Mainan Kayu Kreatif dari Selatan Jogjakarta

Kajeng - Mainan Kayu Kreatif

Mandar (51), perajin mainan dari kayu (pemilik Kajeng handycraft) di Dusun Kweni RT 01, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul merupakan salah satu pelopor mainan edukatif dan ramah lingkungan, berbahan baku dari limbah kayu mebel. Usahanya dirintis sejak 1994, Awalnya, Mandar menjual hasil karyanya sebagai pedagang kaki lima di depan benteng Vredeburg sekembalinya ia ke Yogyakarta setelah beberapa tahun merantau di Jakarta.

Di tempat inilah Mandar bertemu dengan Mr. Made Gracia, warga Prancis, seorang pemilik galeri di Prawirotaman. Ia memberikan kartu namanya dan meminta bertemu beberapa hari kemudian. Pada pertemuan itu, Mandar diberi potongan-potongan produk dan ia diminta merakit kembali ke bentuk semula.

Mandar tidak berhasil dan mengembalikan benda tersebut ke pemiliknya, namun ia diminta membuat dengan meniru potongan-potongan tadi. Setelah empat kali dibuat dan semuanya ditolak, Mandar diberitahu seseorang bahwa bentuk jadi tersebut adalah bola. Mandar kembali mencoba dan berhasil, kemudian menunjukan pada Gracia sudah dalam bentuk jadi.

Pesanan Pertama

Pesanan pertama dari Gracia tahun 1996 sebanyak 1000 buah dengan harga Rp.2.300 untuk jangka waktu 1 bulan. Setelah dipenuhi, kembali dipesan 6000 buah selama 6 bulan dan seterusnya diminta tetap memproduksi dan menyetor padanya. Pada tahun 1997 produknya diliput televis. Dari hasil liputan tersebut Mandar kebanjiran orderan. Hingga pada tahun 2000 Kajeng meraih kejayaan dan memiliki 200 karyawan.

Ada jenis mainan yang unik, salah satunya adalah bola rugbi. Jenis ini dulunya adalah tantangan dari Carlos, warga Australia yang memesan mainan dalam bentuk bola rugbi. Mandar bisa menyelesaikan tantangan tersebut dan Carlos pun memesan 5000 mainan jenis ini. Namun terjadinya krisis ekonomi Eropa berdampak signifikan terhadap industri ini. Saat ini Kajeng hanya mempunyai 12 karyawan meliputi bagian produksi sampai finishing dan terus bertahan di era mainan plastik yang kian menjamur.

Sampai sekarang bahan baku Kajeng tetap memakai 2 jenis yaitu kayu dan kelapa, tempat produksi ada di Cepit, Imogiri, Sanden dan mangir untuk produksi kelapa dan Srumbung, Tempel untuk produksi puzzle-nya.

Perbedaan Produk

Produk Kajeng merupakan produk handy craft atau buatan tangan ini memang tidak menutup kemungkinan dikerjakan dengan mesin. Namun sentuhan tangan merupakan sebuah seni yang tidak bisa diberikan oleh mesin, sehingga sampai sekarang masih mempertahankan pembuatannya dengan tangan. Berbeda pada mainan umumnya, Kajeng craft menggunakan bahan baku dari limbah mebel atau kayu sisa pabrik dimana ramah lingkungan dan tentunya memiliki nilai edukatif. Jenis mainan yang diproduksi ada sekitar 150 dimana masing- masing memiliki tingkat kesulitan tersendiri, mulai dari TK sampai tingkat Profesor. Adapun paket mainan yang dijual belikan mulai dari paket TK, SD, SMP/A dengan harga Rp. 250.000/paket.

Baru sedikit dari masyarakat sekitar yang melirik mainan jenis ini, dikarenakan kebanyakan masyarakat lebih memilih mainan yang menyenangkan seperti game dan sedikit yang berorientasi kepada manfaat pada mainan yang diberikan pada anaknya. Di negara Turki, jenis mainan ini sudah dijadikan kurikulum SD.

Tantangan Marketing

Persaingan produk mainan jenis ini di dalam maupun luar negeri memang masih minim atau bisa dibilang belum ada karena tingkat kesulitan membuat jenis mainan ini dan sumber daya yang bisa membuat mainan jenis ini. Namun untuk krisis global seperti krisis eropa pada tahun 2010 sangat berdampak pada permintaan hingga berkurangnya penjualan sebesar 70-80% dari penjualan normal. Oleh karena itu kajeng juga menggunakan media informasi terkini seperti website, whatsup dan sejenisnya untuk memasarkan produknya, dan promosi ke sekolah-sekolah di Bantul. Kepercayaan antara buyer dan Kajeng adalah kunci sampai sekarang industri handycraft ini masih bertahan. Tantangan yang bersifat umum adalah rendahnya pemahaman masyarakat Indonesia tentang pentingnya mainan yang bernilai edukatif ditambah kurang cinta terhadap buatan negeri sendiri.

2 Komentar

  1. Bisnis mainan edukatif merupakan bisnis yang cukup menjanjikan, seperti halnya yang dialami bapa Mandar. Selain memberikan manfaat positif bagi anak-anak, mainan edukatif kayu pun mampu memberikan pemasukan rupiah bagi penguasahanya. Permasalahn yang dihadapi saat ini adalah permodalan dan pemasaran serta sertifikasi SNI yang sangat sulit untuk mendapatkannya.

    Semoga artikel di atas mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat indonesia akan manfaat dari mainan kayu ini dan peluang dibalik usahanya.

    Terima kasih

    Balas
  2. Artikel di atas memberikan inspirasi bagi kita akan peluang usaha dari kayu seperti ini, dengan menggunakan bahan limbah mebeul tapi mampu menembus pasar global. Apresiasi yang sangat luar biasa untuk Bapak Mnadar dengan puzzle kajengnya.
    Semoga masyarakat indonesi sudah mulai terbuka dengan manfaat dari Mainan edukatif kayu yang kaya akan manfaat ini. Sehingga bisnis UKM Indonesia akan meningkat.

    Terima kasih atas artikel yang memotivasi dan penuh inspirasi ini.
    Salam sukses untuk http://www.berdesa.com dan bapak Mandar.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*