Langsung ke Desa. Begitu Cara Usdes Melatih Pengurus BUMDes (BUMDes Academy 19)

Langsung ke Desa. Begitu Cara Usdes Melatih Pengurus BUMDes (BUMDes Academy 19)

BUMDes Acedemy 19 – Berbeda dengan BUMDes desa lain yang sibuk merancang usaha besar, sejak awal berdiri 2016 lalu BUMDes Amarta, Desa Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, punya  strategi berbeda dalam membangun usaha. Idenya sederhana, unik tapi mengena dan sanggup menggugah partisipasi warga desa. Ituh sebabnya BUMDes ini jadi langganan kunjungan desa lain yang sedang berlatih membangun BUMDes di kampungnya.

Seperti pelatihan yang digelar PT Usaha Desa Sejahtera (pengelola www.berdesa.com), akhir Maret lalu. Rombongan peserta Pelatihan BUMDes dari Bandung, Riau, Cilacap dan Jepara, mengunjungi BUMDes Amarta untuk menimba ilmu manajemen organisasi BUMDesa di Desa Pandowoharjo ini.

Kunjungan ke desa yang telah berpraktik baik dalam pengelolaan BUMDesa adalah salahsatu menu pelatihan yang masuk dalam Program BUMDes Academy PT Usaha Desa Sejahtera (Usdes). BUMDes Academy adalah departemen khusus yang dikembangkan Usdes. BUMDes Academy adalah program pendidikan berupa pelatihan dasar, menengah dan lanjut dengan tahap yang berbeda dengan materi yang telah disesuaikan dengan potensi lokal desa peserta. BUMDes Academy menjamin, setiap peserta bakal pulang dengan menggenggam rencana aksi bagi pengembangan BUMDes-nya.

Di Pandowoharjo para peserta mengikuti penjelasan Direktur BUMDes Agus Setyanta sejak mulai Pra Musyawarah Desa. Sejak awal Pandowoharjo memang menjalankan proses pendirian BUMDes dengan runut dan rapi. Bahkan seluruh proses rapat dicatat dalam sebuah buku besar hari dei hari dan telah menjadi semacam ‘kitab’ petunjuk bagi desa-desa dari berbagai belahan nusantara yang datang dan belajar ke desa ini.

Baca Juga  Begini Cara Mengganti Direktur BUMDes

Awalnya, Pandawa melahirkan unit pengolahan sampah. Kenapa sampah, karena sampah adalah masalah semua pemukiman dan tak bisa diselesaikan oleh individu. Pertimbangan lainnya praktis saja, karena desa ini memiliki bangunan mangkrak yang siap pakai sebagai tempat pengolahan sampah. Direktur BUMDes Amarta Agus Setyanta membuktikan, dalam tiga bulan, usaha pengolahan sampai sudah bisa merekrut tenaga kerja dan membiayai sendiri seluruh operasionalnya. Bulan-bulan berikutnya bahkan sudah melahirkan laba.

Beberapa bulan kemudian Amarta mengumumkan diri sebagai penghasil pupuk organik. Selain memanfaatkan sampah yang masuk, pupuk ini juga dijual dan para pegawai unit usaha pengolahan sampah mendapatkan komisi dari setiap kilo pupuk yang mereka buat dan jual. Hasilnya, kini Amarta menjual 4 ton sampah organik setiap bulan.

Beberapa minggu kemudian Amarta mendirikan toko souvenir kecil di tempat parkir restoran besar di desa ini. Hasilnya, beragam karya unik berbahan daur ulang laris diserbu pembeli. Batik desa ini juga mulai dikenal dan disukai banyak kalangan. Dalam waktu singkat Amarta sudah bergandengtangan dengan beberapa warung tradisional untuk menyebarkan berbagai produk kebutuhan dasar warga dengan harga murah.

Uniknya, seluruh kegiatan Amarta, termasuk perputaran uangnya, dipajang di tembok kantor BUMDes-nya. Jadi, sejak awal BUMDes yang satu sudah menerapkan prinsip transparan.  Semua orang dengan leluasa bebas memelototi angka demi angka serta penjelasan berbagai kegiatan di kantornya yang berada satu komplek dengan tempat pengolahan sampah. Apakah kantornya tida diserbu lalat dan aroma sampah yang bisa bikin perut jadi mules itu? Tidak sama sekali.

Baca Juga  BUMDesa Bikin Simpan-Pinjam, Kenapa Tidak?

Silakan buktikan sendiri, meski tempat berkumpulnya sampah tetapi tempat ini tidak prnah disambangi kerumunan lalat. Kok bisa? Karena sirkulasi sampah yang cepat datang dan pergi dalam hitungan jam. Beberapa rombongan studi banding yang datang ke tempat ini bahkan sampai bertanya, bagaimana caranya menghalau lalat yang hobi berat beterbangan di anatara sampah itu.

Grafik usaha yang terus meningkkat membuat BUMDes ini banyak mendapat tawaran kerjasama dari pihak ke-3. Tapi lagi-lagi, Budi Setyanta dan tim manajemen tidak gampang tergiur oleh modal dana, apalagi dana pinjaman. Mereka malah tertarik dengan lahan milik desa yang ada di belakang tempat pengolahan sampah mereka. Memiliki luas lebih dari 1000 meter, lahan yang tadinya semak dan rerumputan itu disulap menjadi kebun organik.

Beragam sayur ditanam di sini mulai tomat, terong, cabe, bayam merah dan berbagai sayur lainnya. Kebun ini dikelola rombongan ibu-ibu yang menciptakan jadwal bergiliran mengurus kebun mulai dari menyiangi rumput, merawat tanaman hingga memanennya. Hanya dalam beberapa bulan juga kebun organik ini langsung kondang ke se-antero desa bahkan desa-desa lainnya.

BUMDes Amarta lalu menggelar panenan dan berencana membuka lapak di pinggir lapangan desa untuk menjual sayur-mayur hasil kebun yang dikelola secara organik termasuk menggunakan pupuk organik ‘made in’ Amarta. Hasilnya, belum sempat lapak dibuka sayur-mayur itu sudah ludes diborong warga yang berduyun-duyun membeli sayur nan sehat itu. .

Baca Juga  Membangun BUMDes Kuat Perkasa

Partisipasi masyarakat adalah tujuan prioritas BUMDes ini pada masa awal hingga sekarang.” Kami ingi membuktikan lebih dahulu, jika dikelola dengan manajemen yang baik, maka kapasitas usaha yang kecil-pun bisa menciptakan efek yang besar. Saat ini kami mulai mengembangkan usaha ke sektor yang lebih luas dengan skala yang lebih besar,” kata Agus Setyanta. Salahsatunya, saat ini Amarta dan pemerintah desa sedang membangun pasar organik di area strategis pinggir jalan besar.

Selain menggelar beragam sayur organik secara berkala, tempat ini juga bakal menjadi wisata kuliner desa ini. “ Kami sedang melakukan pendataan, produk desa apa saja yang bisa kami jual di pasar ini. Soalnya, kami masih kerepotan memenuhi permintaan pasar saat ini, butuh jaringan produk lokal yang besar untuk menjalankan pasar ini,” kata Agus.

Dalam melahirkan sebuah usaha, Amarta bakal melakukan riset dengan caranya sendiri dulu. Scaling up (meningkatkan besaran kapasitas) kemudian. “ Jadi reiko-nya lebih kecil denganbiaya yang jauh lebih terukur. Pioritas kami sejak awal sampai sekarang masih pada manfaat sosial dan partisipasi. Setelah itu kami baru akan menciptakan usaha dengan kapasitas modal dan target profit yang lebih besar. Dengan catatan, telah tercipta pula partisipasi sehinggawarga desa memiliki akses dan kemampuan untuk mendukung gerakan usaha BUMDes ini,” ujar Agus.(aryadji/berdesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*