LEMS di Sulteng, Sudah Berkiprah Sebelum BUMDes Membahana

0
227

Berdesa.com – Jauh hari sebelum UU Desa lahir warga Kolaka, Sulawesi Tenggara telah mendirikan lembaga masyarakat berbasis kekuatan warga desanya sendiri. Namanya Lembaga Ekonomi Masyarakat  Sejahtera (LEMS). Pegiat LEMS adalah para pemuda desa yang gigih mendorong warga mengembangkan potensi desanya seperti Kakao yang menjadi komoditi unggulan di Kolaka. Dalam beberapa tahun saja beragam usaha muncul di desa. Beberapa desa bahkan sedang membangun pabrik cokelat batangan yang siap menyerbu pasar. Bahan baku cokelat yang melimpah diharapkan bakal bisa memasuki pasar lebih luas dengan dolah menjadi bentuk batangan, bubuk dan pasta.

Jadi, sebelum wacana BUMDes membahana di setiap penjuru desa se-Indonesia, warga Kolaka sudah mengembangkan kewirausahaan desa mereka sendiri dengan berbasis potensi terbesar desanya. Karena sebagian besar adalah petani Kakao maka komoditi inilah salahsatu yang terus mereka dorong untuk mengembang.

LEMS melalui para pegiatnya terus melakukan kerja penyadaran pada warga desa petani kakao agar bisa menciptakan nilai tambah pada hasil pertanian kakao mereka. Salahsatunya menunjukkan pada para petan potensi menjual kakao dalam bentuk fermentasi. Kakao fermentasi adalah kakao yang telah diolah sehingga tidak lagi dalam bentuk mentah. Selama ini para petani menjual kakao-nya dalam bentuk mentah karena bisa mendapatkan duit lebih cepat.

Baca Juga  Dibutuhkan 38 Tenaga Pendamping Kawasan Pedesaan

Kelemahan menjual kakao dalam bentuk mentah atau belum diolah adalah ada banyak yang keluar dari timbanan karena dianggap tidak memenuhi kualifikasi. Lubis, salahsatu pengurus LEMS di Desa Koroha mengungkakan, setiap menjual 100 kilo buah kakao maka 30 kg bakal tersortir tidak masukk timbangan. “ Kalau melalui fermentasi maka hampir semua biji kakao bakal terolah jadi hampir tidak ada yang terbuang,” katanya kepada Berdesa.com pekan lalu.

Selain mengajarkan berbagai strategi menciptakan nilai tambah produk lokal, LEMS juga membantu pemerintah daerah melakuka distribusi pupuk bersubsidi sehingga pupuk berhasil sampai ke tangan para petani sesuai peruntukkannya. Bukan rahasia lagi, selama ini seringkali bantuan pemerintah bukannya sampai ke tangan warga desa yang membutuhkan tetapi malah nyasar kepada kelompok tertentu saja.

Tetapi bukan itu saja yang dilakukan LEMS. Beberapa tahun ini LEMS juga membantu masyarakat Kolaka terlepas dari praktik renternir yang selama ini mencekik leher ara petani. Caranya, LEMS menjalankan koperasi simpan pinjam dengan bunga hanya 2 persen. Bayangkan, selama ini para petani terpaksa harus meminjam dengan bunga 20 persen pada para tengkulak. Akibatnya, selama bertahun-tahun para petani tidak pernah beranjak situasi ekonominya.

Baca Juga  Kenapa Laporan Keuangan BUMDes Begitu Penting?

Saat ini LEMS sedang berkonsolidasi untuk bisa bersinergi dengan BUMDes di desa-desa di Kolaka. Soalnya, BUMDes memiliki daya dukung modal dan mendapat support yang kuat dari pemerintah sementara lebih digerakkan oleh semangat desa membangun dan mendapat support dari lembaga-lembaga non pemerintah.

Terepas dari apa yang akan dilakukan LEMS, prakarsa sosial pembentukan LEMS adalah fakta yang menunjukkan betapa warga desa dan wilayah-wilayah yang selama ini luput dari perhatian khalayak ternyata memiliki semangat membangun yang luar biasa dan ini adalah pelajaran menarik bagi daerah lain.(aryadji/berdesa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here