitas. Tunadaksa dan tunarungu lah yang mengelola usaha Mandiri Craft. Mulai dari proses produksi hingga pemasaran barang mereka yang melakukannya. Penyandang disabilitas yang bekerja diberikan fasilitas yang cukup memadai dari Mandiri Craft. “Untuk makan, tidur kita semua sediakan. Kita fasilitas lah buat mereka, terkadang ada fee lebih untuk kerja mereka diluar jam kerja,” papar Slamet.

Omzet perbulan yang bisa mencapai 100 juta perbulan. Mampu membayar 52 karyawan hampir setara dengan Upah Minimum Regional Jogjakarta. “Ya, gaji mereka 800ribu lah. Kalau sedang overtime pesanan barang sedang banyak. Bisa sampai 2juta,” jelasnya.

Dengan luas lahan 3000 meter, Mandiri Craft membaginya menjadi beberapa tempat untuk ruang produksi, pameran karya, dan tempat istirahat untuk para karyawannya. Mandiri Craft berharap dengan usahanya yang perlahan mulai berkembang kembali. Mandiri Craft tidak hanya mempekerjakan 100% penyandang disabilitas, tapi juga ingin membangun sebuah tempat pelatihan bagi siapa saja yang ingin mencoba membuka usaha kerajinan.

“Kita pernah mendapatkan penghargaan dari Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dalam hal perusahaan yang sukses mempekerjakan disabiliatas,” ujar Slamet. Tentunya ini menjadi bukti nyata, bahwa penyandang disabilitas juga mampu bekerja dan memberdayakan sesamanya lewat perusahaan yang sukses. “Kita harus memahami diri sendiri, kalau masih belajar harus ditekuni dan harus berusaha. Selama fisik kita masih kuat, lakukanlah yang terbaik, kita gak boleh ketergantungan dengan orang lain. Kita juga harus bisa membantu sesama dan terus berjuang,” papar Slamet menutup perbincangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*